RSUD Karimun Sudah Jadi BLUD, Mutu Pelayanannya Harus Meningkat

738
Pesona Indonesia
RSUD Karimun kini berstatus  Badan Layanaan Umum Daerah (BLUD). foto:tri haryono/batampos
RSUD Karimun kini berstatus Badan Layanaan Umum Daerah (BLUD). foto:tri haryono/batampos

batampos.co.id – Sejatinya, keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karimun, sangat membantu masyarakat Kabupaten Karimun yang ingin melakukan perobatan. Apalagi manajemen RSUD Karimun telah berubah menjadi Badan Layanaan Umum Daerah (BLUD). Sehingga, pelayanan kesehatan harus benar-benar ditingkatkan terutama dalam pemberian obat-obatan terhadap pasien.

”Secara umum, sudah bagus pelayanan RSUD Karimun. Namun, harus lebih ditingkatkan menuju kemandirian. Artinya RSUD Karimun yang sudah menjadi BLUD bisa mengelola anggarannya sendiri dan menentukan berapa kebutuhan obat-obatan di RSUD yang tidak perlu lagi menunggu ketok palu APBD Karimun, ” kata Ketua Komisi II DPRD Karimun, M Yusuf Sirat, Jumat (27/5).

Sekarang RSUD Karimun sudah ada dokter spesialis jantung. Ini berarti keseriusan RSUD Karimun, dalam meningkatkan pelayanan kesehatan telah dibuktikan. Namun, harus didukung dengan peralatan medis sebagai pendukung pemeriksaan terhadap penyakit jantung.

”Nah, disinilah tantangan pemerintah daerah bagaimana untuk mewujudkan penambahan peralatan jantung. Agar, pasien tidak lagi untuk keluar daerah dalam pengecekan jantung,” ungkapnya.

Sementara RSUD Karimun sendiri, tidak mampu untuk membeli peralatan tersebut. Bahkan, untuk biaya renovasi berat RSUD saja menjadi kendala hingga saat ini. Seperti perbaikan gedung, AC central, life maupun fasilitas bangunan lainnya. Dengan demikian, peranan pemerintah daerah sangat di butuhkan.

”Intinya, belanja modal dan aset harus tetap dibantu oleh Pemda Karimun. Dengan demikian, dapat meminimalisir rujukan ke luar daerah untuk perobatan lanjutan,” kata Yusuf lagi.

Terpisah Kabid Pelayanan RSUD Karimun, dr Suharyanto saat dikonfirmasi membenarkan, bahwa saat ini sudah ada spesialis jantung di RSUD Karimun. Dan sudah berjalan, namun untuk sementara hanya bisa pemeriksaan secara manual saja. Sedangkan, peralatan jantung sendiri belum dapat dianggarkan. Mengingat, harganya cukup mahal dan belum mampu untuk membeli sendiri.

”Benar sudah ada spesialis jantung. Kalau untuk pemeriksaan dini sudah bisa dilakukan, tapi kelanjutannya belum dapat dikarenakan keterbatasan alat medis,” singkatnya. (tri/bpos)

Respon Anda?

komentar