Pentingnya Niat Puasa Ramadan

493
Pesona Indonesia
Ustadz Tommy Abdillah, aktivis Dakwah dan Anggota PMB Kota Batam. Foto: istimewah
Ustadz Tommy Abdillah, aktivis Dakwah dan Anggota PMB Kota Batam. Foto: istimewah

Niat ikhlas untuk beribadah kepada Allah SWT adalah perkara yang penting di dalam Islam.

Bahkan niat termasuk salah satu syarat sah diterimanya amal ibadah seseorang oleh Allah SWT.

Tanpa dasar niat maka amal seseorang menjadi sia-sia dan tak berguna.

Niat ikhlas jg merupakan intisari dari baiknya agama seseorang. Bila rusak niatnya dalam setiap beramal ibadah maka rusak pula seluruh amal ibadahnya.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya : Dari Umar r.a bhw Rasulullah SAW bersabda, Amal itu tergantung niatnya, & seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yg hijrahnya kpd Allah & Rasul-Nya, maka hijrahnya kpd Allah & Rasul-Nya, Dan barang siapa yg hijrahnya karena dunia atau karena wanita yg hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.(HR.Bukhari & Muslim).

Seorang hamba yang menunaikan ibadah puasa Ramadhan tanpa diawali dengan niat sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya. Sebuah riwayat hadist dari ummul mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha Rasulullah SAW bersabda,

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ } رَوَاهُ الْخَمْسَةُ ، وَمَالَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ إلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ ، وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ { لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ }

Artinya : Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”(Hadits ini dikeluarkan oleh yang lima, yaitu Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah. An Nasai dan Tirmidzi berpendapat bahwa hadits ini mauquf, hanya sampai pada sahabat (perkataan sahabat). Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbah menshahihkan haditsnya jika marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam riwayat Ad Daruquthni disebutkan, “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat ketika malam hari.

Menurut para ulama niat mempunyai 2 makna yaitu :

1. Utk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain, seperti untuk membedakan salat dzhuhur dgn salat Ashar. Untuk  membedakan antara puasa Ramadan dgn puasa sunat atau untuk membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan. Seperti untuk membedakan antara mandi wajib dengan mandi untuk menyegarkan atau membersihkan badan. Makna niat seperti ini adalah yang paling banyak dijumpai dlm kitab-kitab fiqih.

2. Utk membedakan tujuan melakukan suatu amalan, apakah tujuannya adalah karena Allah SWT saja atau karena Allah SWT & juga karena yang lainnya.

Perbuatan yang tidak disertai niat maka perbuatan tersebut tidak diakui oleh hukum syara & tdk ada kaitannya dengan tuntutan (thalab) atau tawaran untuk memilih (takhyir).

Syarat sah niat puasa Ramadan

1. Kokohnya keyakinan/kepastian yakni agar seseorang tidak ragu. Bahkan apabila seseorang berniat pada malam hari syak (hari yg meragukan antara masuknya Ramadhan atau belum) untuk berpuasa esok harinya, jika ternyata hari itu memang telah masuk Ramadan maka niat niat tidak dianggap sah. (Ref : Kitab Fath Al-qadir juz 2 hal 234).

2. Menentukan niat yakni menentukan niat puasa Ramadan atau puasa fardhu, tidak boleh menentukan puasa tertentu selain puasa Ramadan. (Ref : Kitab Raudhah Ath-thalibin juz 2 hal 350).

Karena syarat kedua inilah kemudian muncul redaksi dari ulama utk memudahkan kaum muslimin

نويت صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلَّهِ تَعَالَى

Aku niat berpuasa esok hari, wajib bulan Ramadhan tahun ini krn Allah ta’ala.

Kenapa harus ditentukan? Karena puasa adalah ibadah yang berkaitan dengan waktu (hari), maka harus ditentukan waktunya, agar tidak tercampur dengan puasa lain.

Layaknya salat 5 waktu yang harus ditentukan jenis salatnya ketika niat agar tidak biasa dengan salat yang lain.

Ini adalah pendapat Mazhab. Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah & Al-Hanabilah. (Ref : KIitab Al-Majmu’  juz 2 hal 50, Kitab Al-Mughni juz 3 hal 109).

Namun bagi kalangan mazhab al-Hanafiyah, tidak perlu adanya penentuan puasa dalam niat, cukup dengan niat puasa mutlak saja tanpa ditentukan jenisnya.

Karena yang namanya puasa Ramadan itu tidak mungkin dilakukan di luar Ramadan. Maka ketika ada yang berniat puasa, pastilah itu untuk Ramadan.

Lalu siapa yang menciptakan redaksi tersebut?

Ulama yg menciptakan redaksi tersebut adalah Imam Al-Rafi’i Al-Quzwaini (w. 623 H) dari kalangan Al-Syafi’iyyah.

Dia menuliskan redaksi niat tersebut dalam kitabnya Fathul-‘Aziz bi Syarhi al-Wajiz atau biasa yang disebut dengan istilah Al-Syarhu Al-Kabir li Al-Rafi’iy (6/293) sebagai implementasi atas syarat-syarat niat tersebut guna memudahkan bagi para muslim ketika ingin berniat puasa Ramadan.

Kemudian, niat tersebut kembali ditulis ulang oleh Imam Al-Nawawi dlm kitabnya Raudhah al-Thalibin yg akhirnya menjadi familiar & banyak diamalkan kebanyakan kaum muslimin. (Ref : Artikel Niat puasa Ramadhan haruskah setiap malam, Ust.Ahmad Zarkasi, Lc).

3. Berniat dimalam hari yaitu setelah tenggelanmnya matahari hingga terbit fajar. Hal ini disyaratkan oleh mazhab Maliki, Syafi’i & Hambali sesuai dgn hadist Ibnu Umar r.a & Hafshah r.ah :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ.

Artinya : Barangsiapa yg tdk berniat di malam hari sebelum fajar maka tdk ada puasa untuknya.( HR.Tirmizi).

4. Memperbarui niat (Tajdidu An-niyah) pada setiap malam Ramadan. Wajib hukumnya berniat puasa pd setiap malam di bulan Ramadan dgn dalih keumuman hadist di atas.

Sebab setiap puasa yang dilakukan setiap hari bersifat terpisah & tidak berkaitan antara satu & yang lainnya serta tidak rusak atau batal dengan batalnya puasa pd hari lainnya.
(Ref : Syaikh Abu Malik Kamal, Kitab Shahih Fiqh Sunnah, jilid 2 hal 159-160).

Kesimpulan

Niat puasa Ramadhan harus diperbarui setiap malam sebelum terbitnya fajar setelah tiba waktu imsyak. Semoga kita mampu menjaga niat ikhlas dalam setiap melakukan amal ibadah temasuk dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Wallahu a’lam

Respon Anda?

komentar