Kasus Illegal Fishing Banyak, Tapi Anggaran Penanganan Sangat Minim

582
Pesona Indonesia
Peledakan kapal ikan asing di Periaran Pulau Tiga, Natuna. Sebanyak 8 kapal ikan asing asal Vietnam ditenggelamkan karena melakukan illegal fishing. foto:aulia rahman/ batampos
Sebanyak 8 kapal ikan asing asal Vietnam ditenggelamkan karena melakukan illegal fishing di Pulau Tiga, Natuna. foto:aulia rahman/ batampos

batampos.co.id – Hingga bulan Mei 2016 ini, kasus illegal fishing atau pencurian ikan yang dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Ranai sudah mencapai 23 kasus.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ranai, Josia Koni mengatakan, hingga bulan Mei tahun 2016 sudah ada 23 perkara warga negara asing yang sudah keluar SPDP. Lebih banyak jumlahnya dibanding tahun lalu yang hanya17 perkara.

Namun permasalahannya, kata Josia, Kejari tidak didukung anggaran penanganan kasus warga negara asing. Bahkan tahun 2016, hanya dianggarkan untuk penanganan satu kasus.

“Penanganan kasus melibatkan warga asing cukup tinggi, tapi anggaran minim. Tentu prosesnya bakal bisa lambat,” ujar Josia kemarin.

Dengan jumlah perkara yang cukup banyak, kata Josia, kerja ekstra diperlukan. Sementara proses penanganan penuntutan setelah dilimpahkan di Kejaksaan hanya 5 hari.

“Sekarang sudah ada 23 SPDP kasus WNA. Anggaran yang disiapkan hanya satu perkara saja, terus 22 perkara lain diselesaikan bagaimana, kami masih bingung,” ujar Josia.

Tingginya perkara warga negara asing di Natuna setiap tahunnya disebabkan Natuna adalah primadona pencurian ikan. Warga asing yang disidangkan adalah para nakhoda.

Tidak hanya itu persoalannya, di Natuna hingga saat ini belum dibangun rumah detensi imigrasi untuk menampung puluhan, terkadang hingga seratusan nelayan asing yang diamankan di perairan Natuna, yang kedapatan mencuri ikan. (arn/bpos)

Respon Anda?

komentar