Gelang Akar Hutan di Kedai Akar Hutan Store Tanjungpinang

2505
Pesona Indonesia
Ryan, membuat kerajinan tali temali di Akar Hutan Store Tanjungpinang, Senin (30/5). F.Yusnadi/Batam Pos
Ryan, membuat kerajinan tali temali di Akar Hutan Store Tanjungpinang, Senin (30/5). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Kecintaan Ryan Hidayat pada aktivitas luar ruang, tidak berhenti pada sekadar naik-turun gunung atau berkemah di kawasan pesisir pantai. Tapi, lelaki 27 tahun ini memahami ada kegirangan jikalau hal yang digelutinya sedari remaja itu bisa menghasilkan uang. Permenungannya dari kemah ke kemah, dari gunung ke gunung membawanya pada suatu kesimpulan; ada suatu hal yang bisa dilakukan dari sebalik aktivitas ini.

Akar hutan. Banyak penjelajah atau pendaki yang mengesampingkannya. Tidak bagi Ryan. Di sela-sela menarik napas pada tiap petirahan, akar hutan adalah mainan Ryan. Tangannya kemudian lihai menjalin, menggulung, dan menyimpul bagian pohon ini jadi sebarang aksesori sekenanya. Gelang, cincin, atau kalung. “Teman-teman melihatnya dan banyak yang suka,” kenang Ryan.

Apresiasi itu memberikan keyakinan pada Ryan. Sepulang dari hutan, ia kemudian mencoba menerapkan kemampuannya. Tapi tidak berbahandasarkan akar hutan. Melainkan tali-temali yang bisa dengan mudah didapat di pasar. Satu-dua jam duduk santai dengan jemari cekatan memilin dan menjalin, jadi sebuah gelang.

Lalu diujicobakan dengan menjualnya pada teman-teman sepenjelajahan dan sependakian. Gayung pun bersambut. Mereka yang pada mulanya menyukai akar hutan kreasi Ryan kini lengannya jadi lebih menarik dengan gelang hasil kreasi tangan yang sama.

“Sejak itu, saya tidak berpikir dua kali untuk menamai bisnis kecil-kecilan ini dengan Akar Hutan Store,” kata penghobi fotografi ini.

Kendati sudah lama beraktivitas, Ryan baru mengibarkan bendera Akar Hutan Store tinggi-tinggi sembilan lalu. Tepatnya 1 September 2015. Dibantu beberapa karibnya, aksesori demi aksesori berlabel Akar Hutan Store mulai beredar luas.

Modalnya tidak banyak. Hanya Rp 50 ribu. Ryan menuturkan, dengan modal seminim itu ia hanya mampu menghasilkan aksesori berbahandasarkan tali satin yang per meternya dapat dibeli seharga seribu rupiah. Dengan modal itu, artinya Ryan bisa memiliki 50 meter tali satin dengan warna berbeda-beda.

Tidak butuh waktu lama untuk menjual gelang berbahan tali satin. Hanya saja, ada pemikiran lain di kepala Ryan. Ia merasa, sebuah aksesori bakal bercitarasa lebih tinggi bila menggunakan bahan dasar yang lebih berkualitas. Pilihannya jatuh pada tali paracord.

Paracord berasal dari istilah Parachute Cord yang awalnya merupakan tali parasut yang biasa menjadi bawaan wajib oleh pasukan tentara sejak Perang Dunia II guna kebutuhan bertahan hidup saat bertugas di lapangan. Istimewanya, tali Paracord ini sangat kuat dan elastis. Bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan yang membutuhkan tali-temali, seperti mengikat tenda, memasang jerat dan jebakan, tali sepatu, sling senapan, dan pelbagai kebutuhan militer lain.

Keistimewaan itu yang kemudian membuat Ryan tidak ragu memilihnya sebagai bahan dasar aksesori kreasinya. “Paracord ini standar militer. Beban maksimalnya bisa mencapai 200 kilogram. Susah putus kecuali dipotong dengan pisau atau gunting,” ujarnya. Pilihan warnanya yang solid juga membuat sang pemakai gelang jadi terlihat lebih maskulin.

Media sosial jadi sarana penunjang pemasaran dengan jangkauan luas. Akun Instagram akarhutan_store adalah etalase virtual tempat Ryan memajang produk-produk andalannya. Ada beragam pola gelang di sana. Gantungan kunci juga ada. Belum lagi hammock pun tersedia. Para pembeli secara langsung pun dapat memesan gelang atau ragam aksesori berbahandasarkan tali sesuai selera hati.

Pelanggan setia Akar Hutan Store tidak hanya berasal dari Tanjungpinang atau seputar Provinsi Kepri. Beberapa produk unggulannya malah sudah banyak terpaket hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Kata Ryan, dari ujung ke ujung. Bahkan ada beberapa pelanggan dari luar kota sampai percaya untuk mengirimkan jam tangannya ke Akar Hutan Store untuk diganti talinya. Semua itu dilakoni Ryan dan rekan-rekannya dengan penuh ketelatenan.

“Tidak ada pilihan. Kami harus telaten karena itu bagian dari komitmen. Paling tidak butuh satu jam chatting untuk satu pemesanan. Karena akurasi ukuran adalah harga mati agar pelanggan puas menggunakannya,” kata Ryan.

Ketelatenan lebih lagi justru kini tengah Ryan pelajari. Banyaknya datang permintaan dari luar negeri, seperti Inggris, Rusia, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Hanya saja, kesibukan lain kerap menyita Ryan untuk mengurus proses pengiriman ke luar negeri. “Jadi sekarang ya yang baru tertangani masih pesanan dalam negeri dulu,” katanya, “tapi nanti pasti akan kami layani juga pembeli dari luar negeri. Paling tidak, sekaran gelang Akar Hutan Store sudah diminati.”

Di sela-sela kegiatannya saban hari yang masih terus memproduksi aksesori berbahandasarkan tali-temali, Ryan punya keinginan lain. Menurutnya, keterampilan tali-temali ini tidak mesti dimilikinya seorang diri. Ada baiknya diajarkan kepada banyak orang, khususnya generasi muda. Ada misi lebih jauh daripada urusan merangkai gelang.

Cinta alam. Ini adalah nilai yang ingin Ryan bagikan. Betapa ketika orang sudah mampu menyahabati dan mencintainya, alam tidak pernah berkhianat. Yang ada, alam malah akan terus dan terus memberi. “Termasuk keterampilan tali-temali ini. Sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana, tapi banyak orang tidak menyadari,” katanya.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar