Defisit Daya, PLN Upaya Tiada Pemadaman Bergilir

1337
Pesona Indonesia
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjungsebatak. foto:tri haryono/batampos
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjungsebatak. foto:tri haryono/batampos

batampos.co.id – Sejak bulan lalu PLN Tanjungbalai Karimun mengalami defisit atau kekuarangan daya yang disebabkan kerusakan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Meski demikian, PLN berupaya untuk tidak melakukan pemadaman pada saat Ramadan, khususnya ketika waktu umat muslim sedang berbuka puasa dan bersahur.

”Memang, saat ini kita kekuarngan daya sekitar 2 megawatt. Hal ini disebabkan dua unit mesin PLTU mengalami kerusakan. Sehingga, kita mendatangkan mesin sewa dengan kapasitas 3 megawatt. Hanya saja, tetap belum mencukupi. Untuk itu, pedaman untuk pemukiman masyarakat kita upaya dan kita hindari jangan sampai terjadi. Khusunya ketika sedang berbuka puasa atau sahur,” ujar Kepala Ranting PLN Tanjungbalai Kariumun, Dedi Januar, Senin (6/6).

Meski begitu, kata Dedi, pemadaman tetap dilakukan karena kekurangan daya. Hanya saja, sasarannya adalah tempat hiburan dan perhotelan. Khususnya mulai sore sampai dengan tengah malam. Dia juga berharap kondisi cuaca tidak terlalu panas. Sehingga, tidak memberikan dampak atau pengaruh terhadap mesin PLTD yang ada di Bukit Carok. Karena, kalau cuaca terlalu panas, maka penggunaan listrik juga semakin tinggi. Khususnya, untuk mendinginkan suhu ruangan.

Salah seorang pengelola tempat hiburan malam yang enggan dikorankan namanya menyatakan, kondisi listrik padam setiap sore dan baru hidup tengah malam sudah berlangsung lebih dari satu bulan. ”Akibatnya, kita terpaksa menyediakan genset yang kapasitasnya mampu untuk mengoperasionalkan tempat usaha kita. Bahkan, biaya operasional jadi bertambah banyak. Sebab, dalam satu malam harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli minyak solar,” paparnya.

Dalam satu malam, lanjut pengelola tempat hiburan ini, bisa mengeluarkan biaya Rp1,5 juta sampai Rp2 juta. Kalau dihitung selama satu bulan penuh bisa menghabiskan puluhan juta untuk operasional. Dia berharap masalah listrik di Pulau Karimun agar dapat segera selesai. Sebab, kebutuhan akan listrik bukan klagi kebutuhan nomor dua, melainkan sama pentingnya dengan pangan dan pakaian. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar