Hari Ini, Pembahasan Kenaikan TLB Dilanjutkan

386
Pesona Indonesia
Rudy Chua. foto:yusnadi
Rudy Chua. foto:yusnadi

batampos.co.id – Pembahasan pengajuan rencana Perusahaan Listrik Nasional (PLN) Batam menaikkan tarif listrik berlanjut. Komisi II dan III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepri yang turut membahasnya kini meminta agar PLN Batam bisa menyajikan data lengkap dalam rapat ketiga, Rabu (9/6) ini. Termasuk juga dalam data tersebut adalah laporan keuangan mutakhir.

“Kami ingin melihat kondisi riil laba PLN Batam. Apa yang mereka lakukan tentunya sudah direncanakan. Apa yang mereka hasilkan dari keuntungan itu, kami juga ingin tahu,” kata anggota Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua, kemarin.

Ini dirasa perlu oleh Rudy. Pasalnya, pada pertemuan sebelumnya sempat diungkapkan oleh pihak PLN Batam, alasan kenaikan TLB lantaran ingin menekan angka kerugian yang bisa saja terjadi bila tarif yang digunakan tetap mengacu tahun sebelumnya. Ada banyak pertanyaan yang bakal disampaikan jajaran anggota legislatif. Satu di antaranya adalah proyeksi keuntungan bila memang nantinya kenaikan TLB benar-benar disepakati. “Itu yang harus disampaikan PLN Batam,” tegas Rudy.

Sementara mengacu pada pertemuan sebelumnya, Rudy menyebutkan bahwasanya informasi yang disampaikan pihak PLN Batam masih sepotong-sepotong. Yang dalam bahasa Rudy, data mereka tidak berimbang. “Data-data ini tidak fair. Bisa membawa kita ke arah yang salah. Dan cenderung menggiring. Bahkan menurut saya bisa menjerumuskan,” ujarnya.

Maka itu persoalan ini bakal dipkirkan dengan matang oleh jajaran DPRD Kepri. Jangan sampai, informasi setengah-setengah yang disampaikan PLN Batam, kata Rudy, menjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan nanti. “Datanya, sekali lagi, harus lengkap, komprehensif dan juga berimbang dalam memaparkan keuntungan dan kerugian,” ungkapnya.

Sebelumnya, anggota DPRD Kepri dapil Batam, Asmin Patros menyatakan bahwasanya, momentum pengajuan kenaikan tarif ini dirasanya kurang pas. “Akan lebih baik, jika memang nanti harus naik, menunggu setelah lebaran,” ungkap Asmin. Ia juga menyarankan, PLN Batam semestinya bersikap bijak dengan mempertimbangkan momentum bulan puasa dan lebaran ketika kebutuhan masyarakat sedang tinggi-tingginya.

Mengenai soal momentum yang kurang pas, sebetulnya, kata Asmin, yang paling mendasar harus dikaji dan dibahas lebih dalam lagi adalah mengenai alasan kenaikan tarif ini. Benarkan telah terjadi ketakseimbangan neraca sehingga PLN merugi atau lantaran pendapatannya yang kurang banyak.

“Kalau merugi ya pasti kami sikapi dengan bijak. Kalau keuntungan tidak cukup besar, kami harus lihat berapa keuntungan itu yang riil sekarang. Kita mohon maaf juga ingin lihat audit keuangan PLN. Supaya fair,” pungkasnya. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar