Masyarakat Lingga Usulkan Sultan Mahmud Riayat Syah Jadi Pahlawan Nasional

868
Pesona Indonesia
Poster Sultan Mahmud Riayat Syah saat memimpin Kesultanan Lingga diperkenalkan pada event tingkat Provinsi Kepri. f-istimewa
Poster Sultan Mahmud Riayat Syah saat memimpin Kesultanan Lingga diperkenalkan pada event tingkat Provinsi Kepri. f-istimewa

batampos.co.id – Said Barakbah, staf khusus bidang Kebudayaan dan Kelembagaan Adat Kabupaten Lingga mengatakan, Sultan Mahmud Riayat Syah III adalah tokoh pertama yang diusulkan menjadi pahlawan nasional dari Provinsi Kepri. Meski digagas dari Kabupaten Lingga, namun hal ini adalah pekerjaan bersama pemerintah provinsi dan menjadi tanggung jawab seluruh wilayah Kepri.

Pada tahun 2016, kata dosen yang juga mengajar di Umrah, ini Pemkab Lingga kembali mengusulkan ketokohan Sultan Mahmud III (1878-1812) untuk menjadi salah satu pahlawan nasional. Meski sebelumnya ipar dari Sultan Mahmud III yakni Raji Haji Fisabilillah dan keponakannya Raja Ali Haji yang telah diakui sebagai Pahlawan Nasional merupakan usulan dari Pemprov Riau. Saat itu Kepri belum dimekarkan.

“Sultan Mahmud III ini, adalah Pahlawan Nasional pertama yang diajukan dari Kepri. Sebelumya, Raja Haji dan Raja Ali Haji itu saat Kepri masih jadi bagian Riau. Tentunya, ini menjadi tanggung jawab seluruh Kepulauan Riau,” ungkapnya saat pertemuan pembahasan program kebudayaan dan kelembagaan adat di ruang rapat kantor Bappeda Kabupaten Lingga, Senin (30/5) malam.

Usulan Sultan Mahmud III yang memerintah selama 32 tahun dan memindahkan pusat ibukota Kerajaan Lingga Riau (1787-1901) ke Daik Lingga, sebagai pahlawan bidang strategi dan gerilia laut, saat ini disampaikan Barakbah, oleh tim penulis terus dikumpulkan data otentik. Kepiawaian Sultan Mahmud, menjaga wilayah maritim sebagai pintu utama perdagangan dunia setelah mundur dari Malaka, perlu dipertegas dengan pengakuan bangsa Indonesia untuk dinobatkan menjadi pahlawan nasional.

Jasanya yang begitu besar, membangun tamadun baru di kepulauan melayu segantang lada yang kini dikenal sebagai Kepri, adalah sosok tokoh kuat dibalik peradaban dan jiwa kepemimpinan orang Melayu.

“Tahun ini akan terus kita perjuangkan sampai Sultan Mahmud III diakui secara nasional. Dengan diakuinya ketokohan ini, akan memberikan spirit membangkitkan lagi kejayaan maritim kita sebagai pintu utama perdagangan, maupun sosok kepemimpinan di Kepri. Sebanding dengan kejayaan Kejaraan Lingga-Riau,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Bappeda Lingga, M Ishak yang menjadi pimpinan rapat. Sosok Sultan Mahmud III, kata Ishak, adalah contoh kepemimpinan orang melayu yang tegas, adil dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap agama. Ketokohan ini, terangnya menjadi cikal bakal sosok kepemimpinan Kepri hari ini yang perlu didukung seluruh pihak.

“Tokoh ini adalah sosok kepemimpinan orang Melayu,” papar Ishak yang juga menjabat sebagai Ketua I Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga tersebut.

Pengusulan kepahlawanan Sultan Mahmud III, terang Ishak, adalah satu satu dari berbagai program kebudayaan yang dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2005-2025. Selain itu, dalam kegiatan program kebudayaan dan Kelembagaan adat yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat seperti H Musfar, Saad, H Nadar, Jumadi Kabid Sosial Budaya Bappeda Lingga, Bahtiar, Lazuardi penggiat budaya dan anggota LAM Lingga, Fadli Angg penulis muda Lingga, juga mengusulkan Daik Lingga sebagai Kota Pusaka. Selain itu, penguatan kebudayaan di Kabupaten Lingga juga akan diperkuat dengan Bengkel Sastra dan penulisan untuk melakukan pengumpulan data dan pengkajian terhadap banyaknya produk dan benda cagar budaya (BCB) di Kabupaten Lingga sebagai bahan historial dan edukasi bagi generasi muda Lingga. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar