Waspada! Daging Sapi Dicampur Daging Babi

663
Pesona Indonesia
Tim Polda Jatim menunjukkan barang bukti daging sapi dicampur daging babi yang dijual seorang pedagang di Surabaya, Kamis (26/5/2016). Foto: http://beritatv.com
Tim Polda Jatim menunjukkan barang bukti daging sapi dicampur daging babi yang dijual seorang pedagang di Surabaya, Kamis (26/5/2016). Foto: http://beritatv.com

batampos.co.id – Ada saja pedagang yang nakal mencampur daging sapi dengan daging babi dengan harapan bisa mengeruk keuntungan berlipat. Masyarakat, khususnya umat Islam diharapkan lebih waspada, apalagi jelang puasa Ramadan.

Bisnis haram mencampur daging sapi dengan babi itu berhasil dibongkar tim Subdit Perindustrian, Perdagangan, dan Investasi (Indagsi) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim yang menggandeng Dinas Peternakan Jatim, di Surabaya, Kamis (26/5/2016).

Polisi menangkap Sariyah, penjual daging sapi bercampur babi di Pasar Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan (LKMK) Semolowaru. Janda 52 tahun itu menjalankan usaha tersebut seorang diri.

Pengungkapan kasus itu berawal dari informasi adanya upaya pedagang yang memanfaatkan melonjaknya harga daging sapi untuk mengambil keuntungan berlipat.

”Caranya mencampurkan daging sapi dengan daging babi,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombespol R.P. Argo Yuwono, seperti dilansir JawaPos.com (grup batampos.co.id).

Informasi tersebut kemudian ditelusuri dengan mengecek sejumlah pasar tradisional. Salah satunya Pasar LKMK Semolowaru. Pengecekan secara tertutup itu dilakukan dengan cara penyamaran.

Senin (23/5/2016) lalu polisi berpura-pura menjadi pembeli daging di Pasar LKMK Semolowaru. Sasarannya adalah lapak milik Sariyah. Daging sapi seberat 1 kilogram yang telah dibeli langsung diuji di laboratorium Dinas Peternakan Jatim.

Hasilnya cukup mencengangkan. Daging sapi ternyata hanya sepertiganya. Sisanya adalah daging babi. Ingin meyakinkan hal itu, polisi kembali membeli di lapak Sariyah keesokannya.

Setelah diuji laboratorium, hasilnya masih sama. Petugas kemudian menangkap Sariyah pada Rabu pagi (25/5/2016).

Cara Membedakan Daging babi dengan daging sapi. Foto: istimewa
Cara Membedakan Daging babi dengan daging sapi. Foto: istimewa

Penangkapan tersebut dilakukan dengan cara membuntuti perempuan yang hidup menjanda itu sejak berangkat dari rumah.

Sariyah mengendarai becak ke Pasar Jagir Wonokromo untuk membeli daging sapi dan babi sekaligus. Polisi juga mengamati ketika dia mencampurkan daging setibanya di pasar tempatnya berjualan.

Setelah ada pembeli, polisi menangkapnya. Petugas menyita 16 kilogram daging yang sudah dicampur. ”Pembeli sama sekali tidak mengira kalau itu daging sapi yang sudah dicampur dengan daging babi,” ucap Argo.

Dalam pemeriksaan terungkap bahwa Sariyah ingin mereguk keuntungan berlipat. Dia membeli daging babi seharga Rp 70 ribu per kilogram.

Daging sapi dibelinya dengan harga Rp 92 ribu per kilogram. Semuanya dibeli di Pasar Jagir Wonokromo kepada dua pedagang yang berbeda.

Daging tersebut kemudian dicampurkan dengan komposisi daging babi lebih banyak ketimbang daging sapi. Perbandingannya 30 persen daging sapi dan 70 persen daging babi.

Daging campuran itu kemudian dijual berlabel daging sapi dengan harga Rp 96 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram. Padahal, di pasaran harga daging sapi mencapai Rp 110 ribu per kilogram.

Argo mengatakan, Sariyah dijerat dengan pasal 140 jo 86 ayat 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pangan.

Selain itu, dia dijerat pasal 62 ayat 1 dan 2 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

”Ada juga pasal 91 a undang-undang tentang peternakan dan kesehatan hewan,” jelasnya.

Dalam pemeriksaan, Sariyah mengaku sudah menjalankan usahanya selama setahun.

Kasubdit Indagsi AKBP Ruruh Wicaksono menambahkan, dalam sehari Sariyah mampu menjual hingga 20 kilogram daging campuran itu. Semuanya dijual kepada konsumen yang sudah berlangganan cukup lama.

Perwira dengan pangkat dua melati di pundak itu mengatakan, Sariyah cukup rapi dalam menjalankan usaha haramnya agar tidak ketahuan.

Caranya, tersangka membeli daging babi dan sapi secara sembunyi-sembunyi. ”Dia tidak datang langsung ke lapak penjual daging sapi dan babi meski sudah di Pasar Jagir,” ucapnya.

Awalnya, tersangka berkenalan dengan penjual daging babi dan sapi. Setelah itu, mereka bertukar nomor telepon.

Saat kulakan, Sariyah cukup menelepon para pedagang tersebut. Dia meminta mereka mengirim daging sesuai permintaan ke depan Pasar Jagir.

Pembayaran pun dilakukan di depan pasar. Dengan begitu, di kalangan para pedagang di pasar tersebut, nama Sariyah jarang dikenal.

”Kalau ada yang kulakan daging babi dan sapi, pasti dicurigai. Sariyah berusaha menghindari itu,” imbuhnya.

Saat berjualan di lapak, Sariyah menggantung daging sapi dan babi dalam potongan besar secara acak. Tujuannya mengaburkan perbedaan warna dan tekstur dua daging tersebut.

Ketika ada pembeli, dia mengambil daging sapi dalam jumlah kecil dan menambahkan daging babi dalam jumlah yang lebih banyak.

Ruruh menduga masih ada pedagang lain yang juga menjalankan praktik seperti Sariyah. Saat ini Polda Jatim masih menyelidiki aktivitas para pedagang nakal tersebut.

”Kalau ditemukan, pasti diproses hukum. Itu sangat merugikan pembeli,” jelasnya.

Mantan Kasubdit Renakta Polda Jatim itu mengatakan, penjual daging babi pernah diperiksa Polrestabes Surabaya saat pengungkapan kasus yang sama sebelumnya.

Hanya, penjual daging tersebut tidak bisa dijerat hukum karena dia tidak membohongi pembeli.

Sementara itu, drh Nuria Ulfah, staf medik veteriner Dinas Peternakan Jatim, meminta masyarakat berhati-hati dalam membeli daging sapi.

Dia menyarankan pembelian daging dilakukan saat siang dengan cahaya terang. Tujuannya mengetahui warna dan tekstur daging secara jelas.

”Hindari membeli daging dengan harga di bawah pasaran. Kalau ada, berarti patut dicurigai,” ujarnya. (eko/c6/fat/sep/JPG)

Respon Anda?

komentar