23 Penyerang Petugas BC Dibebaskan

732
Pesona Indonesia
Kabid P2 Kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun, Raden Evi menunjukkan puluhan pelaku penyerangan dan peralatan yang disita berupa obor bambu siap bakar dan senjata tajam. foto:sandi/batampos
Kabid P2 Kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun, Raden Evi menunjukkan puluhan pelaku penyerangan dan peralatan yang disita berupa obor bambu siap bakar dan senjata tajam. foto:sandi/batampos

batampos.co.id – Penyidik Kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun akhirnya melepaskan 23 orang pelaku penyerangan terhadap kapal patroli BC 6003 yang pada pekan lalu ketika melakukan penangkapan terhadap kapal yang membawa muatan ballpres atau pakaian bekas dari Malaysia tujuan ke Tanjungbalai Asahan.

”Memang benar, kita tidak meneruskan atau melanjutkan proses hukum terhadap para pelaku penyerangan petugas BC yang akan menangkap kapal yang membawa muatan pakaian bekas. Dengan tidak kita teruskan proses hukumnya, maka semua pelaku penyerangan sudah kita lepaskan dan kembali ke kampung hlaman masing-masing,” ujar Kepala Bidang Penyidikan dan Barang Bukti kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun, Winarko, Ahad (29/5).

Sebelum dilepaskan, katanya, terlebih dulu setiap pelaku diambil data-data pribadi dan juga difoto. Hal ini dilakukan untuk menyimpan data para pelaku. Selain itu, masing-masing pelaku diminta untuk menandtangani surat pernyataan yang intinya tidak mengulangi perbuatan yang sama, yakni melakukan penyerangan terhadap petugas BC yang menjalankan tugas-tugas negara.

”Seandainya kapal patroli kembali mendapatkan serangan di laut dan di dalamnya ada pelaku yang sama, maka kita akan memprosesnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelapasan terhadap para pelaku penyerangan dilakukan beberapa hari lalu. Selain itu, kita juga tidak menanggung biaya pemulangan merekaq ke kampung halaman di Tanjungbalai Asahan,” tegas Winarko.

Tersangka dalam kasus penyelundupan 700 ballpres dengan nilai Rp2,1 miliar, Winarko menyebutkan, ada 8 orang yang ditetapkan sebagai tersangka dan semuanya itu merupakan nakhoda dan kru kapal. ”Artinya, tidak ada yang berasal dari pelaku penyerangan. Kru kapal yang sudah ditetapkan sebagai nakhoda dijerat dengan pasal 102 Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 sebagiamana perubahan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006,” ungkapnya.

Sesuai berita di koran ini, pada saat BC 6003 yang melaksanakan patroli di laut, tepatnya di perairan Tanjung Siapi-api, Sumatera Utara menemukan kapal yang membawa muatan ilegal dari Malaysia. Namun, pada saat akan dilakukan penangkapan, di atas kapal tanpa nama tersebut sudah ada puluhan warga yang memberikan perlawanan dengan melempari kapal patroli BC dengan bom api dan juga senjata tajam. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar