Pasukan Irak Kuasai Fallujah Selatan, Temukan Kuburan Berisi 400 Mayat

792
Pesona Indonesia
Militer Irak saat terlibat pertempuran sengit dengan ISIS, 1 Juni 2016. Foto: AP/www.voanews.com
Militer Irak saat terlibat pertempuran sengit dengan ISIS, 1 Juni 2016. Foto: AP/www.voanews.com

batampos.co.id – Pasukan Irak melanjutkan aksi ofensif di Kota Fallujah, Irak, setelah berhasil menancapkan bendera negara di kawasan Saqlawiyah pada Minggu (5/6/2016).

Di kawasan pinggiran Fallujah tersebut, militer Negeri Seribu Satu Malam itu menemukan kuburan masal berisi mayat sekitar 400 personel keamanan.

”Militer Irak, polisi federal, dan Hashed Al Shaabi menemukan kuburan masal di kawasan Shuhada saat melakukan operasi pembersihan ranjau,” kata seorang polisi berpangkat kolonel kepada media, Senin (6/6/2016).

Dia menjelaskan, sebagian besar mayat di kuburan masal tersebut tewas karena peluru yang bersarang di kepala. Selain personel keamanan, ada mayat warga sipil dalam kuburan masal tersebut.

Rajeh Barakat, anggota dewan Provinsi Al Anbar, yakin seluruh mayat itu tewas di tangan militan Negara Islam alias Islamic State (IS atau ISIS).

”Daesh (sebutan ISIS dalam bahasa Arab) mengeksekusi warga sipil yang mereka anggap menjadi mata-mata pemerintah atau yang melanggar aturan mereka di wilayah kekuasaan mereka tersebut,” terangnya lebih lanjut.

Hingga Senin, sekitar 50.000 warga terjebak di Fallujah. Sebab, ISIS tidak rela warga sipil yang selama ini menjadi tameng hidup mereka itu melarikan diri. Setiap kali ada warga yang kedapatan melarikan diri, ISIS pasti menembaki mereka.

Tetapi, desing peluru tidak menciutkan nyali warga yang sudah terlalu putus asa. Mereka tetap berlari meski akhirnya hanya segelintir yang bisa meninggalkan Fallujah.

”Kami tampung mereka yang berhasil menyeberang Sungai Eufrat di kamp-kamp yang sudah disediakan pemerintah dan PBB. Di sana mereka langsung memperoleh kebutuhan pokok, termasuk pemeriksaan medis,” kata Nasr Muflahi, direktur regional Norwegian Refugee Council (NRC) di Irak.

Warga sipil yang kabur dari sarang ISIS di pusat kota itu tidak membawa apa pun, kecuali baju yang melekat di badan. Untuk bisa mencapai kamp penampungan, warga Fallujah harus melewati sedikitnya dua rintangan. Yaitu, ISIS yang konsisten menembaki warga yang hendak kabur serta Eufrat. Sungai yang membatasi Fallujah di sisi barat tersebut tidak mudah diseberangi. Mengingat, jarak menuju titik penyeberangan di sisi lain sungai itu hampir mencapai 300 meter. Warga pun hanya menggunakan perahu atau rakit seadanya untuk menyeberang.

Karena Efrat juga bukan sungai yang mudah diseberangi, insiden perahu terbalik atau warga tenggelam selalu mewarnai upaya penyeberangan.

”Biasanya, anak-anak yang menjadi korban di sungai itu. Mereka tenggelam karena tidak bisa berenang saat perahu oleng atau terbalik,” jelas salah seorang perwakilan UNHCR, badan pengungsi PBB, di Irak.

Kepada media, beberapa warga Fallujah yang berhasil mencapai kamp penampungan menuturkan bahwa kondisi kota mereka sangat memprihatinkan. Kota yang hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Baghdad itu tidak lagi punya air bersih.

”Mereka yang terjebak di sana tidak memiliki cukup makanan atau minuman, obat-obatan, dan akses air bersih,” ungkap UNHCR.

Sementara itu, pertempuran antara pasukan pemerintah dan ISIS masih berlanjut di beberapa titik Fallujah. Sejauh ini pasukan pemerintah yang didukung paramiliter Hashed Al Shaabi mengambil alih wilayah di sebelah barat Efrat. Pasukan pemerintah bercokol di wilayah selatan. Dari selatan, mereka terus merangsek maju dan mengepung kota tersebut.

”Kami sudah berada di gerbang Fallujah sekarang,” papar Abu Mahdi Al Muhandis, wakil ketua Popular Mobilisation Forces (koalisi paramiliter yang di dalamnya ada Hashed Al Shaabi).

Dari gerbang itu, mereka akan berusaha masuk sampai ke jantung pertahanan ISIS di pusat kota. Namun, untuk mencapai sarang militan sempalan Al Qaeda tersebut, mereka harus lebih dulu berhadapan dengan tameng manusia.

Keberadaan warga sipil itulah yang membuat operasi perebutan kembali Fallujah dari tangan ISIS tersebut lamban. Perdana Menteri (PM) Iraq Haider Al Abadi menegaskan bahwa militer tetap harus mengutamakan keselamatan warga sipil dalam ofensif darat tersebut.

Karena itu, sejak dilancarkan pada Mei lalu, operasi yang melibatkan pasukan paramiliter dari kubu Syiah dan Sunni tersebut belum mencapai pusat kota. (AFP/aljazeera/hep/c14/any)

Respon Anda?

komentar