Menengok Proyek Percontohan Jamban Pesisir BTKLPP Kelas I Batam

Udara Jadi Persih, Meski Tak Perlu Perawatan Khusus

525
Pesona Indonesia
foto: Rezza Herdiyanto
foto: Rezza Herdiyanto

Lima belas kepala keluarga di Kampung Tua Teluk Lengung, Kabil telah menggunakan jamban pesisir. Tinja pun tak lagi mendarat di depan rumah ketika air laut surut.

Hasanah meletakkan sepiring pisang goreng di atas lantai kayu dapurnya. Satu nampan berisi segelas besar teh manis panas sudah mendiami lantai kayu itu terlebih dahulu. Bersama dengan dua gelas kaca yang masih tertelungkup. Ia lalu duduk.

“Dulu, mana dapat kita duduk macam begini. Lalat sudah terbang ke sana ke mari,” katanya sambil mengibaskan tangannya ke udara.

Cuaca siang itu terbilang terik. Apalagi di Kampung Tua Teluk Lengung yang langsung berbatasan dengan laut. Udara tetap terasa menyengat meski berada di dalam rumah.

Hasanah membuka pintu dapurnya lebar-lebar. Pohon-pohon bakau dengan akar-akar mencengkeram tanah berlumpur menjadi pemandangan. Di baliknya, langit terhampar luas.

Rumah Hasanah berdiri di atas laut. Mulai dari teras depan hingga tempat jemuran di belakang ditopang dengan tiang-tiang pancang. Ketika air laut pasang, tiang-tiang itu akan terendam.

Siang itu, air laut sedang surut. Bukan pasir yang ada di bagian bawah rumahnya. Tetapi tanah berlumpur. Tiang-tiang itu terbenam sebagian. Kubangan-kubangan kecil air berada di beberapa titik.

Biasanya, ketika kondisi laut tengah surut, sampah-sampah akan bertumpuk di bagian bawah rumah. Termasuk, kotoran manusia atau tinja. Bau busuk akan menguar dan mengundang lalat-lalat untuk datang.

“Lalat-lalatnya itu yang besar-besar warna hijau. Itu lalat-lalat dari TPA Punggur sana,” kata ibu dua anak itu.

Kampung Tua Teluk Lengung berbatasan langsung dengan TPA Punggur. Begitu dekatnya, sampai-sampai, ketika hujan besar datang, air lindi TPA Punggur akan mengalir ke Teluk Lengung. Ikan-ikan di teluk itu pun mati.

Lalat-lalat juga tak membutuhkan waktu lama untuk tiba. Entah berapa banyak penyakit yang mereka bawa. Terlebih dengan kondisi rumah Hasanah yang masih berlubang di sana-sini. Monyet saja bisa masuk, apalagi lalat?

“Sejak ada jamban itu, alhamdulillah lah. Memang dulu, awal-awal dipasang masih bau. Tapi sekarang tidak lagi,” kata wanita 32 tahun itu.

Jamban yang ia maksud itu Jamban Pesisir Sederhana. Ini proyek percontohan dari Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Batam. Sudah dua tahun lamanya, keluarga Hasanah menggunakan jamban itu. Dan selama itu, tidak ada masalah yang membuatnya pusing.

“Tidak ada perawatannya juga. Sedap-lah,” timpal Mustafa, suaminya.

***

Bukan tanpa alasan BTKLPP Kelas I Batam memilih Kampung Tua Teluk Lengung sebagai lokasi percontohan. Ada sejumlah pertimbangan yang menjadi dasar pemilihan. Resiko pencemaran dari TPA Punggur menjadi alasan utama. Alasan selanjutnya karena berdekatan dengan Pelabuhan Domestik Telaga Punggur dan Bandara Hang Nadim Batam.

“Jadi kalau ada yang datang dari luar Batam untuk melihatnya bisa langsung dibawa ke lokasi,” tutur Sofyang, Kepala Instalasi Teknologi Tepat Guna BTKLPP Kelas I Batam.

Proyek jamban pesisir sederhana ini dimulai pada tahun 2014. Sofyang dan tim datang untuk melakukan sosialisasi. Ada dua keluarga yang berminat. Keduanya, keluarga Hasanah dan keluarga Atan. Atan ini masih satu kerabat dengan Hasanah. Rumahnya berada tepat di depan rumah Hasanah. Hanya saja, rumahnya sudah berada di darat.

Namun, meskipun di berada di darat, pembuangan tinjanya tetap ke laut. Ketika jamban pesisir itu belum dipasang, ia membuat saluran tinja dari kloset ke laut dengan pipa besar nan panjang. Area pembuangannya ada di sekitar rumah Hasanah.

Lantaran lokasi kedua rumah itu berdekatan, BTKLPP pun membuatkan jamban pesisir jenis komunal. Ini jenis jamban tiga bak dengan daya tampung maksimal 2,4 ton. Jamban ini bisa menerima tinja dari lima rumah sekaligus.

“Tinggal di-connect-kan saja. Seperti yang di dekat rumah Pak Mustafa itu kan tinggal meng-connect-kan tapi menunggu rumah itu selesai dibangun dulu,” katanya.

Jamban pesisir komunal itu ditempatkan di belakang rumah Hasanah. Bak yang digunakan untuk menampung tinja itu tak lain adalah tandon yang biasa digunakan menampung air-air bersih. Tiga tandon ditanam di dalam lumpur. Ketiganya saling terhubung dengan pipa-pipa.

Tandon pertama, kata Sofyang, berfungsi untuk menampung dan menguraikan tinja. Pria yang telah memenangi lomba Teknologi Tepat Guna selama tujuh tahun berturut-turut itu meletakkan bakteri sarang tawon di dalam bak pertama. Bakteri itulah yang akan menguraikan tinja. Dalam waktu 1×24 jam, tinja itu dipastikan telah hancur.

Tinja yang hancur itu kemudian disalurkan ke tandon kedua. Di tandon itu, Sofyang meletakkan bakteri semi sarang tawon. Bakteri ini memiliki sifat membiakkan bakteri aerob. Ia dapat membunuh zat-zat pencemar air limbah.

Hasil dari tandon kedua kemudian dialirkan ke tandon ketiga. Inilah puncaknya. Bakteri semi sarang tawon yang juga disimpan di tandon ini akan membersihkan zat-zat pencemar yang masih ada. Selain itu, Sofyang juga meletakkan chlor. Hasil penguraian bakteri ini akan muncul dalam bentuk cairan.

BTKLPP Kelas I Batam telah melakukan uji sampling air yang keluar dari jamban pesisir tersebut. Hasilnya, air itu aman untuk dibuang ke alam bebas.

“Kalau masih dalam bentuk tinja dibuang begitu saja, itu justru berbahaya bagi masyarakat. Tinja tidak dapat terurai begitu saja tanpa bakteri,” tuturnya.

Jamban pesisir ini pun tidak perlu banyak perawatan, tambah Sofyang. Masyarakat tidak perlu membuka bak dan membersihkan bagian dalamnya. Mungkin yang perlu dibersihkan itu kloset. Nah, Sofyang mengingatkan masyarakat untuk tidak membersihkan kloset itu dengan larutan zat kimia. Seperti, misalnya, cairan pembersih kloset. Sebab, zat kimia dalam cairan itu dapat membunuh bakteri yang tersimpan di dalam bak.

Jika bakteri mati, tinja tak akan terurai. Lama-kelamaan, bak itu pun akan penuh. Mau tak mau jamban ini harus disedot.

“Kalau memang sudah terlanjur pakai cairan kimia, segera siram dengan larutan gula. Larutan gula bisa membuat bakteri kembali timbul,” ujar pria yang akan menempuh studi lanjutan di Jurusan Pengelolaan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) bulan Oktober nanti itu.

Bukan hanya jenis jamban komunal yang dikembangkan Sofyang. Pria lulusan Teknik Industri Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar itu juga mengembangkan jamban pesisir personal tipe dua bak dan jamban pipa PVC. Kedua jamban itu dipasang juga di beberapa rumah di Kampung Tua Teluk Lengung.

Jamban pesisir tipe dua bak memiliki kapasitas 480 liter. Jamban ini cocok dipasang di daerah pasang surut. Total, ada tiga rumah yang sudah menggunakan jamban ini di Kampung Tua Teluk Lengung.

Sementara jamban pesisir pipa PVC baru saja dipasang di satu rumah. Jamban jenis ini berkapasitas lebih kecil. Yakni, hanya 360 liter. Jamban ini cocok untuk rumah yang berlokasi di daerah aliran sungai (das).

“Total ada tujuh jamban yang kami buat. Tapi itu untuk 15 keluarga,” tutur pria asal Makassar itu lagi.

Sebagian keluarga yang telah menggunakan jamban pesisir itu telah mengakui manfaatnya. Berangsur-angsur, mulai bertambah warga yang ingin menggunakan jamban itu. Sofyang mengatakan, selama rumah warga tersebut masih berada di dalam wilayah kerja BTKLPP Kelas I Batam, tidak ada biaya yang dikenakan ke warga. Wilayah kerja BTKLPP Kelas I Batam mencakup Provinsi Kepulauan Riau, Riau, dan Jambi.

Dalam waktu dekat, BTKLPP Kelas I Batam akan membuat jamban sejenis di Lingga. Jumlahnya mencapai 200 unit. Sejumlah rumah pesisir di Dumai dan Bengkalis juga telah menggunakannya. Di luar Kepulauan Riau, Kalimantan sudah menggunakannya. Papua Barat menyusul.

“Saya tinggal kirim prosedur pemasangannya. Bahan-bahannya sangat mudah dicari. Perakitannya pun bisa dilakukan sendiri,” tutur Sofyang.

Pembuatan jamban pesisir ini bisa dibilang tidak mudah. Pria yang juga menempuh pendidikan S1 Pendidikan Biologi di Universitas Riau Kepulauan (Unrika) itu melakukan sejumlah survei. Tidak ada referensi yang ia gunakan. Ini murni trial and error, katanya.

Itu sebab proses penelitian memakan waktu hampir satu tahun lamanya. Itupun masih harus melalui serangkaian ujicoba. Awalnya, ia menguji-cobakan jamban pesisir itu di kawasan Belakangpadang, 2012 lalu. Ada lima rumah tangga yang menggunakannya.

Di tahun berikutnya, ia mencoba memperbaiki permasalahan yang muncul dan memasang yang baru di Tanjung Riau. Ada dua rumah tangga yang menggunakannya. Pengembangan jamban itu kemudian dipasang di Tanjungpiayu, tahun 2014. Ia memasangnya di dua rumah.

“Nah, yang di Teluk Lengung ini sudah versi penyempurnaannya,” tuturnya.

Kini, jamban pesisir itu tengah dalam proses pembuatan hak paten. Sofyang membuat hak paten yang dapat digunakan masyarakat luas. Jadi, masyarakat dapat lebih membuat hak paten itu sendiri tanpa meminta izin darinya.

“Hak paten itu hanya untuk menyatakan, karya semacam itu sudah pernah dibuat,” ujarnya. (WENNY C PRIHANDINA, Batam)

Respon Anda?

komentar