Sempena, Majalah di Tanjungpinang yang Tercetus dari Kedai Kopi

567
Pesona Indonesia
Sampul majalah Sempena
Sampul majalah Sempena

Empat dasawarsa silam, masyarakat Tanjungpinang tidak berlangganan majalah dari Jakarta. Karena di tahun 1968, mereka sudah punya majalah bulanan idolanya; Sempena.

Sejarawan Kepri Aswandi Syahri, dalam sebuah artikelnya, mencatat, majalah ini lahir setelah kehidupan sosial-politik di Tanjungpinang membaik usai hiruk-pikuk konfrontasi dengan Malaysia.

“Saat itu, sejumlah pers tempatan (lokal) bermunculan di Tanjungpinang. Termasuk Sempena, yang eksis bertahan hingga 1972,” ujar Aswandi.

Agak menggelitik ketika mengetahui ide mula tercetusnya penerbitan Sempena yang dipelopori seniman dan cendekiawan Tanjungpinang saat itu. “Bukan di sekolah, perpustakaan, atau pun, perkantoran. Tapi, di kedai kopi,” kata Aswandi seraya tertawa. Bahkan, ihwal kedai kopi ini turut dimuat dalam sekapur sirih nomor perdananya, edisi April 1968.

Tertulis dengan ejaan lama, “Dimedja kedai kopi inilah sering seniman2 dan tjendekiawan tempatan membintjangkan perlu adanja suatu penerbitan jang “Chas” bercirikan Riau sebagai pembimbing bagi orang2 jang berhasrat mengetahui keadaan daerah ini, baik mengenai kebudayaan maupun selera masjarakatnja.” Hanya saja, Aswandi tidak mendapatkan catatan historis nama kedai kopi, tempat perbincangan para pelopor Sempena ini.

Ada pun moto atau jargon yang disematkan pada majalah yang dipimpin Sudirman Bachry (Abang kandung penyair Sutardji Calzoum Bachri) adalah “Ringan dan Bermutu.” Ringan karena berisikan rubrik ilmu pengetahuan, berita, dan informasi tentang Tanjungpinang dan Kepulauan Riau semasa itu.

Terkait moto bermutu, Aswandi punya istilah lain.

“Dapat dikatakan sebagai majalah plus,” ujarnya. Karena selain senarai rubrik majalah pada umumnya, Sempena juga dilengkapi dengan seni esai-esai kedudayaan dan karya-karya sastra ternama.

“Majalah Sempena ini tempat seniman seperti Ibrahim Sattah, Rida K Liamsi yang menggunakan nama pena Iskandar Leo, Abbas M, Rin Rijanto, mempublikasikan karya-karya awal mereka,” terangnya.

Selain karya sastra tempatan, Sempena tak lupa menyisipkan karya-karya sastrawan dunia yang diterjemahkan dari berbagai bahasa dunia oleh Hasan Junus.

Sementara urusan pemasaran, Sempena punya cara yang unik. Dituliskan, “diedarkan terbatas setjara kekeluarggaan kepada pentjinta-pentjinta kesenian/ kebudayaan dan ilmu Pengetahuan.”

Namun, Aswandi menyebutkan, peredaran Sempena hingga ke luar kota.

“Dari Tanjungpinang sampai ke Kijang, Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, Kundur, Moro, Tambelan, Tarempa, Midai, Ranai, Sedanau, hingga Jakarta dan Bandung,” sebut Aswandi.

Sedangkan Setiap terbitnya, cover majalah berukuran 21 senti x 14,5 senti ini dilengkapi dengan ilustrasi yang dibuat secara manual menggunakan klise berupa stempel timah, kayu, atau karet yang di-cap satu demi satu menggunakan mesin cetak handpress. Namun demikian, tak sedikit pula sampul Sempena dicetak manual menggunakan tangan. Termasuk ilustrasi grafis pada setiap halaman majalah ini dilukis menggunakan pena khusus stensil ketika isinya diperbanyak menggunakan mesin stensil.

Adalah Arijoes Syarbaini, seorang pelukis yang menjadi penanggung jawab sampul dan ilustrasi Sempena. Pelukis yang pernah belajar pada Wakidi, maestro pelukis Indonesia asal Bukittinggi ini merupakan ayah kandung Aswandi Syahri.

Konon, ketika Aswandi Syahri lahir, Dewan Redaksi Sempena turut menyertakan ucapan selamat atas kelahiran putra ilustrator mereka.

“Tapi, sampai sekarang, aku masih mencari edisi yang menyertakan ucapan selamat itu,” kata Aswandi, lalu tertawa. (FATIH MUFTIH, Tanjungpinang)

Respon Anda?

komentar