Aksi Atlet Turun Jalan Tak Dibenarkan

456
Pesona Indonesia
Para atlet Kepri saat melakukan long march dari Gedung Graha Kepri menuju Engku Putri, Senin (30/5). Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos
Para atlet Kepri saat melakukan long march dari Gedung Graha Kepri menuju Engku Putri, Senin (30/5). Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos.co.id – Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Kepri, Nur Syafriadi menyebut aksi turun jalan untuk menggalang dana yang dilakukan sejumlah atlet dan pelatih untuk biaya keberangkatan ke Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 itu tidak dibenarkan. “Aksi itu tidak ada izin dan tidak dibenarkan. Aksi itu juga diselenggarakan tanpa sepengetahuan kami,” ungkap Nur, kemarin.

Soal dana yang dituntut sebagai ongkos keberangkatan dan partisipasi atlet Kepri ke kegiatan PON, Nur menyebutkan bahwasanya Koni Provinsi Kepri baru menerima pencairan dana sebesar Rp 1,75 miliar dari dana total sebesar Rp 8 miliar. Itu pun, sambung Nur, merupakan dana yang dialokasikan sebagai dana pelatihan rutin. “Sementara untuk Pelatda itu setidaknya butuh dana Rp 8 miliar,” terang mantan Ketua DPRD Provinsi Kepri ini.

Kapan sisa anggaran itu bakal dicairkan? Nur juga tidak bisa memberikan jawaban pasti. Karena kata dia, mekanisme dan aturan pencairan anggran itu bergantung sepenuhnya terhadap pemerintah. “Apalagi sekarang pemerintah lagi defisit,” ungkapnya.

Sembari menunggu pencairan dana tahap selanjutnya, Nur mengajak semua elemen KONI Kepri baik itu pelatih maupun atlet menjaga kondusivitas suasana. Aksi galang dana beberapa waktu lalu membuat masyarakat bertanya-tanya. “Karena itu kami buat surat bahwasanya aksi itu tidak mengatasnamakan KONI Kepri. Agar masyarakat tahu,” ungkapnya.

Sebagaimana yang diberitakan, belum turunnya dana untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 dari Pemerintah Provinsi Kepri memaksan puluhan atlet Kepri terpaksa ‘turun gunung’ menggalang dana, Minggu (22/5).

“Karena belum ada respon jadi kami inisiatif untuk turun (galang dana). Kami ke PON bukan hanya untuk pribadi tapi bawa nama daerah,” ucap atlet Karate, Rika Safitri Harahap.

Akan berlaga ke PON untuk pertama kalinya bersama dua rekannya Wilda Gustina dan Desi Ulandari di kelas kata beregu putri, Rika sangat bersemangat, tapi karena dana belum turun dia mengaku kecewa.

“Kami ini sangat semangat, cuma kecewa dengan sikap penerintah. Sedih harus turun langsung (galang dana) seperti ini,” tutur dara kelahiran Tanjungpinang 28 September 1995 ini.

Kekecewaan senada diutarakan atlet dari cabor tinju, Oktavia. “Galang dana ini supaya pemerintah buka mata. Saya lolos PON baru pertama, kecewa juga tahu-tahu seperti ini,” ucapnya. Walau demikian siswi yang kini duduk di bangku kelas II SMK Widya II Batam ini mengaku tetap bersemangat.

Sementara itu Ketua Persatuan Pelatih PON Kepri, Weng Samsi yang juga ikut dalam penggalangan itu berharap pemerintah dapat segera mencairkan dana Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) juga PON. Weng mengaku cemas, jika dana tak kunjung turun akan berpengaruh ke pencapaian PON yang akan digelar di Jawa Barat September mendatang.

“Kita berlatih perlu energi juga nutrisi. Nutrisi didapat dari mana kalau tak ada dana, bisa sakit semua (atlet) nanti,” ucapnya.

Dia mengatakan harusnya pemerintah juga Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) lebih peka, apalagi praPON juga PON merupakan agenda rutin nasional. “Setiap empat tahun ada praPON, ada PON, harusnya sudah dianggarkan. Kami dari cabor sendiri udah berkorban mati-matian,” ungkapnya.

Namun dia menegaskan para atlet yang akan mengharumkan nama Kepri di kancah nasional tetap bersemangat, namun semangat itu harusnya didukung dana. “Kita ke PON juga butuh dana bukan hanya semangat, kalau semangat kami sudah punya, jangan ditanya lagi,” tegasnya. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar