BI Dorong Kepri Seriusi Bisnis Pariwisata dan Maritim

1819
Pesona Indonesia
Milky Way dengan latar depan gerbang ke Istana Damnah di Lingga.
Milky Way dengan latar depan gerbang ke Istana Damnah di Lingga.

batampos.co.id – Bank Indonesia perwakilan Kepulaun Riau mencatat Perekonomian Kepri sejak 2013 masih berada dalam tren perlambatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kepri rata-rata per tahun tumbuh diatas 7% (year on year). Pada 2015, lalu hanya mampu tumbuh sebesar 6,02% (yoy).

“Hingga triwulan I 2016, pertumbuhan ekonomi Kepri bahkan mencatatkan pertumbuhan terendah sebesar 4,58% (yoy), lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung mengalami perlambatan sejak triwulan I 2012,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Gusti Raizal Eka dalam sambutannya pada ajang Forum Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (FKEKR) Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I 2016, Rabu (1/6).

FKEKR merupakan kegiatan tiga bulanan Bank Indonesia. Acara ini mengundang segenap stake holder yang ada di Kepri.

Melihat fernomena ini utuk FKEKR kali ini BI mengambil tema Mendorong Industri Maritim dan Pariwisata sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru Kepri.

BI melihat industri pariwisata dan kemaritiman bisa menjadi penyangga dari kelesuan ekonomi yang ada.

Anggota DPR RI asal Kepri, Asman Abnur, mengatakan inilah momentum untuk mengembangkan pariwisata.

“Pariwisata ini tidak ada itilah tawar menawar. Eropa kenapa selamat ekonominya, karena bidang pariwisatanya hebat. China juga industrinya sedang turun. Yang menyelamatkan, pariwisatanya,” ungkap Asman.

Asman mengaku belum bangga Batam disebut sebagai pintu masuk terbesar ketiga di Indonesia. Alasannya, wisatawan ke Batam dan Kepri, masih short time. Belum bisa seperti Bali yang orang bisa berlama-lama untuk memanjakan badan.

Asman sendiri saat ini telah mendirikan sebuah sekolah pariwisata. “Tak mungkin pariwisata berjalan sementara tak ada SDM yang handal,” ucapnya soal latar belakang mendirikan Politeknik pariwisata.

Pria yang pernah menjadi Wakil Walikota Batam ini mengisahkan pengelamannya membuka resto nasi padang di Singapura. Ia gagal. “Saya tahu masalahnya, saya cari se Indonesia tukang masak masakan padang yang bersertifikat tapi tak ada, makanya chef kita harus punya sertifikat.”

Asman yakin, industri pariwisata akan memiliki efek domino yang dahsyat.

Pembicara lain, Rokhmin Dahuri, menyoroti potensi maritim yang dimiliki Kepri. Ekonomi maritim menurutnya ialah industri yang berada di laut itu sendiri plus industri bukan di laut akan tetapi menggunakan bahan baku dari laut. Seperti industri pengolah rumput laut.

Rokhmin, sang mantan menteri pada kabinet Gus Dur dan Megawati ini, mendorong untuk mengolah hasil laut, tidak sebatas ikan segar semata. Ia meyakini industri bisa berdampingan dengan industri pariwisata.

Diskusi ini berjalan menarik, diikuti oleh kalangan akademisi maupun kalangan bisnis wisata. Sedikit pertanyaan yang muncul tetapi pernyataan berupa saran dan masukan ramai diungkap peserta. Forum ini sendiri memang salah satunya bertujuan untuk merangkum masukan dari stake holder yang ada. (ptt)

Respon Anda?

komentar