Hebat! Mahasiswa Ini Membuat Aplikasi Pengontrol Lampu, Televisi, dan AC dari Jauh

1630
Pesona Indonesia
Fransiskus Karbiya Anot Putra pembuat aplikasi menunjukkan aplikasi yang didalam lettop dan hp di rumahnya di Bida Ayu, Mangsang, Seibeduk, Minggu (12/6). F. Dalil Harahap/Batam Pos
Fransiskus Karbiya Anot Putra pembuat aplikasi menunjukkan aplikasi yang didalam lettop dan hp di rumahnya di Bida Ayu, Mangsang, Seibeduk, Minggu (12/6). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Dengan hanya menekan satu tombol di ponsel, lampu di rumah bisa padam ataupun menyala. Begitu juga televisi ataupun mesin pendingin ruangan. Padahal, kita sedang berada di Tanjungpinang, Pulau Jawa, atau bahkan Amerika. Kok bisa?

Fransiskus Karbiya Anot Putra mendapat nilai A dalam sidang skripsi di Program Studi Teknik Informatika – Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Mei lalu. Dosen memuji karyanya. Katanya, belum pernah ada mahasiswa atau orang Indonesia lain yang membuat teknologi itu.

Teknologi itu ia namai PLPLTA, singkatan dari Perangkat Lunak Pengendali Lampu, Tv, dan AC. Perangkat ini berupa aplikasi telepon seluler – baru bisa digunakan di sistem android, yang bisa mengendalikan lampu, televisi, dan AC dari jarak yang sangat jauh.

Penggunanya cukup mengetuk gambar lampu untuk membuat lampu menyala atau padam. Kalau ingin menghidupkan televisi, pengguna dapat menyapu halaman depan aplikasi dan mengetuk pilihan Tv Remote. Dan pengguna akan dibawa ke layar yang serupa remote control televisi biasa. Ada sejumlah tombol angka dan tombol power.

Lalu, bagaimana dengan AC? Caranya pun sama. Kembali ke menu awal lalu ketuk pilihan AC Remote. Dan kemudian akan muncul lima tombol pilihan. Yakni, tombol power, tombol penambah dan pengurang suhu, juga tombol pilihan untuk menu swing ataupun fan.

“Semuanya bisa dilakukan asal, baik aplikasi atau barang-barang elektronik itu, terhubung dengan internet,” kata pemuda yang lebih akrab disapa Frans tersebut.

Frans pemuda keturunan Flores dan Jawa. Tetapi ia lahir di Batam. Ia pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Sebelumnya, ia tamat dari SMK Permata Harapan sebagai siswa berprestasi.

Karya itu terisnpirasi dari kebiasaan keluarganya menitipkan kunci rumah ke tetangga. Ini ketika seluruh anggota keluarganya pergi mendampingi adiknya, Veronica Karbiya Floresta Jawari, bertanding lari di luar kota. Ibunya, Theresia Rubianti, meminta tetangganya untuk menyalakan lampu ketika malam tiba dan mematikannya ketika sudah pagi.

“Kalau di kota lain, bisa saja kan terjadi hal yang tidak-tidak (karena kebiasaan ini)?” katanya.

Tapi, kalau lampu tidak dinyalakan, kejahatan juga masih bisa terjadi. Perampok dapat mengetahui rumah mana yang sedang tak berpenghuni dan akan dengan mudahnya melancarkan aksi.

“Saya terpikir membuat ini ketika semester V,” ujar pria 22 tahun itu lagi.

Karya itu berhasil ia selesaikan dalam waktu tiga bulan di Yogyakarta. Dimulai bulan Maret dan selesai bulan Mei lalu. Namun, ia sempat mengalami kebuntuan di tengah-tengah proses pembuatan. Itu ketika ia sampai pada proses pemrograman remote AC.

“Tidak ada AC di Yogyakarta. Jadi saya kembali ke Batam untuk mencoba di AC rumah,” kisahnya.

Tapi ternyata, di rumah, alatnya tak berfungsi. Ia menjadi semakin buntu. Kebuntuan itu mulai mencair setelah ia berdiskusi kembali dengan dosen. Sang dosen memintanya mencoba sebuah alat sekembalinya ia ke Yogyakarta.

“Dan ternyata setelah mencoba alat itu, AC bisa dikontrol. Waktu itu saya pakai AC di rumah teman saya,” tuturnya.

Hasil karyanya ini ternyata dimuat di media Suara Flores sesaat setelah ia selesai sidang. Seorang kawan yang satu suku dengannya menulis kisah sidangnya di media itu. Lantaran muncul di media itu, sebuah perusahaan di Batam menghubunginya. Mereka tertarik dengan teknologi pengendali yang ia buat.

Perusahaan itu ingin membuat sebuah alat pengendali lampu untuk rumah sakit yang berlokasi di Singapura. Pembicaraan kini sedang dilakukan. Belum ada kata sepakat di antara mereka.

“Soalnya kami tidak tahu, apakah nanti ada sesuatu untuk anak kami atau tidak. Jadi kami masih meminta untuk tunggu dulu,” kata Ayah Frans, Karel.(ceu)

 

 

 

 

Respon Anda?

komentar