Kebutuhan Minyak Tanah Meningkat, Masyarakat Hanya Dijatah 2,5 Liter

339
Pesona Indonesia
Warga membeli jatah minya tanah, 2,5 liter seharga Rp 9 ribu untuk kebutuhan satu minggu. foto:aulia rahman/batampos
Warga membeli jatah minya tanah, 2,5 liter seharga Rp 9 ribu untuk kebutuhan satu minggu. foto:aulia rahman/batampos

batampos.co.id – Warga Ranai, Natuna, mulai khawatir dengan berkurangnya jatah minyak tanah. Hingga saat ini, penyaluran minyak tanah dinilai sangat kurang diterima masyarakat. Bahkan di Kelurahan Ranai Darat, satu kepala keluarga hanya dijatah 2,5 liter untuk satu minggu. Padahal Natuna daerah penghasil minyak.

Masyarakat berharap, pemerintah menambah kuota minyak tanah kepada masyarakat. Tidak hanya di bulan Ramadan namun seterusnya.

“Kita khawatir juga, bulan puasa kan masaknya lebih sering. Tapi minyak tanah hanya 2 liter seminggu, itu pun harus berebut,” tutur Lia, ibu rumah tangga di Kelurahan Ranai Darat, Kamis (2/6).

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Pemkab Natuna, Ilham Kauli mengatakan, pemerintah daerah sudah rutin menyurati pertamina dan BPH Migas agar mengevaluasi kuota BBM termasuk minyak tanah. Dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan pembangunan Natuna saat ini perlu penambahan pasokan BBM.

Namun hanya saja, kata Ilham, penambahan kuota tidak bisa direalisasikan. Tahun ini diharapkan BPH Migas menambah kuota khususnya minyak tanah, mengingat Natuna tidak masuk dalam program konversi gas.

“Sekarang jatah minyak tanah memang sedikit diterima masyarakat, pemda sudah rutin surati ke BPH migas maupun pertamina, supaya tambah kuota,” kata Ilham.

Bahkan menyambut bulan puasa, kata Ilham, pemda juga rutin menyurati pertamina agar menambah kuota BBM. Menyesuaikan pertumbuhan penduduk dan perkembangan tingkat sosial saat ini.

Pemda mengusahakan secepatnya. Jauh sebelumnya pemerintah sudah meminta data di kecamatan berapa kebutuhan BMM berdasarkan jumlah penduduk sebagai data pendukung. Dan data di dinas kependudukan.

“Memang di bulan puasa pertamina menyalurkan BBM ekstra droping. Tapi realisasi penyalurannya sering telat, jadi momen bulan puasa tidak tepat, menjadi beban APMS atau agen minyak tanah,” ujar Ilham.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar