Jejak Candu di Tanjungpinang, Alat Isapnya Jadi Koleksi Museum

Alat hisap candu di  Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang. foto:yusnadi/batampos
Alat hisap candu di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Sejarah mencatat candu, opium, madat, atau tengkoh, pernah menjadi komoditas dagang legal di Keresidenan Riau dan daerah taklukannya.

Termasuk dalam pasar besar peredaran bahan adiktif itu adalah Tanjungpinang. Sebagai ibu kota sekaligus pusat pengendalian monopoli perdagangan candu, maka Residen Riouw pun membangun kantor atau gudang penyimpanan candu. “Itu yang sekarang jadi Bestari Mall,” kata Anto Rambey, petugas Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang.

Kemudian Rambey, begitu laki-laki ini akrab disapa, memperlihatkan lima alat pengisap candu yang menjadi koleksi Museum SSBA, kala satu-satunya museum di Kota Tanjungpinang ini belum ditutup sebab mengalami kerusakan.

Kelima alat itu diyakini sebagai alat isap yang banyak digunakan masyarakat Tanjungpinang, utamanya etnis Tionghoa, akhir abad ke-18. Bentuknya unik dan beragam. Pun panjang pipanya. Dari 25-45,5 sentimeter. Begitu juga bentuk tabungnya. Ada yang bermotif bunga dari keramik hingga ukiran dekoratif. Sementara bahan dasarnya, ada yang terbuat dari besi, kuningan, dan bahkan perak. “Kalau sekarang kita mengenalinya sebagai bong,” ucap Rambey.

Berdasarkan pembacaan sejumlah referensi, penggunaan candu baik sebagai obat maupun zat yang dapat menimbulkan kenyamanan telah dimulai sejak 3400 sebelum masehi (SM). Candu berasal dari tanaman opium yang memiliki nama Latin Papaver somniferum (atau biasa disebut tanaman poppy). Pemberian nama tanaman ini dilakukan Carolus Linnaeus pada 1753. Tanaman ini diklasifikan dalam kategori tertentu yang memiliki arti perangsang tidur. Penanaman opium pertama kali dilakukan di lembah Mesopotamia. Oleh suku-suku waktu itu digunakan sebagai alat untuk ritual atau persembahan dan persekutuan dengan dunia lain.

Dari lembah inilah terentang sejarah panjang candu, yang kemudian menyebar ke Mesir, melintasi laut Mediterania menuju Yunani dan Eropa. Tahun 330 (SM) Raja Alexander Agung memperkenalkan opium pada masyarakat India dan Persia.

Pada 440 M, orang di Cina mulai mengenal opium melalui pedagang dari Arab. Dan di Eropa pada abad ke-14, opium sempat dianggap tabu, sehingga menghilang selama kurang lebih 200 tahun. Namun 1527, opium kembali diperkenalkan di Eropa, khususnya dalam bidang kedokteran, dan digunakan sebagai obat antinyeri.

Dalam perkembangan, opium menghasilkan varian baru yaitu morfin. Morfin berasal dari getah candu, dan pertama kali ditemukan seorang ahli farmasi Jerman yang bernama Friederich Wilhem Adam Serturner. Pada 1804,CR Alder Wright, seorang ahli kimia dari Inggris yang bekerja di pusat kajian rumah sakit St Marry, London. Menemukan sintesa dari opium yaitu Heroin. Pada 1889, sebuah pabrik farmasi di Jerman secara resmi memasarkan heroin sebagai obat untuk menanggulangi kecanduan morfin dan juga sebagai obat batuk. Peredaran obat ini dihentikan pada 1910, setelah diketahui adanya efek yang merugikan penggunanya alias menimbulkan kecanduan yang berujung pada kerusakan.

Tingginya permintaan atas suplai candu ke seluruh penjuru dunia kala itu, menjadikannya sebagai komoditas dagang utama setelah rempah-rempah. Bahkan, saking tingginya nilai ekonomis candu, banyak peperangan terjadi. Dan ternyata candu pulalah yang melatarbelakangai sebuah peristiwa besar di Tanjungpinang.

Candu punya kisah tersendiri dibalik penetapan hari jadi Kota Tanjungpinang. Aswandi pernah menjelaskan, Februari 1782 di perairan Tanjungpinang, datang kapal Inggris bernama Betsy. Kapal itu disinyalir membawa barang-barang perdagangan. Termasuk di dalamnya, 1.154 peti berisi candu. Kapal itu kemudian dibajak oleh pembajak dengan kapal La Sainte Therese yang dinakhodai Mathurin Barbaron, nakhoda asal Perancis.

Kapal Betsy, lanjut Aswandi, kemudian dibawa oleh Mathurin ke Malaka yang dikuasai VOC. Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah yang mengetahui kejadian itu, lantas meminta pemerintah VOC di Malaka membagi hasil rampasan dari kapal yang dibajak oleh nakhoda asal Perancis itu.

Akan tetapi, pemerintah VOC di Malaka menolak untuk membagi hasil rampasan. Situasi pun memanas. Akibatnya, pasukan VOC dari Malaka menyerang Tanjungpinang.

Raja Haji tidak tinggal diam. Berkat siasat perangnya yang tak tertandingi, pasukan Riau berhasil menghalau serangan tersebut. Tidak tanggung-tanggung. Satu kapal komando milik VOC bernama Malaka’s Walvaren berhasil dikaramkan di perairan sekitar Pulau Penyengat pada 6 Januari 1784. Sehingga Budayawan Melayu, Rida K Liamsi juga memasukkan peristiwa heroik ini dalam makalah yang menjadi sumber utama menetapkan hari jadi Tanjungpinang.

“Repro lukisan perang Malaka’s Walvaren juga ada di sini,” kata Rambey, yang kemudian menunjuk lukisan besar bergambar tanjung dengan beberapa bukit dan sejumlah kapal perang. Repro lukisan itu dipajang di beranda museum SSBA.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar