Tolak RUU Hudud, Menteri di Malaysia Ancam Mundur

494
Pesona Indonesia
Menteri Transportasi Malaysia Liow Tiong Lai. Foto: www.thestar.com.my
Menteri Transportasi Malaysia Liow Tiong Lai. Foto: www.thestar.com.my

batampos.co.id –¬†Rencana penerapan UU¬†Hudud atau hukum syariah Islam di Malaysia ditentang oleh Menteri Transportasi Malaysia Liow Tiong Lai.Ia mengancam akan mundur jika pembahasan RUU tersebut dilanjutkan pembahasannya.

Sejak dimunculkan RUU Hudud itu memang memicu kontroversi di Malaysia. Dalam waktu dekat Tiong Lai akan menghadap Perdana Menteri Najib Razak untuk membahas masalah ini.

”Saya berulang kali mengatakan bahwa implementasi undang-undang Hudud bertentangan dengan semangat Konstitusi Federal dan akan menghancurkan hubungan antar etnis di negara ini,” ujar Presiden dari Malaysian Chinese Association (MCA) ini, Minggu (29/5/2016). MCA selama ini adalah salah satu partai yang tergabung dalam koalisi Barisan Nasional (BN).

Sejak awal diusulkan oleh Parti Islam se-Malaysia’s (PAS), RUU Hudud ini sudah memicu kontroversi dan penolakan. Namun ternyata pemerintah menyetujuinya dan mengusulkan ke parlemen Kamis (26/5/2016) lalu.

Banyak kritikus yang menilai bahwa Najib sengaja menyetujuinya untuk mendulang suara pada pemilu 2018 nanti. Utamanya dari umat muslim di Malaysia.

Sejak adanya skandal korupsi 1MDB yang membelitnya, dukungan terhadap partai United Malays National Organisation (UMNO) yang dipimpin oleh Najib terus turun.

Dalam RUU Hudud ini terdapat beberapa hukuman sesuai syariat Islam. Mulai dari memotong bagian tubuh hingga rajam. Pembahasannya di parlemen akan dimulai Oktober mendatang. Najib sendiri menegaskan bahwa masyarakat salah paham soal RUU Hudud ini.

”Ini bukan hudud, hanya hukuman yang diperberat saja,” ujarnya dalam konferensi pers Jumat (27/5/2016) lalu.

Hukuman dalam RUU ini hanya berlaku untuk kejahatan tertentu dibawah yuridikasi pengadilan syariah.

”Ini hanya berlaku untuk muslim. Tidak ada hubungannya dengan nonmuslim,” paparnya. Karena itu dia meminta agar masyarakat tetap tenang. (Reuters/The Straits Times/sha/kim/flo/jpnn)

Respon Anda?

komentar