Gempa Sumbar Terasa hingga Singapura

615
Pesona Indonesia
Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni melihat warga korban gempa di UGD RSUD Dr M Zein Painan, Pesisir Selatan, Kamis (2/6/2016): Foto: yoni Syahrial/padang ekspres
Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni melihat warga korban gempa di UGD RSUD Dr M Zein Painan, Pesisir Selatan, Kamis (2/6/2016): Foto: yoni Syahrial/padang ekspres

batampos.co.id – Getaran gempa berkekuatan 6,5 Skala Richter (SR) yang terjadi di lepas pantai Padang, Sumatera Barat pada Kamis (2/6/2016) pagi terasa hingga ke Singapura.

Channel News Asia, melaporkan setidaknya ada tujuh laporan warga yang merasakan getaran gempa. Masing-masing di daerah Bukit Panjang, Siglap, Punggol, dan Toa Payoh. Getaran gempa juga terasa di Johor, Malaysia.

“Getaran cukup kuat dan sampai beberapa menit,” kata Anya Kothary, warga Siglap yang tinggal di lantai 13 apartemen.

Baca juga: Sumatera Barat Diguncang Gempa, ak Berpotensi Tsunami

Seorang pengguna Twitter dengan akun @CholinsM dalam kicauannyajuga mengaku merasakan getaran gempa. Tweet itu disertai dengan video yang menampakkan goyangan lampu gantung akibat getaran yang ditimbulkan oleh gempa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan pusat gempat berada pada kedalaman 72 kilometer pada koordinas 2,29 Lintang Selatan dan 100.46 Bujur Timur atau 79 kilometer barat daya Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Gempa ini sempat membuat panik warga, termasuk para pasien dan perawat di sejumlah rumah sakit. Mereka berhamburan keluar rumah sakit.

Pantau Padang Ekspres (grup batampos.co.id) sekitar pukul 06:00 di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina terlihat sejumlah pasien berkumpul di halaman rumah sakit dan di pintu  gerbang rumah sakit yang ditemani oleh saudara pasien dan tenaga perawat. Sebagian besar pasien terlihat masih mengenakan infus.

Anisa, 45, salah seorang keluarga pasien di RS Ibnu Sina di Gunung Pangilun, menuturkan, saat terjadi gempa dia sedang menunggui keluarga nya yang sedang dirawat,  tiba-tiba ada terasa goncangan sekitar pukul 05:56 sontak dia kaget dan langsung keluar sambil menuntun saudaranya dengan infus masih melekat di lengan.

” Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, karena saya sudah trauma gempa 2009 lalu,” imbuhnya.

Sementara itu di Simpang Alai terlihat tidak ada kemacetan. ”Biasanya kalau gempa simpang Alai ini macet oleh kendraan namun sekarang tumben tidak macet,” ujar Iwan, warga Gunung Pangilun.

Dia menilai, sebagian warga mungkin sudah mengetahui bahwa gempa yang baru terjadi tersebut tidak berpotensi tsunami. “Masyarakat sudah cerdas sehingga mereka tidak berbondong-bondong untuk mencari tempat ketinggian,” ungkap pria yang sehari-hari bekerja sebagai guru di sekolah swasta ini.

Sedangkan di rumah sakit M. Djamil terlihat ratusan pasien yang tengah menjalani perawatan   di evakuasi keluar setelah merasakan getaran gempa seperti didepan IGD pasien di atas tempat tidur berjejer di depan IGD, Sebagian besar mereka berusia lanjut.

Beberapa meter dari IGD juga terlihat sejumlah pasien juga terlihat dievakuasi keluar ruangan sehingga juga terlihat berjejer di tempat tersebut dengan wajah cemas. Sedangkan para perawat mendampingi pasien yang dibantu oleh para dokter dan tenaga sekuriti rumah sakit.

Riki, 40, warga Kerinci mengaku saat terjadi gempa dia sempat panik, lalu melalui tangga darurat dia dibantu oleh perawat mengevakuasi orang tuanya keluar ruangan.

“Goyangan nya terasa kencang karena cermin rumah sakit terdengar bergetar, saya minta tolong ke perawat untuk minta bantuan mengevakuasi ibu saya keluar ruangan melalui tangga darurat,” kata pria berkulit putih itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Angga, 25,  keluarga pasien. Dia mengatakan ibunya dirawat di lantai dua. Saat terjadi gempa dia sedang di luar ruangan.

”Saat itu saya mau keluar sebentar untuk minum kopi namun tiba-tiba terjadi gonjangan, saya langsung ke lantai dua menemui ibu saya dan menevakuasinya ke luar yang dibantu oleh para medis,” ujarnya.

Sekitar pukul 07:20 satu persatu pasien mulai kembali ke ruangannya masing-masing dengan dibantu oleh tenaga medis dan sekuriti rumah sakit.

Sementara akibat gempa tersebut, dua orang terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena panik. Masing-masing mangalami patah kaki luka pada dada akibat tertusuk pagar besi yang berada di depan rumahnya.

Korban tersebut yakni Rozy Imuvel Ayunda, 22, yang mengalami luka pada dada dan tangannya akibat tertusuk pagar besi. Dia mengaku saat terjadi gempa hendak menyelamatkan diri keluar rumah. Namun naas bagi dirinya saat berlari dia terjatuh dan tertusuk pagar besi pada bagian dada dan kedua telapak tangannya.

“Saat gempa tersebut terjadi saya reflek saja keluar lari lewat atap kanopi. Saat berlarian saya terpeleset dan jatuh,” ungkapnya di ruang IGD M. Djamil Padang.

Korban gempa lainnya Geby, 21, yang merupakan mahasiswa peternakan Unand patah pada bagian kaki kirinya karena tertimpa temannya yang jatuh dari lantai dua rumah kos mereka di kampung Duri Kapalo Koto Limau Manih, Kecamatan Pauh Padang.

“Saat gempa terjadi teman saya jatuh dari lantai dua dan mengenai tubuh saya mengakibatkan tulang betis besar bagian kiri patah,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Medik dan Keperawatan RS M. Djamil Padang, Akmal Mufriadi, membenarkan ada dua orang korban gempa yang dirawat di IGD masing-masing mengalami patah kaki dan luka di bagian dada.

”Sampai saat ini rumah sakit M. Djamil masih menerima dua orang korban gempa sekarang mereka sedang menjalani perawatan,”pungkasnya.

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi(PPID) RSUP. M. Djamil Padang, Gustavianof menuturkan, terkait banyaknya pasien yang berhamburan keluar, dia mengatakan mitigasi bencana di RSUP M. Djamil sudah jelas karena pihaknya sudah punya protap tentang itu yang keluarpun tidak banyak.

”Yang terkejut sehingga keluar itu biasa, namanya juga gempa. Namun pasien yang keluar tersebut dikawal oleh perawat,” katanya.

Sementara itu masih adanya kepanikan pasien saat gempa, Pendiri Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) Patra mengatakan, rumah sakit sudah punya emergency plan sendiri seperti RSUP M. Jamil Padang. Mereka juga pernah ikut latihan juga tetapi tidak rutin.

”Sarannya latihan mitigasi di rutinkan karena yang namanya pasien kan tidak selalu sama dan perawat serta pegawai juga tidak selalu sama itu harus selalu di ujicobakan SOP yang mereka punya, kalau tidak kejadiannya akan berulang lagi,” katanya. (jpgrup)

Respon Anda?

komentar