Kirim Doa untuk Nyai Lembah Peletak Dasar Kerajaan Demak

725
Pesona Indonesia
Suasana Masjid Agung Demak.
Suasana Masjid Agung Demak.

batampos.co.id – Matahari bergerak perlahan meninggalkan posisinya di ufuk timur. Menabur kehangatan di kolong langit Demak. Di salah satu sudut kota, warga baru saja melakoni cerita kehidupan mereka pada hari yang baru. Berbagai ekspresi pun dipamerkan.

Ibu-ibu rumah tangga melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat terhenti karena melepas suami bekerja dan anak ke sekolah. Beberapa pria menyeruput kopi di salah satu warung sederhana.

Sesekali diskusi ringan terlontar dengan beragam tema. Sekitar 20 meter di depan warung itu, tampak beberapa warga yang masih berlari-lari kecil dan bersenam di alun-alun kota, persis di depan Masjid Agung Demak (MAD).

Jalan Kauman II, Bintoro, Demak, menampilkan atraksi kehidupan yang normal pagi itu. Berlangsung tanpa cela. Bahkan dimeriahkan lantunan ayat suci Alquran yang terdengar nyaring diantar pengeras suara dari kejauhan.

Dari suaranya, sudah bisa ditebak ayat suci tersebut dilantunkan perempuan. Burung-burung berhenti terbang dan berbaris di atas dahan pohon di depan rumah warga. Semua ikut mendengar. Menghayati setiap kalam Tuhan yang dibacakan dengan penuh syahdu.

Suara itu ternyata bersumber dari salah satu tempat yang masih berada di Jalan Kauman II. Bangunan sederhana yang berada di halaman Makam Sentong Ratu. Di dalam ruangan bercat putih berukuran 5 x 8 meter tersebut, tampak empat perempuan khidmat membaca Alquran.

Mereka bergantian menggunakan satu-satunya mikrofon di tempat itu. Sesekali perempuan yang mendapat giliran mengaji harus mengatur ulang jarak mikrofon dengan mulutnya karena kabel alat pengeras suara tersebut ditarik-tarik dua anak kecil.

Ya, dua di antara empat perempuan berkerudung itu memang menyertakan anak-anaknya untuk berada bersama mereka.

Makam Sentong Ratu salah satu tempat sakral di Jalan Kauman II, Bintoro. Di dalamnya terkubur jasad perempuan hebat yang memiliki andil besar terhadap laju sejarah Kabupaten Demak. Dia adalah Ratu Ayu Kasmoyo atau Mbah Ratu.

Perempuan yang juga dikenal dengan sebutan Nyai Lembah tersebut merupakan adik satu ayah beda ibu dari Raden Patah, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Demak.

Nyai Lembah-lah orang pertama yang ditemui dan dimintai petuah oleh Raden Patah sebelum merintis daerah yang di kemudian hari menjadi Kerajaan Demak.

Awalnya Demak merupakan kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Sebelum berstatus kadipaten, wilayah itu dikenal dengan sebutan Glagah Wangi. Nah, di Glagah Wangi itulah terdapat tokoh perempuan yang bernama Nyai Lembah atau Siti Aminah. Atas saran Nyai Lembah, Raden Patah bermukim di Desa Glagah Wangi yang selanjutnya berganti nama menjadi Bintoro Demak.

”Tak heran jika Nyai Lembah ini dikenal sebagai peletak pertama cikal bakal lahirnya Kerajaan Demak,” ujar Imaduddin, kepala Museum MAD, saat ditemui di salah satu musala yang berjarak sekitar 10 meter dari Makam Sentong Ratu Kamis lalu (2/6).

Ada banyak cara spesial yang dilakukan masyarakat Kauman II, Bintoro, untuk menghormati jasa Nyai Lembah. Salah satunya yang dilakukan empat perempuan itu. Perempuan-perempuan tersebut merupakan orang terpilih.

Mereka adalah hafizah –sebutan bagi penghafal Alquran perempuan– yang bacaannya tidak perlu diragukan lagi. Mereka dipilih untuk mengantar doa suci bagi Nyai Lembah dari bumi agar bisa menembus langit ketujuh. ”Sekarang nyadran berjamaah sekali dalam setahun,” ucap Imaduddin.

Nyadran atau ruwahan memang tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Jawa menjelang Ramadan. Namun, yang membuat nyadran khusus Nyai Lembah teramat istimewa adalah dilakukan para hafizah. Dari bibir para perempuan itu diyakini mengalir sungai doa.

Arusnya sangat deras. Menghanyutkan segala harapan keselamatan bagi perempuan yang sangat dicintai dan dipuji para makhluk bumi. Bagi masyarakat, hanya doa yang bisa mereka persembahkan untuk perempuan yang telah berjasa membangun peradaban Demak tersebut.

Jarum jam di dinding musala tak henti bergerak. Bersamaan dengan itu pula, bacaan ayat suci Alquran terus dilantunkan. Sampai akhirnya suara itu tidak terdengar lagi sekitar pukul 11.00.

Menurut Imaduddin, sudah waktunya para hafizah beristirahat sementara waktu sebelum mengaji lagi pukul 12.00.

Para hafizah itu ialah Muthoharoh, Masruroh Rahman, Nailatul Muna Ulum, dan Sholihatus Sofiah Faizin.

”Sebenarnya tahun lalu kami berlima, cuma satu orang lagi sedang di luar kota,” jelas Muthoharoh.

Bagi Muthoharoh, nyadran untuk Nyai Lembah merupakan kesempatan mulia yang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Banyak warga Kauman II yang ingin melakukan kegiatan serupa, tapi tidak percaya diri dengan bacaan Alquran mereka.

Karena itu, empat tahun ikut nyadran adalah momen yang mesti disyukurinya. Harus terus berlanjut di tahun-tahu berikutnya. Dia pun bertekad terus mengasah kemampuan tentang ilmu Alquran agar bacaan yang dilantunkan semakin mengandung kekuatan ajaib.

”Lagi pula, hati juga tentrem bisa kirim doa untuk Nyai (Lembah),” ungkap perempuan berkacamata itu sembari tersipu.

Peran Nyai Lembah memang telah tercatat rapi dalam sejarah Kerajaan dan Kabupaten Demak. Lebih khusus lagi di Jalan Kauman II. Sahih. Tidak ada argumen yang sanggup membantahnya.

Meski begitu, tugas generasi setelahnya tidak boleh berhenti hanya dengan membaca dan mengagumi peristiwa yang menyejarah. Karena kehidupan masih terus berlanjut, sejarah kebaikan harus pula dilanjutkan.

Salah satunya dengan belajar dari rekam jejak yang diwariskan Nyai Lembah. Dan Muthoharoh beserta kawan-kawan telah memulainya untuk kita. (fai/c9/agm)

Respon Anda?

komentar