Jangan Khawatir, Stok Beras Bulog Capai 750 Ton

387
Pesona Indonesia
Aktivitas masyarakat jual beli di pasar Puan Maimun, menjelang memasuki bulan suci Ramadan 1437H beberapa komoditi sembako mulai merangkak naik.foto:tri haryono
Aktivitas masyarakat jual beli di pasar Puan Maimun, menjelang memasuki bulan suci Ramadan 1437H beberapa komoditi sembako mulai merangkak naik. foto:tri haryono

batampos.co.id – Badan Urusan Logistik (Bulog) Karimun telah menyiapkan sebanyak 750 ton beras. Stok beras tersebut dipastikan mencukupi selama Ramadan, hingga Lebaran mendatang. Hal itu terungkap dalam hearing Bulog bersama Komisi II DPRD Karimun, Rabu (1/6) lalu.

”Alhamdulillah, stok beras cukuplah di Kabupaten Karimun. Tinggal bagaimana pendistribusian, beras bulog kepada masyarakat. Terutama di pulau-pulau yang hingga kini menjadi permasalahan bagi Bulog,” ungkap Ketua Komisi II M Yusuf Sirat, Kamis (2/6) kemarin.

Terpisah Kepala Perum Bulog Subdivre Batam dan Karimun Jamaluddin, menyebutkan, pihaknya telah melakukan Operasi Pasar (OP) yang dimulai 1 Juni hingga menjelang lebaran nanti. Untuk stok beras sebanyak 750 ton.

“Kita sudah mulai OP yang diawali untuk wilayah Kecamatan Meral, Meral Barat dengan mengambil lokasi di terminal Pasar Bukit Tembak. Hari pertama sudah didistribusikan sebanyak 4 ton beras murah,” ucapnya.

Lanjut Jamaluddin lagi, beras yang dijual kepada masyarakat memiliki kualitas medium. Beras tersebut hanya dijual seharga Rp 7.900 per kilogram. Agar pendistribusian beras murah itu bisa merata, maka masing-masing kepala keluarga (KK), maksimalnya hanya dibolehkan membeli satu karung beras dengan berat 50 kilogram.

”Stok beras di gudang bisa mencapai 4 bulan kedepan. Artinya, beras murah untuk masyarakat masih aman,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM dan Perindag) Karimun H Muhammad Hasbi ketika dikonfirmasi hal tersebut, mengatakan, bahwa untuk pendistribusian beras Bulog di wilayah hinterland seperti kecamatan Moro dan Durai masih dicarikan solusinya.

Sebab, harga eceran dari per kilogramnya Rp7900 dan disetor ke Bulog Rp7.300 per kilogram. Sehingga, ada sisa Rp 600 per kilogramnya. Dengan demikian menjadi kendala saat ini, keuntungan tersebut tidak mencukupi untuk biaya operasional oleh pihak kecamatan. Artinya, secara hitungan matematika tidak masuk akal.

”Nah itu masalahnya sekarang. Kita sedang membahas sama pihak Bulog, apakah boleh dijual di atas rata-rata,” singkatnya. (tri/bpos)

Respon Anda?

komentar