Harga Sembako Masih Melambung, Pemerintah Malah Klaim Turun

310
Pesona Indonesia
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra bersama Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) saat  sidak di Kawasan Industri Tunas, Batamcenter. Kamis (19/5/2016). Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra bersama Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) saat sidak di Kawasan Industri Tunas, Batamcenter. Kamis (19/5/2016). Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos.co.id – Persoalan harga bahan pokok yang masih tinggi masih harus dicarikan solusi. Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Senin (6/6/2016) dipanggil Presiden Joko Widodo untuk membicarakan perkembangan harga bahan pokok.

Dia mengklaim harga bahan pokok mulai turun. Khususnya, sejumlah komoditas seperti beras, cabai, bawang, maupun daging ayam dan minyak goreng.

Mengenai daging sapi, Amran memastikan bakal melanjutkan operasi pasar seperti yang dilakukan di sejumlah titik di Jakarta Minggu (5/6/2016) lalu. Daging tersebut dijual Rp 75 ribu per kilogram. Saat dicek, dengan harga tersebut pengusaha sudah untung Rp 5.000 per kilogram.

’’Kita akan lanjutkan minimal sampai Desember dan kita upayakan seterusnya harga 75 ribu yang kemarin,’’ tutur Amran.

Amran mengungkapkan, total daging yang diimpor tahun ini mencapai 27,4 ribu ton. Sebanyak 10 ribu di antaranya diimpor oleh Bulog, sisanya oleh BUMN maupun swasta.

Informasi yang diperoleh, daging beku dari Brasil dan Australia saat ini masih dalam perjalanan. Diperkirakan, daging tersebut baru akan tiba di Indonesia pada pekan depan.

Dia menjamin Indonesia tidak akan ketergantungan impor, karena jumlah tersebut masih di kisaran 19 persen dari kebutuhan daging nasional. Sebanyak 81 persen kebutuhan daging dipasok dari lima provinsi. NTT, NTB, Jatim, Lampung, dan Sulsel.

Begitu pula dengan harga bawang merah, yang dijaga di kisaran Rp 25 ribu per kilogram pada tingkat konsumen. Di tingkat petani sudah ada kesepakatan harga bawang Rp 15 ribu per kilogram.

Dengan demikian, petani tetap untung, namun, konsumen tidak sampai membeli bawang dengan harga mahal. Pihaknya saat ini mengimpor bibit bawang untuk menekan biaya produksi yang harus ditangung petani.

Hal lain yang perlu diselesaikan adalah anomali harga. Amran menuturkan, pada beberapa komoditas, terjadi anomali. Indonesia punya stok 1,6 juta ton CPO. Di saat yang sama, kebutuhan nasional hanya 400 ribu ton. Sehingga masih surplus dan diekspor. Anehnya, harga minyak goreng masih tinggi.

’’Khusus minyak goreng, kita sudah sepakat turun 5,5 persen seluruh Indonesia dari produsen,’’ ujar Menteri asal Bone, Sulawesi Selatan, itu.

Begitu pula ayam, dengan stok yang surplus, di beberapa daerah harganya justru naik. Dia pun membenarkan bahwa pangkal persoalan tersebut ada pada distribusi. Itulah yang harus dicarikan penyelesaian.

Pada prinsipnya, tutur Amran, Presiden hanya menginginkan harga komoditas bisa lebih rendah dari yang berlaku di pasaran saat ini. Merujuk pada hasil operasi pasar dua hari lalu, Amran masih yakin harga daging sapi bisa turun. Sebab, dengan harga Rp 75 ribu saja pedagang sudah mendapatkan untung.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyatakan masih menyelidiki rantai distribusi bahan pokok mulai dari tangan produsen hingga ke tingkat pengecer.

Dia mencontohkan harga daging yang saat ini masih tinggi. Menurut dia, jalur antara feedloter atau pengusaha penggemukan sapi hingga ke jagal sejauh ini tidak ada masalah. Harganya relatif tidak berubah.

’’Tapi, dari jagal ke pasar ini ada masalah,’’ ujar Badrodin di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (6/6/2016).

Badrodin menyatakan, jajarannya masih mencari tahu komponen mana di antara jagal dan pedagang yang perubahannya besar.

’’Nanti kita lihat apakah di situ ada permainan atau tidak,’’ lanjut Jenderal asal Umbulsari, Jember, itu. Sebab, kenaikan harga bahan pokok memang memunculkan dua kemungkinan. Permainan spekulan atau murni proses pasar.

Dalam memonitor harga-harga di pasar, pihaknya menggandengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Ketua KPPU Syarkawi Rauf menuturkan, perlu ada pembenahan terhadap rantai distribusi bahan pokok. Untuk daging, dia menyebut rantai distribusinya masih belum sederhana.

’’Jadi antara feedloter dengan RPH itu ada perantaranya. Dari RPH ke retailer itu juga nggak langsung,’’ terangnya. Itulah yang perlu dibenahi. (byu/far/gen/dee/jpgrup)

Respon Anda?

komentar