Dikecam, Festival Pegang Payudara di Singapura Akhirnya Dibatalkan

3368
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Festival Pegang  Payudara yang sedianya dilaksanakan pada 18-19 Juni yang bertepatan pertegahan bulan suci Ramadhan 2016 di Singapura, akhirnya dibatalkan setelah menuai kecaman dari berbagai kalangan.

Kecaman sebelumnya datang dari umat Islam di Singapura. Bahkan kecaman itu meluas hingga ke berbagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Bahkan, umat silam di berbagai belahan dunia lainnya.

Selain dinilai merendahkan harkat dan martabat wanita, festival tersebut juga tidak menghargai umat Islam yang melaksanakan puasa karena digelar saat Ramadan.

Panitia pun berjanji akan mengembalikan uang peserta yang sudah terlanjur membeli tiket.

Namun, sebuah perusahaan manajemen acara di Singapura menawarkan peserta yang telah membeli tiket bisa mengikuti Ritual Tindik Alat Vital pada 18-19 Juni.

“Ada festival lain yang kurang terkenal dari Provinsi Yunnan adalah upacara pengorbanan alat vital,” ujar CEO perusahaan yang ikut dalam konferensi pers pembatalan Festival Pegang Payudara, seperti dikutip dari eastasiatribune.com, Senin (30/5/2016).

Perusahaan ini menawarkan peserta yang mengantongi tiket Festival Pegang Payudara bisa mengikuti Ritual Tindik Alat Vital tanpa harus membeli tiket baru. “Ini cukup jelas,” kata CEO perempuan tersebut.

Namun festival ini juga menuai kecaman dari berbagai kalangan, karena hanya beda tipis dengan Festival Pegang Payudara.

Berbagai literatur menyebutkan, ritual tindik alat vital merupakan budaya dalam masyarakat Mesoamerika kuno, khususnya Maya. Ketika dilakukan oleh penguasa elit, mengeluarkan darah dari bagian tubuh dianggap sangat penting untuk pemeliharaan struktur sosial budaya dan politik.

Dalam sistem kepercayaan Mesoamerika, Maya, menumpahkan darah digunakan sebagai alat untuk melegitimasi posisi sosial-politik yang berkuasa.

Pertumpahan darah dilakukan dengan cara menusuk bagian tubuh yang lembut, umumnya lidah atau alat vital. Darah itu dikumpulkan di atas kertas, lalu dibakar.

Tindakan membakar darah melambangkan transferral dari persembahan kepada para dewa melalui transformasi asap yang mengepul.

Tindik alat kelamin dilakukan dengan menggunakan pisau obsidian prismatik, duri ikan pari, atau gigi hiu. Dalam beberapa situasi, tali dengan duri yang melekat atau serpih obsidian akan ditarik melalui lidah atau telinga.

Titik organ tubuh yang ditindik sering berkorelasi dengan hasil yang diinginkan atau representasi simbolis yang sesuai. Misalnya, menggambar darah dari alat kelamin, terutama organ seks laki-laki, akan dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan atau mewakili kesuburan manusia.(one/PS/JPG)

Respon Anda?

komentar