Kemensos Tutup Semua Lokalisasi di Kaltim, Kepri Menyusul

652
Pesona Indonesia
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Foto: JPG
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Foto: JPG

batampos.co.id -Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa melakukan gebrakan luar biasa dalam menekan prostitusi di Indonesia.

Bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (1/6/2016) Kemensos resmi menutup seluruh lokalisasi yang tersebar di berbagai tempat di Kaltim.

Dari catatan Dinas Sosial (Dinsos) Kaltim, ada 38 lokalisasi di Kaltim dengan jumlah pekerja seks komersial (PSK) mencapai 1.515 orang. Terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Barat.

“Bukan penghuninya. Kalau penghuni memang jauh lebih besar Dolly di Surabaya. Bahkan, kata Pak Dahlan Iskan, kalau dihitung, tamu dan penghuni dalam satu malam bisa mencapai 60 ribu,” ungkap Khofifah di lokalisasi prostitusi Bayur, Kelurahan Sempaja Utara, Kota Samarinda, Rabu (1/6/2016).

Menurut Khofifah, lokalisasi-lokalisasi di Indonesia harus ditutup. Termasuk di Kepri. Sebab, kawasan itu sangat dekat dengan tindak kekerasan, eksploitasi, dan human trafficking.

Pemerintah memastikan tidak akan lepas tangan dalam penutupan sejumlah lokalisasi di Indonesia. Kemensos berjanji memberikan bantuan modal bagi para eks PSK agar kelak bisa hidup mandiri dan tidak kembali ke profesinya.

Khofifah mengatakan, setiap bekas PSK akan diberi uang saku dan modal Rp 5 jutaan per orang. “Karena itu, nanti kita verifikasi,” ucapnya.

Dengan penutupan lokalisasi di Kaltim itu, pemerintah masih punya pekerjaan rumah (PR) untuk menutup 69 titik lainnya. Dari jumlah tersebut, lokalisasi terbesar saat ini berada di Jawa Barat. Ada sebelas lokalisasi dengan sekitar 21 ribu penghuni.

“Pada 29 Mei 2016 kemarin sudah dilakukan penutupan di Mojokerto. Bulan puasa nanti, rencananya di Dadap dan Sanggrahan. Itu ada 600 penghuni,” papar dia.

Gubernur Kaltim Awang Faroek mengatakan, upaya penutupan seluruh lokalisasi prostitusi di Kaltim itu cukup berliku. Ada pihak-pihak yang menolak keras rencana tersebut.

“Ada salah seorang ketua DPRD yang tidak setuju pada penutupan ini,” ungkapnya. Namun, dia bersyukur seluruh proses berjalan dengan baik. Tidak ada aksi anarkistis.

Awang menjelaskan, penutupan serempak itu bertujuan agar eks PSK tidak lari ke lokalisasi lain di Kaltim. Sebagaimana yang terjadi saat Dolly ditutup, dia memprediksi ada beberapa yang pindah ke daerah pimpinannya. (mia/c9/agm/jpg)

Respon Anda?

komentar