Ilustrasi korban perkosaan. Foto: istimewah
Ilustrasi korban perkosaan. Foto: istimewah

batampos.co.id – Pihak yang tidak setuju dengan hukuman kebiri hingga hukuman mati bagi pemerkosa anak bawah umur sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, sebaiknya berhentilah bicara atas nama hak azasi manusia (HAM).

Pasalnya, memang banyak sekali penjahat kelamin yang melakukan kejahatan di luar batas-batas kewajaran seorang manusia. Bahkan kejahatannya lebih parah dari penjahat HAM lainnya.

Baca Juga: Komnas HAM Tolak Hukuman Kebiri

Lihatlah kondisi SR, bocah perempuan 12 tahun yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah dasar (SD) di Kota Semarang, Jawa Tengah. Murid SD ini dirudapaksa alias diperkosa 21 pria dewasa.

Bagaimana kalau kasus seperti ini terjadi pada keluarga yang berkoar-koar menolak hukuman kebiri dan hukuman mati penjahat kelamin dengan tagline HAM? Pikir!

Jahatnya lagi, korban digarap ramai-ramai setelah mencekoki korban dengan pil koplo jenis Trihexyphenidyl.

Baca Juga: Begini Teknis Hukuman Kebiri Kimia Bagi Penjahat Kelamin

Aksi pemerkosaan massal itu dialami korban sebanyak tiga kali di tempat yang berbeda dalam sepekan. Kali pertama terjadi pada Sabtu (7/5/2016) sekitar pukul 00.00 di sebuah gubuk persawahan. Pelakunya diduga berjumlah 7 orang.

Berikutnya, pada Kamis (12/5/2016) lalu, korban kembali diperkosa di dekat depo pasir. Kali ini, diduga pelakunya 12 pemuda. Dan, yang terakhir dilakukan pada Sabtu (14/5/2016) lalu, yang diduga dilakukan 2 pemuda di sebuah gubuk pembuatan batu bata merah.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polrestabes Semarang, AKP Kumarsini, mengaku, telah mendapat laporan adanya dugaan pemerkosaan tersebut.

Baca Juga: Berlaku Mulai 25 Mei 2016, Perppu Kebiri dan Hukuman Mati hanya untuk Pelaku Dewasa

Menurutnya, laporan itu datang langsung dari pihak keluarga korban. ”Ini baru saja bapaknya melapor,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (30/5/2016).

Terkait kronologi dan banyaknya pelaku, Kumarsini masih enggan memberikan keterangan secara detail. Namun demikian, dalam pelaporan yang diterimanya, peristiwa tragis tersebut terjadi pada Sabtu (14/5/2016) lalu.

”Kalau menurut keterangan dari versi pelapor, kejadiannya si korban dibawa ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) lalu disetubuhi,” ujarnya, seperti dikutip dari Radar Semarang (grup batampos.co.id), Selasa (31/5/2016).

Baca Juga: Dokter Boyke Tak Setuju dengan Hukuman Kebiri

Sedangkan TKP yang dimaksud, Kumarsini juga belum bersedia menyebutkan secara detail. Pasalnya, saat korban diminta menunjukkan lokasi pemerkosaan, masih kebingungan untuk menjelaskan.

”Sudah dikeler TKP-nya nggak ketemu. Masih peteng (gelap), Mas. Ini kami masih lidik-lidik (melakukan penyelidikan) untuk laporan tersebut,” kata Kumarsini. (one/pS/JPG)

Baca Juga:
> Kategori Penjahat Kelamin yang Bisa Dikebiri
> Presiden Jokowi Teken Perppu Kebiri dan Hukuman Mati Pelaku Kejahatan Seksual terhadap Anak

Respon Anda?

komentar