Israel Segel Kota Yatta Palestina, Ramadan Jadi Terganggu

443
Pesona Indonesia
Tentara Israel berpatroli di Yatta. Foto: www.haaretz.com
Tentara Israel berpatroli di Yatta. Foto: www.haaretz.com

batampos.co.id – Jika di Turki Ramadan terkoyak oleh bom mobil, di Palestina jauh lebih para. Puluhan tahun rakyat Palesatina menderita akibnat ulah jionis Israel.

Bahkan, pelaksanaan ibadah Ramadan warga di Palestina tahun ini juga terganggu akibat kekejaman Israel.  Militer Israel alias Israel Defense Forces (IDF) menyegel Kota Yatta di Provinsi Hebron, Tepi Barat, Palestina, Kamis (9/6/2016).

Israel berdalih penyegelan itu dilakukan setelah empat warga Israel tewas dalam aksi penembakan di Sarona Market, pusat keramaian bergengsi di Kota Tel Aviv, pada Rabu malam (8/6/2016). Israel menuding pelakunya dua pemuda Palestina asal Yatta.

Dua pelaku yang belakangan teridentifikasi bernama Khaled Mohammad Makhamrah dan sepupunya, Mohamad Ahmad Makhamrah, itu langsung diamankan.

Mereka sempat terlibat baku tembak dan perkelahian dengan aparat. Seorang di antaranya bahkan harus menjalani operasi karena terluka parah. Seorang yang lain kini diinterogasi di kantor polisi.

Penembakan dilakukan dua pemuda ini diduga akibat perlakuan keji Israel keopada rakyat Palestina selama ini yang tak hanya merampas wilayah Palestina secara terus menerus dan berbagai aksi agresi militer dan penyiksaan yang menewaskan jutaan umat Islam di Palestina.

Namun, penembakan yang dilakukan dua pemuda yang masing-masing berusia 22 dan 21 tahun itu berdampak besar. Israel membekukan penerbitan izin Ramadan kepada warga Palestina.

Maka, warga Palestina yang tinggal di Israel tidak bisa lagi bertemu dengan sanak saudaranya yang tinggal di Tepi Barat. Sebab, mereka yang berada di Tepi Barat tidak lagi bisa menyeberang ke Israel. Tidak ada silahturahmi.

”Seluruh izin Ramadan, terutama izin yang diberikan kepada warga Yudea dan Samaria untuk mengunjungi kerabat me¬≠reka di Israel, telah dibekukan,” terang COGAT, badan yang menangani urusan warga sipil di Tepi Barat, dalam pernyataan tertulis.

Sebanyak 83.000 penduduk Palestina yang sudah mengantongi izin untuk melawat Israel pun tidak bisa lagi menggunakan dokumen itu. Terkait dengan keputusan itu, Israel langsung memperketat pengamanan di perbatasan. Pemerintah mengerahkan dua batalyon IDF ke Hebron.

Mereka bertugas mengamankan Yatta dan melarang siapa pun masuk atau keluar dari kota tersebut. Selain itu, pasukan tambahan tersebut berpatroli di titik-titik strategis. Di pos pemeriksaan, mereka memeriksa identitas semua warga yang melintas.

Tidak hanya menyegel Yatta, IDF juga menjaga ketat rumah dua pelaku penembakan. Kabarnya, beberapa petugas terlihat mengukur rumah mereka. Diduga, IDF akan menghancurkan dua rumah tersebut sebagai bentuk hukuman sekaligus gertakan.

Sebab, versi Israel, masyarakat Palestina di Hebron justru merayakan insiden penembakan yang merenggut empat nyawa dan melukai belasan lainnya tersebut. (AFP/Reuters/hep/c19/any/flo/jpnn)

Respon Anda?

komentar