Ramadan di Istanbul Turki Terkoyak Bom, Mahasiswa Indonesia hanya Tergores

715
Pesona Indonesia
Para korban bom Turki mengalami luka parah pasca terjadinya bom di Istanbul Turki, Selasa (7/6/2016). Foto: AFP
Para korban bom Turki mengalami luka parah pasca terjadinya bom di Istanbul Turki, Selasa (7/6/2016). Foto: AFP

batampos.co.id -Suasana damai di bulan suci Ramadan di Kota Istambul, Turki, tiba-tiba terkoyak oleh ledakan bom mobil di dekat stasiun metro Vesneciler, salah satu distrik paling ramai di ibu kota Istanbul, Turki, Selasa (7/6/2016), tepat di hari kedua umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Ledakan itu sudah dipersiapkan. Sebab, bersamaan dengan ledakan tersebut, lewat sebuah bus yang mengangkut petugas kepolisian.

Sampai Selasa malam, pemerintah Turki merilis, korban tewas mencapai 11 orang dan 36 lainnya terluka

Sempat tersiar kabar adanya korban mahasiswa dari Indonesia. Namun, setelah dicek Kementerian Luar Negeri, mahasiswa tersebut hanya tergores oleh dampak ledakan bom mobil yang memang sangat dahsyat itu.

Reuters melansir ledakan terjadi pukul 08.30 waktu setempat (12.30 WIB) di area pariwisata yang berdekatan dengan Istanbul University dan kantor pemerintahan.

”Hingga saat ini, belum ada klaim terkait dengan serangan itu,” ujar Gubernur Istanbul Vasip Sahin. Dia menyatakan, ledakan bom mobil itu merupakan insiden keempat di Istanbul sepanjang tahun ini.

Tudingan langsung mengarah kepada militan Kurdi. Belakangan, kelompok radikal yang bersarang di perbatasan Turki dan Syria tersebut memang rajin beraksi.

Target mereka, biasanya, adalah aparat atau pejabat pemerintah. Kantor berita Dogan melaporkan, bom itu disembunyikan di dalam sebuah mobil sewaan dan diledakkan dari jarak jauh.

Insiden tersebut merupakan pengeboman keempat yang terjadi di kota terbesar Turki selama 2016. Mulai insiden bom bunuh diri pada Januari dan Maret lalu hingga ledakan mobil di dekat markas militer di Distrik Sancaktepe pada Mei lalu.

Meski belum ada klaim resmi, publik pun langsung menaruh tudingan ke kelompok Kurdi dan ISIS yang memang bertanggung jawab atas pengeboman sebelumnya.

Akibat ledakan tersebut, pariwisata Turki menjadi korban paling menderita. Sebab, saat ini Turki bekerja keras untuk meningkatkan industri pariwisata yang lesu.

Turis asing yang tercatat pada Mei 2016 mencapai 1,75 juta, rupanya, menurun 28 persen jika dibandingkan Mei 2015.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan langsung mengecam keras insiden maut tersebut. Dia menegaskan, serangan yang menarget polisi yang bertugas melindungi dan mengayomi masyarakat merupakan kejahatan yang tak termaafkan.

”Kami tidak akan berhenti memerangi terorisme. Kami tidak akan lelah dan tidak akan pernah takut,” tegasnya dalam jumpa pers setelah melawat korban luka di rumah sakit.

Sementara itu, pemerintah Indonesia langsung memantau kondisi WNI di Istanbul setelah mendengar kabar tersebut. Salah satunya, kabar adanya salah seorang mahasiswa yang menjadi korban luka karena ledakan tersebut.

Kabar tersebut beredar di media Indonesia sehingga membuat masyarakat khawatir. Namun, KJRI Istanbul menegaskan bahwa kondisi mahasiswa yang bernama Azwar Abadi Arsyad itu baik-baik saja.

”Perlu dipertegas, bukan injured, tapi scratch. Itu pun bukan karena dampak langsung bom. Tapi, getaran tersebut membuat plafon kelasnya jatuh dan menggores wajahnya,” terang Harlan Hakim, Plt konsul jenderal Istanbul. (AFP/Reuters/sha/hep/bil/c5)

Respon Anda?

komentar