Selamatkan Biota Sungai Siak, Sekarang !

662
Pesona Indonesia
Sungai yang bisa dilewati aneka kapal.
Sungai yang bisa dilewati aneka kapal.

JARUM pendek jam dinding malam itu menyentuh angka 10. Tengku Ariful Amri belum lama pulas di peraduan. Mendadak telepon genggamnya berdering.

”Pak, sungai Bapak tercemar, ikan pada mati,” ujar suara di seberang yang ternyata salah seorang wartawan di Pekanbaru itu.

Kantuk Amri langsung sirna karena mendengar informasi mengejutkan tersebut. Pada malam itu juga, 6 Juni 2004, dalam tempo beberapa menit, Amri bersiap, lalu meluncur dari kediamannya, menuju lokasi di kawasan Palas, Kota Pekanbaru, Riau.

Di lokasi yang berdekatan dengan Jembatan Siak 2 itu, beberapa wartawan telah menunggu. Dengan ditemani sejumlah pewarta, dia langsung turun ke sungai. Di sana, ribuan ikan mengambang tak bernyawa.

”Hati saya remuk redam,” kenang peneliti senior itu ketika ditemui pada Minggu tiga pekan lalu (8/5).

Tapi, Amri sadar, dirinya tidak boleh berlama-lama terbawa perasaan. Sebagai peneliti, dia harus segera sigap. Mengambil sampel ikan, air, dan beberapa bahan lain yang diperlukan. Setelah dirasa cukup, sekitar pukul 2 pagi dia pulang dengan perasaan yang campur aduk. Sedih, marah, dan penasaran menjadi satu.

Dua belas tahun berlalu sejak malam menyesakkan itu, Amri mengaku, nyaris setiap tahun ada saja peristiwa ribuan ikan mati di sungai yang menjadi urat nadi perekonomian Riau tersebut. Tapi, yang paling parah terjadi pada malam 12 tahun silam tersebut. Sebanyak 1,5 ton ikan mati bersamaan.

Setelah diteliti, ikan-ikan itu ternyata terpapar limbah yang pekat. Residu dari industri dan rumah tangga, ditambah musim kemarau, membuat pasokan oksigen dalam air berkurang.

Dissolved oxygen (DO) alias oksigen terlarut di Sungai Siak menurun hingga di bawah 1 ppm (part per million). Padahal, dalam kondisi normal, kadar oksigen sungai tersebut 2–4 ppm. Tidak heran, ribuan ikan pun megap-megap. Ikan-ikan itu berenang untuk mencari sumber oksigen baru, tapi malah memperburuk keadaan. Akhirnya, ikan-ikan malang tersebut mati.

Telah lebih dari dua puluh tahun Amri mengabdikan hidup untuk meneliti sungai yang pernah tercatat sebagai sungai terdalam di Indonesia itu. Kini, di usia yang sudah 58 tahun, semangat Amri masih terus menyala ketika diajak untuk berbicara mengenai Sungai Siak. Terutama bila membandingkan kondisinya saat ini dengan yang dulu.

Sehari-hari Amri merupakan dosen senior Jurusan Kimia di Fakultas Matematika dan IPA Universitas Riau. Dia menyelesaikan studinya sebagai sarjana kimia di kampus tersebut. Kemudian, dia menempuh pendidikan master bidang kimia fisik di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia menyelesaikan studi S-2-nya pada 1987.

Amri ingat betul setiap detail sungai yang panjangnya mencapai 300 kilometer itu. Sejatinya dia mulai meneliti sungai tersebut pada 1993, tapi tidak rutin. Barulah pada 1996 dia kontinu melakukannya bersama rekan-rekannya di tim Rona Lingkungan Universitas Riau. Nama yang akhirnya populer karena para jurnalis selalu menjadikannya sebagai narasumber.

Sungai Siak menjadi buah bibir media nasional sejak 1988. Khususnya media elektronik seperti radio dan televisi, antara lain TVRI. Setelah televisi swasta mulai bermunculan pada 1989, isu lingkungan di Sungai Siak makin hangat.

”Sungai Siak termasuk salah satu trending topic untuk lingkungan hidup pada masa itu,” tutur pria kelahiran 7 Februari 1958 tersebut.

Persoalannya, pemberitaan media mengenai sungai tersebut terkadang simpang siur. Sebab, tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan kondisi sungai dengan gamblang. Dari situlah, Amri tertarik.

”Saya lihat, untuk menjawab berbagai berita yang simpang siur itu, salah satu cara yang paling tepat adalah penelitian,” ujarnya.

Secara kontinu, selama 20 tahun, Amri dan tim Rona Lingkungan memelototi setiap jengkal sungai yang menjadi andalan transportasi di Riau itu. Mengamati perubahan-perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun.

Amri dan tim memiliki 18 stasiun pengamatan yang akhirnya menghasilkan data. ”Data itu kami amati, selama 20 tahun, dan memberikan isyarat bahwa sungai itu masih tercemar berat,” lanjut pria kelahiran Pasir Pengaraian, Rokan Hulu, tersebut.

Salah satu indikatornya adalah temuan ikan moa (sejenis belut berukuran besar) dan ular sepanjang 8 meter yang ikut mati pada 2004. Ikan moa, tutur dia, hidup di kawasan hilir. Karena itu, menjadi menarik ketika ia ditemukan mati di kawasan dekat hulu. Itu menandakan bahwa kawasan hilir tercemar berat.

Indikator lainnya adalah aktivitas menangkap ikan secara tradisional di rumah terapung. Pada 1996, di kawasan hulu, yakni Kota Garo, ada sekitar 300 rumah terapung di Sungai Siak. Para nelayan menjalankan rutinitas itu dua pekan dalam satu bulan.

Selama dua pekan, nelayan memanen ikan dan mengolahnya. Ada ikan yang diasin atau diasap. Ada pula yang ditampung di dalam keramba agar tetap hidup. Dua pekan berikutnya, ikan-ikan itu dijual. Begitu terus rutinitas mereka setiap bulan.

Tapi, setiap tahun jumlah ikan terus menyusut. Puncaknya terjadi pada 2015. ”Rumah terapung tinggal 70 buah,” jelasnya.

Itu merupakan indikasi yang kentara bahwa tangkapan ikan di Sungai Siak tidak lagi menjanjikan. Temuan Amri lainnya antara 2005–2010, sebanyak 200–300 kilogram ikan mati setiap tahun di kawasan Maredan, Kabupaten Siak.

Fenomena tersebut terjadi pada puncak kemarau, antara Juni–Agustus. Penyebabnya sama, DO turun drastis. Itu adalah dampak berkurangnya debit air dan peningkatan aktivitas masyarakat pada saat yang sama.

Untuk mengetahui kondisi riil Sungai Siak, tidak bisa hanya melihat debit dan warna air. Ada sejumlah parameter kimia, biologi, dan fisika yang harus digunakan untuk mengukurnya. Amri sendiri menggunakan lima parameter kunci. Yakni, DO, BOD (biological oxygen demand), COD (chemical oxygen demand), TDS (total dissolved solid), dan TSS (total suspended solid).

Parameter itu lalu dikombinasikan dengan hasil pengamatan fisik, yakni pendangkalan. Nah, pendangkalan itulah yang menyebabkan konsentrasi limbah semakin tinggi. Aktivitas pembuangan tetap berlangsung dan tidak berkurang, sementara debit air penampung menyusut. ”Akhirnya, konsentrasi (limbah, Red) semakin pekat,” terang direktur Badan Kajian Rona Lingkungan FMIPA Universitas Riau itu.

Amri menuturkan, pada era 1960–1980-an, di Sungai Siak juga terdapat banyak biota ”monster”. Salah satu yang terbesar adalah ikan tapah dengan berat hingga 55 kilogram. Panjangnya bisa mencapai 2,4 meter.

Karena itu, tidak aneh bila pada tahun-tahun tersebut ikan yang memiliki nama ilmiah Wallago attu tersebut bisa memangsa kera yang minum di sungai. Bahkan, sempat muncul legenda bahwa ikan itu bisa memangsa anak-anak.

Biota lainnya adalah udang galah yang bobot per ekornya mencapai 1 kilogram. Juga ikan baung yang masih berkerabat dengan lele. Beratnya bisa mencapai 15 kilogram per ekor.

Ikan-ikan monster itu sangat mengandalkan kedalaman sungai untuk bergerak. Ketika sedimentasi terus terjadi, ikan-ikan tersebut kehilangan rumah sehingga saat ini terancam punah. Selain itu, plankton yang menjadi makanan ikan makin habis karena ekosistemnya terganggu.

Selama meneliti Sungai Siak, ada satu momen yang paling diingat oleh Amri. Yakni, momen pada tahun pertamanya. Dia ingat betul, saat itu Sungai Siak sedang banjir. Kala itu Amri bersama tim meminta bantuan sampan kepada masyarakat sekitar sungai untuk mengambil sampel air.

Namun, sampan tradisional tersebut hanya mampu memuat seorang penumpang. Jadilah mereka menggunakan lima perahu. Jarak air ke bibir sampan ketika itu hanya tersisa dua jari. Sementara itu, sungai tersebut sangat dalam, sekitar 20 meter.

”Di pohon-pohon, saya menemukan ular yang luar biasa banyaknya. Hitam kuning hitam kuning, dan itu amat berbisa,” kenangnya.

Di sisi lain, mereka harus mengamankan peralatan yang nilainya belasan hingga puluhan juta rupiah. Sedangkan pada saat bersamaan, Amri harus memastikan keselamatan dirinya dan tentu saja nelayan yang mendayung perahu.

”Bagi seorang peneliti, saat-saat seperti itu sangat mencekam,” tuturnya.

Yang agak melegakan Amri, program penghijauan yang dilakukan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota di kawasan Maredan, Kabupaten Siak, sukses. Sejak 2010, tidak ada lagi kasus ikan mati.

Namun, dia menyayangkan program itu tidak berlanjut di kawasan DAS (daerah aliran sungai) lain. Padahal, penghijauan kembali DAS terbukti ampuh untuk mengembalikan kondisi Sungai Siak.

Dengan segala keterbatasan di usia yang menjelang kepala enam, Amri memastikan akan terus meneliti Sungai Siak. Sebab, dia sudah punya data yang relatif lengkap. ”Sangat disayangkan kalau setiap tahunnya saya tidak mengambil data,” ucap anggota Dewan Pakar Kabupaten Rokan Hulu dan Siak itu.

Saat ini Amri juga sedang menyusun buku yang mengisahkan pengalamannya bersama tim Rona Lingkungan dalam meneliti Sungai Siak. Ada beberapa hal yang akan diungkapkan dalam buku tersebut. Yang pertama tentu saja aktivitas menyusuri Sungai Siak dan proses meneliti kondisi sungai itu. Kedua, dia akan menampilkan sisi budaya.

Intinya, kecintaannya kepada Sungai Siak yang diwujudkan lewat penelitian tak akan berakhir. Dengan segala risiko. Hanya, Amri tak berharap mendapat panggilan lagi di tengah malam untuk mendapati ribuan ikan mati di sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya itu. (*/c11/ttg)

Respon Anda?

komentar