Kembali ke Kesukuan dengan Alat Keglobalan

540
Pesona Indonesia

banner-dahlaniskanKini ada banjir yang tidak mengenal musim: banjir informasi. Ada semangat yang terus kian tinggi: semangat membuat grup di media sosial.
Itulah gejala baru di zaman media elektronik sekarang ini. Ada baiknya, ada bahayanya. Dan yang pasti banyak repotnya. Dan sering low batt-nya.

Hampir tiap minggu saya diinvite. Untuk dimasukkan satu grup WA baru. Atau Line. Padahal saya sudah ikut delapan grup. Itu saja bukan main kepadatan lalu lintas di HP saya.

Praktis tiap detik ada info baru yang menyalakan layar HP. Apalagi kalau ada tokoh yang meninggal. Atau sakit. Semua anggota grup mengirim doa. Bunyinya sama.

Yang agak lumayan kalau ada yang ulang tahun. Memang isinya mirip-murip semua juga. Tapi kadang ada lucunya.
Apalagi kalau ada yang kawin: kadang ada pornonya.

Yang tidak pernah memberi info adalah kalau ada yang bercerai. Mungkin takut mantannya cepat laku.

Grup yang saya ikuti sangat bervariasi. Ada yang anggotanya dari empat aliran agama. Ada yang satu agama tapi dari aliran yang sangat berbeda.
Yang grup kelompok aktivis. Ada yang agak khusus: kelompok pimpinan Jawa Pos Group se Indonesia.

Dari semua grup yang saya ikuti tidak satu pun yang saya inisiatornya.

Seandainya semua invite saya terima mungkin sudah lebih 100 grup di HP saya. Kini saya terpaksa left dari beberapa grup karena lagi belajar. Di Amerika pula. Dan menulis buku.

Waktu masih BBM dulu saya yang minta dibuatkan grup-grup BBM. Tapi sebatas untuk memperlancar pekerjaan: grup eselon satu kementerian BUMN, grup infrastruktur, grup perkebunan, grup pabrik gula, dan seterusnya. Semua terkait dengan pekerjaan. Praktis. Semua persoalan dibahas di situ. Pekerjaan bisa dikoordinasikan dengan amat cepat. Juga terbuka untuk semua anggota grup. Produktif sekali.

Kini agak berbeda.

Dari grup-grup yang saya ikuti saya bisa melihat banyak hal di luar pekerjaan. Sekaligus mengamati perkembangan sosial.
Yang saya catat, grup-grup WA itu memiliki kecenderungan hanya diikuti kelompoknya sendiri: yang satu ide, satu perjuangan, satu pemikiran.
Bahkan satu tujuan.

Semula yang tidak satu ide pun ada yang di invite. Tapi biasanya leave. Terutama setelah melihat perkembangan topik yang dibahas. Atau dominasi kelompok pemikiran tertentu dari anggota tertentu.

Dengan demikian ada kecenderungan tiap grup membangun solidaritas di antara grup itu sendiri. Kian lama kian mengental pula.
Yang masuk seringkali info yang hanya didasarkan asumsi. Yang sudah dibumbui emosi.

Saya mencatat betapa jauhnya jarak emosi yang terbangun di satu grup dengan grup lainnya. Dari kelompok yang ideologinya berbeda. Yang agamanya berbeda.
Saya ikut satu grup yang paling militan dari satu aliran. Tapi saya juga ikut grup yang sangat liberal. Saya ikut grup yang sangat tradisionalis, tapi juga ikut grup yang sangat globalis.

Banyak kalimat hujatan, makian dan emosian di satu grup. Tapi kata-kata itu tidak membuat marah anggota grup. Mungkin karena anggota grupnya memang dari kelimpok yang sama. Bahkan kata-kata keras itu lebih banyak didukung pula. Solidaritas di dalam grup itu terbangun dengan solidnya. Saya membayangkan kalau saja anggota grup yang berbeda itu menjadi satu alangkah serunya. Mungkin tidak hanya perang kata-kata. Bisa-bisa berlanjut ke perkelahian di jalan-jalan. Saking kerasnya.

Zaman dulu, suku-suku berkelompok sesama anggota suku. Di satu lokasi yang berbeda. Tidak ada komunikasi di antara suku. Sering terjadi perang suku. Kadang karena tidak ada komunikasi. Atau karena ego sukunya. Itu semua hasil dari pembangunan soliditas solidaritas di dalam sukunya.

Kini di zaman yang amat terbuka ini ternyata bisa juga muncul gejala kembali ke kesukuan. Atau ke kelompokan. Suku juga, dalam pengertian yang berbeda. Dengan isolasi berbentuk grup WA atau BBM atau Line.

Dari sini saya bangga pada generasi baru di Jawa Pos Group. Yang saya ikuti sari grup WA mereka. Yang begitu yakinnya bahwa koran tetap akan jaya. Asal manajemennya bagus.

Dan isinya menyesuaikan dengan keinginan dasar pembacanya.

Setiap kali ada koran yang mati dengan malu-malu (dengan alasan pindah ke edisi online yang lebih modern) generasi baru di Jawa Pos Group mengkajinya dengan kritis: itu mati karena zaman, atau karena manajemen, karena SDM, karena kreativitas atau karena nasib.

Apalagi generasi baru di JPG juga terus mengikuti perkembangan terkini di negara maju. Bahwa koran online ternyata kian sulit juga: tidak menghasilkan uang. Tidak cukup untuk membiayai perbaikan mutu jurnalistiknya.

Saya bersyukur bukan hanya karena itu. Tapi koran ternyata menjadi media yang dibaca lintas suku, lintas aliran, dan lintas grup.
Justru di zaman menjamurnya grup WA atau BBM ini peran koran menjadi beda: menjadi clearing house informasi.
Koran bisa meng-clearkan berbagai informasi yang tidak clear. ***

Respon Anda?

komentar