Perpaduan Kedisiplinan Jurnalistik dan Keterampilan Menulis Sistematis

Wawancara dengan Hasan Asphani seputar Penulisan Novel Biografis

535
Pesona Indonesia
Hasan Aspahani
Hasan Aspahani

HASAN Aspahani adalah kompleksitas. Seorang sarjana pertanian yang calon magister bisnis yang wartawan yang kartunis yang penyair yang fotografer yang penyair yang cerpenis yang esais yang kolomnis dan yang novelis. Paling mutakhir, Hasan telah merampungkan biografi penyair besar Chairil Anwar.

Berikut ini hasil wawancara Jembia dengan Hasan Aspahani seputar proses penulisan novel biografis.

Fatih Muftih (FM): Apa kabar, Bang? Sedang sibuk merampungkan buku apa?

Hasan Aspahani (HAH): Baik. Saya penulis dengan agenda yang buruk. Ada satu buku saya yang sudah selesai tentang biografi Chairil Anwar. Dua lagi buku yang juga berlatar belakang sejarah sedang berhenti penulisannya. Saya kira menunggu selesai buku Chairil Anwar dalam penerbitannya nanti, dua buku berikutnya akan saya bereskan. Bahan-bahannya sudah menumpuk.

(FM): Dengar-dengar Biografi Chairil Anwar akan terbit tahun ini ya? Kapan itu?

(HAH): Ya, buku Chairil ini harusnya tahun lalu sudah terbit. Tahun ini naskahnya pindah ke penerbit lain. Editornya meminta ada beberapa bab yang ditulis ulang agar lebih naratif. Ini sedang saya kerjakan sekarang. Bab-bab yang ditandai itu sejak awal saya niatkan sebagai bab yang melatarbelakangi sosok Chairil, misalnya sejarah kota Medan dan sejarah kesultanan Deli. Ini bagi saya penting diketahui karena ayahnya Chairil adalah seorang controleur, pejabat pribumi yang menjadi penghubung pemeritnah kolonial dan penguasa lokal.

(FM): Biografi Chairil Anwar adalah genre penulisan yang kali perdana Abang lakoni. Bagaimana pengalaman selama proses penulisannya?

(HAH): Ya. Risetnya asyik. PDS HB Jassin banyak menyediakan naskah yang berkaitan dengan riset saya tentang Chairil. Juga Perpustakaan Nasional. Saya juga wawancara dengan anak Chairil dan adik seayahnya.

(FM): Sebetulnya, apa yang membedakan penulisan biografis dengan prosa lain, terkecuali bersandarkan pada fakta sang tokoh?

(HAH): Bagi saya menulis apa saja ya sama. Saya memanfaatkan metode jurnalistik ketika mengumpulkan fakta-fakta. Sangat disiplin. Cek dan cek ulang. Lalu memilih fakta-fakta itu dan merangkainya jadi informasi yang sistematis. Dalam hal biografi sistematis artinya saya membayangkan pembaca mendapatkan latar belakang dari tindakan dan keputusan hidup si tokoh yang sedang diceritakan.

(FM): Novel biografis erat kaitannya dengan model penulisan obituari? Benarkah begitu?

(HAH): Obituari kan tulisan pendek tentang seseorang yang baru saja meninggal. Biografi atau novel biografis lebih lengkap.

(FM): Adakah cara khusus untuk menghindarkan penulisan tokoh yang meninggal sehingga tidak berkesan cuma menarasikan curicculum vitae?

(HAH): Harus ada sentuhan pribadi. Si penulis menceritakan persentuhan pribadinya dengan tokoh yang ia tulis.  Itu sebabnya kita pernah punya penulis obituari yang sangat hebat yaitu Rosihan Anwar. Tulisan-tulisan obituarinya atas tokoh-tokoh pejuang sangat personal karena Rosihan hidup bersama mereka. Dia bahkan ikut menjemput Jenderal Sudirman keluar dari hutan menghentikan perang gerilya.

(FM): Selain menjaring pendapat-pendapat kerabat mengenai tokoh, bagaimana kiat Abang mengumpulkan fakta-fakta pendukung untuk menulis sebuah novel biografis?

(HAH): Kalau ada kawan, kerabat, keluarga yang masih hidup seharusnya kita dapat informasi berharga. Saya juga dapat informasi dari buku biografi tokoh lain, ini juga bahan yang bagus. Untuk Chairil misalnya, saya mengumpulkan bahan mungkin lebih dari 35 buku yang bahkan pada buku itu awalnya tak terbayangkan akan saya temukan kisah tentang atau berkaitan dengan Chairil.

(FM): Bertolak dari segala pertanyaan yang sudah-sudah, bagaimana seorang Hasan Aspahani melihat novel biografis atau obituari? Seberapa perlukah untuk diedarluaskan dan diterbitkan di koran?

(HAH): Obituari ditulis untuk memberi penghargaan kepada sosok yang meninggal. Koran tentu sangat perlu memiliki penulis obituari yang baik. Novel biografis atau biografi berharga kalau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tindakan tokoh yang ditulis. Kalau sekadar bercerita tentang si tokoh dari lahir hingga meninggal, tentu kurang menarik. Dari motif, pertimbangan si tokoh ketika bertindak atau berbuat sesuatu kita bisa belajar banyak.

(FM): Adakah pangsa pasar pembacanya?

(HAH): Buku yang ditulis dengan baik, selalu punya pembaca.

(FM): Pesan kepada penulis novel biografis atau obituari?

(HAH): Penulis apapun sama saja, banyak-banyak membaca.

(FM): Terima kasih banyak, Bang. Kalau Biografi Chairil Anwar terbit, pastikan mengabari Jembia ya. Salam.

(HAH): Pasti itu. Salam.

Respon Anda?

komentar