Ramadan Sembako Meroket, Jokowi Ingin Harga seperti 2012, Buktikan!

1135
Pesona Indonesia
Karyawan Toko Acen di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji saat membungkus gula pasir, Selasa (17/5). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Karyawan Toko Acen di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji membungkus gula. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id -Harga kebutuhan pokok yang terus meroket di bulan Ramadan menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Ia berharap harga kebutuhan pokok bisa kembali ke tahun 2012 yang saat itu cenderung stabil.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, pemerintah dan seluruh pihak memang semestinya mengantisipasi kenaikan beberapa komoditi utama memasuki Ramadan.

Meski, lanjutnya, komoditi utama di Indonesia yakni beras mengalami kenaikan harga yang tipis dan masih dalam level aman.

”Sebetulnya kalau beras cenderung naik, tapi tipis naiknya. Justru yang harus diwaspadai adalah harga daging sapi yang kita tahu dari tahun ketahun trend cukup tinggi. Tahun 2012 masih Rp 80 ribu-an, 2013 Rp 90 ribu-an, di 2015 lalu di atas Rp 110 ribu per kilogram. Pak Jokowi ingin kembali ke harga 2012,” katanya, Sabtu (4/6/2016).

Secara umum sepanjang masa Lebaran tahun-tahun lalu, ada beberapa komoditas pangan yang harus lebih diperhatikan terkait kenaikan harganya.

Misalnya, telur ayam, ikan, cabai, bawang merah dan bawang putih. ”Kemudian yang perlu diwaspadai lagi adalah gula pasir dan minyak goreng,” imbuhnya.

Sasmito melanjutkan, dari data statistik memperlihatkan bahwa hingga saat ini harga untuk komoditas pangan seperti halnya beras cenderung aman. Hal itu disebabkan oleh langkah pemerintah sangat menjaga ketersedian bahan makanan.

Terutama komoditas utama RI seperti beras. ”Ini kan akibat intervensi pemerintah, kalau tidak ada bisa-bisa harga beras tinggi, terutama untuk tingkat eceran,” katanya. (dee/sam/jpnn)

Respon Anda?

komentar