Wow! Mengemis di Jakarta, Pulang Kampung Mampu Beli 7 Rumah

702
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Tahun 2000, Donwori (bukan nama sebenarnya) merantau dari kampungnya di Surabaya ke Jakarta. Bermodal ijazah SMP dan tidak memiliki pengalaman bekerja, Donwori nekat ke kota besar pertama di Indonesia.

“Pertama numpang di rumah teman, lambat laun tinggal di bawah kolong jembatan tol Ancol,” kata Donwori.

Semua itu dia lakukan agar dapat membelikan rumah istri dan anaknya. Sebab, Donwori sendiri trauma dan prihatin dengan keluarganya yang semuanya menyewa. Kehidupan keluarga istrinya juga merana.

Tak memiliki pengalaman apa-apa, menuntut Donwori bekerja apa saja. Dia memilih menjadi pengemis setelah berkali-kali gagal kerja.

Mulai dari pembantu yang ternyata mendapatkan bos jahat, jadi pengamen. Pernah juga mencoba jadi pemulung. Namun, seringkali bangkrut dan dibohongi teman-temannya. Dan terakhir mencoba jadi pengemis.

“Dasarnya saya memang males kerja. Makanya jadi pengemis,” kata bapak dua anak itu. Mulai tahun 2003, Donwori meresmikan diri sebagai pengemis.

Mengemisnya tidaklah pasti, kadang di kawasan Ancol, bahkan di luar daerah itu. Kadang ngemis dari rumah ke rumah, di perempatan jalan atau tempat rekreasi serta taman. “Dulu sih perdanya tidak seketat sekarang. Satpol punya juga jarang razia, jadi penghasilan cukup besar,” kata dia.

Sehari dia dapat menghasilkan Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. “Setahun saya bisa dapat Rp 150 juta. Sebagian saya kirim ke istri, sebagian saya tabung untuk beli rumah,” jelasnya.

Sebagai pengemis, si Karin juga tahu. Tapi, kedua anaknya tidak tahu. Donwori tidak ingin anaknya meniru pekerjaannya. Dengan uang yang dikumpulkan dengan cara mengemis itu, Donwori berhasil memiliki tujuh rumah di kawasan Lakarsantri dan Driyorejo Gresik.

Beberapa rumah sedang dipindah nama kepemilikannya atas nama dia, istri dan kedua anaknya. Kemarin (27/5) di depan kantor Pengadilan Agama (PA), Klas 1 A Surabaya, dia sedang berkoordinasi dengan pengacaranya atas pindah nama kepemilikan rumahnya. Dia janjian di depan PA dan duduk di salah satu warung depan PA.

“Sudah punya toko dua. Anak anak juga sudah mentas kuliahnya. Di Jakarta juga lelah dikejar-kejar satpol PP,” kata dia.

Disinggung sudah berapa uang yang diterima dari hasil mengemis itu, Donwori mengatakan sebenarnya tidak sampai Rp 2 miliar jika ditotal tanah dan rumahnya. Namun, karena harga tanah dan rumah mahal, maka kini dia bisa memperkirakan bila hartanya sudah mencapai Rp 5 miliar.

Karin menambahkan, selain sudah tidak nyaman ngemis di Jakarta, Karin juga ingin menikmati sisa masa hidupnya bersama Donwori.

“Wes tuwuk sorone (sudah lama sengsaranya, Red). Biyen iso (dulu bisa, Red) makan sehari ae wes (sudah, Red) cukup, sekarang lebih lebih,” kata Karin yang akan mantu anak pertamanya bulan Juli mendatang. (umi hany/no/jpnn)

Respon Anda?

komentar