Mengolah Limbah Jadi Souvenir Khas Oleh-Oleh Benan

1128
Pesona Indonesia
Ibu ibu mengikuti pelatihan membuat souvenir dari bahan lokal di Desa Benan. Kegiatan ini digelar oleh DKP Lingga sejalan dengan Coremap CTI. foto:hasbi/batampos
Ibu ibu mengikuti pelatihan membuat souvenir dari bahan lokal di Desa Benan. Kegiatan ini digelar oleh DKP Lingga sejalan dengan Coremap CTI. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Puluhan ibu-ibu desa wisata Benan begitu antusias mengikuti pelatihan yang dilakukan Coremap-CTI oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lingga. Limbah kulit kerang, pasir dan kelapa yang selama ini terbuang percuma diolah menjadi berbagai jenis kerajinan dan souvenir ciri khas desa wisata Pulau Benan yang bernilai ekonomis.

Yuspiq, tenaga ahli dari Batam yang memberi pelatihan mengatakan kegiatan pelatihan akan berlangsung selama 10 hari. Mulai dari Rabu (25/5) hingga Jumat (3/6) mendatang.

“Kita ada 24 peserta yang ikut. Dari kelopok ibu-ibu PKK dan pengelola desa wisata. Mereka begitu antusias. Kita akan bantu Pulau Benan, menyiapkan souvenir khas dari potensi wisata baharinya yang dominan,” ungkap Yuspiq, Minggu (29/5) pagi.

Meski baru pertama kali sampai ke Benan, Yuspiq melihat begitu banyak potensi lokal yang mampu diolah. Bahan-bahan lokal, seperti limbah kulit kerang, pasir, sabut, batok, daun hingga batang kelapa yang selama ini terbuang menjadi sampah bisa diolah menjadi wadah tisu, parsel, lampu tidur, hiasan dinding, gantungan kunci, penampang cermin dan berbagai jenis kreasi lain.

“Potensi ini harus menjadi perhatian pemerintah setempat. Banyak yang bisa dibuat dan diolah dari bahan-bahan lokal yang ada. Pekerjanya adalah masyarakat, ibu-ibu yang akan mendapat tambahan nilai ekonomi. Kita memberi pelatihan tidak hanya berhenti disini, minimal dalam waktu 3 bulan sekali, kita akan monitoring. Yang lebih penting, potensi ini dapat tergarap dan menjadi perhatian serius pemerintah untuk membantu mengembangkan usaha dan kreasi dari tangan ibu-ibu desa Benan ini,” tambahnya.

Ditempat pelatihan, Salbiah, salah seorang ibu peserta pelatihan mengaku begitu senang dengan pelatihan yang digelar DKP. Ibu-ibu di desa, katanya, bisa berkreasi dan memperkenalkan Benan wisata unggulan Kabupaten Lingga lewat souvenir. ” Kita sangat senang. Ternyata banyak bahan-bahan yang bisa bermanfaat. Kita juga berharap ibu Bupati dapat bertemu ramah dan datang ke sini melihat hasil karya ibu-ibu di sini dan memberi suport,” ungkapnya.

Sementara itu, Abang Muzni, Kadis DKP, melalui Indra Rukian, Kabid Pengelolaan Sumber Daya DKP Lingga mengatakan pelatihan kerajinan kepada ibu-ibu desa merupakan bagian dari fase ketiga kegiatan Coremap. “Fase ketiga Coremap CTI ini lebih kepada pemanfaatan, pengelolaan dan penguatan kelembagaan,” jelasnya.

Lewat kegiatan Coremap sebelumnya, penyadaran akan lingkungan laut, karang yang sudah mulai dirasakan dampaknya bagi tumbuh kembang pariwisata Benan, kreasi dan pemanfaatan menjadi tujuan akhir penyelataman karang. Dimana masyarakat wilayah-wilayah konservasi di Lingga, bukan hanya menjaga namun dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk menjadi ekonomi alternatif. Membentuk kelembagaan dan bisa memanfaatkan sumber daya yang ada namun ramah lingkungan.

“Menghasilkan SDM dan juga Prodak desa wisata. Kita dukung usaha konservasi dan perlindungan juga pariwisata. Kedepan, kita harapkan langkah ini ada kerjasama dari instansi lain seperti Disprindag agar nanti memberikan bantuan, meneruskan kegiatan ini sebagai sumber ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Untuk kegiatan Coremap CTI ini, dijelaskannya bersumber dari dana pusat dan hibah dari Asian Development Bank (ADB).

Ditempat yang sama, Mar’at, Kepala Desa Benan menyambut baik digelarnya kembali kegiatan Coremap di Desa Benan. Sebagai desa wisata yang baru memulai langkahnya, Benan dikatakan Mar’at sangat memerlukan pelatihan seperti ini.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi desa wisata kami. Menunjang kesiapan kami masyarakat, mengembangkan wisata bahari. Kita disini banyak potensi dan barang mentahnya, kelapa dan kerang bisa diolah. Begitu juga menunjang wisata selam, perlu guide-guide lokal yang siap,” tutupnya. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar