Lestari Melalui Dukungan Besar Kesultanan

Menapaktilasi Jejak Masuk Islam ke Alam Melayu Kepulauan Riau

525
Pesona Indonesia

Pulau Penyengat dilihat dari Udara. Di pulau bersejarah ini akan dibandung Monumen Bahasa Melayu. Foto: istimewa
Pulau Penyengat dilihat dari Udara. Di pulau bersejarah ini akan dibandung Monumen Bahasa Melayu. Foto: istimewa
penyengDari Melaka ke Bintan, ke Kampar, ke Pahang, ke Johor, ke Riau, ke Lingga, Islam tetap napas inti dari kehidupan alam Melayu. Ada kerja kolektif di balik eksistensi kepaduan itu.

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang

Sepaling kecil, bisa ditandai lewat banyak bangunan era Kesultanan Riau-Lingga yang masih berdiri hingga hari ini. Satu yang paling masyhur dan barang tentu tidak terelakkan adalah Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Inilah masjid kebanggaan orang Melayu atas prakarsa Yang Dipertuan Muda Riau VII, Raja Abdurrahman. Batu pertamanya diletakkan pada 1 Syawal 1249 H atau 1832 M.

“Saat itu Raja Abdurrahman menyeru rakyatnya untuk berjihad di jalan Allah (Fisabilillah) dengan membangun Masjid Sultan Riau lebih besar agar bisa menampung jamaah,” terang Dosen Ilmu Budaya Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIPOL) Tanjungpinang, Rendra Setyadiharja, Rabu (8/6) malam.

Tak pelak, imbauan itu menggerakkan seluruh warga Pulau Penyengat. Bergotong-royong siang dan malam bergantian membangun masjid. Kaum perempuan bekerja di malam hari dan laki-laki bekerja pada siang hari. Konon, pondasi masjid bisa diselesaikan selama tujuh hari tujuh malam.

Semarak dalam pendirian Masjid Sultan Riau ini adalah sebagian wujud nyata betapa Islam sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari alam Melayu Kepulauan Riau kala itu. Belum lagi ditopang dengan pemerintahan yang pro terhadap pembangunan keagamaan. Tidak sekadar memenuhi fasilitas umum peribadatan, Kesultanan Riau-Lingga juga tercatat sangat aktif mendatangkan ulama dari Timur Tengah. Tidak sedikit pula, anak-anak muda kala itu yang disekolahkan ke sana. Seluruhnya tercakup dalam program dan pembiayaan Kesultanan Riau-Lingga.

Rendra menandai, hal ini tidak terlepas dari telah merasuknya Islam pada nilai-nilai orang Melayu. Bahkan dalam sebuah catatan, kata dia, disebutkan bahwasanya wasiat terakhir dari Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah sebelum mangkat adalah mengenai keharusan menegakkan syariat Islam dalam hukum dan adat sehari-hari anak cucu orang Melayu.

Raja Haji yang juga tercatat sebagai pahlawan nasional itu juga dikenal sebagai sosok laksamana perang yang religius. Ketika berperang di Teluk Ketapang dan mengembuskan napas terakhirnya, disebutkan bahwa ada kitab agama pada satu tangannya sedangkan tangan yang lain menghunus keris. “Raja Haji benar-benar menjadi figur teladan agung. Ia orang pandai dalam berdagang, bersiasat perang, dan fasih dalam urusan agama,” ungkap Rendra.

Kehadiran sosok epik macam Raja Haji ini tak terlepas dari majunya peradaban Melayu kala itu. Perhatian kesultanan yang kelewat tinggi terhadap pembangunan pendidikan agama mengukuhkan lahirnya generasi-generasi emas Kesultanan Riau-Lingga. Secara tak tertulis, sampai dikisahkan, bahwasanya syarat utama untuk menjadi seorang sultan adalah punya sisi ketakwaaan.

“Tak heran bila kemudian kesadaran akan pembangunan pendidikan dan agama yang tinggi itu menuai panen besar berupa kelahiran tokoh-tokoh besar,” ucap Rendra.

Pelestarian dan perawatan kehidupan Islam di alam Melayu adalah dua kerja yang tak terpisahkan. Rendra mengakui hal itu. Menurutnya, inilah pola pemerintahan yang sejatinya bisa diulang hari ini. Bahwasanya untuk menciptkan generasi gemilang, sebuah rezim pemerintahan mesti punya perhatian besar terhadap pembangunan pendidikan agama.

Bilamana tidak ada orang-orang yang sanggup mengajarkan ilmu agama, datangkan dari luar daerah. Pola seperti ini sudah dilakukan sejak era Riau-Lingga. Dibuktikan lewat banyak makam ulama yang kini masih bisa diziarahi di Pulau Penyengat hari ini. Agar anak-anak mudanya lebih memahami ilmu agama, biayai pendidikannya. Mereka akan kembali sebagai pelestari dan perawat kegemilangan peradaban itu sendiri. Tidak ada kata merugi mengikut pola ini.

“Raja Ali Haji, cucu Raja Haji, adalah bukti sahih. Beliau itu anak Penyengat yang mengenyam pendidikan di Timur Tengah dan kembali sebagai ulama yang melakukan tugas pelestarian dan perawatan itu,” ungkap Rendra.

Mengingat Raja Ali Haji mengingat pula pada guru agama yang hidup di bawah naungan Kesultanan Riau-Lingga. Satu di antaranya adalah Haji Abdulwahab Siantan. Ulama kelahiran Siantan, Kabupaten Anambas ini merupakan guru agama bagi Engku Puteri Hamidah, Raja Ahmad (ayah Raja Ali Haji), dan sekalian orang Melayu kala itu. Kedudukannya di Pulau Penyengat juga sebagai mufti.

Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri mencatat, Haji Abdulwahab Siantan punya kedudukan penting dalam sejarah Kesultanan Riau-Lingga tatkala masih bernama Kesultanan Johor di Bawah Sultan Mahmud Riayatsyah hingga beberapa tahun setelah tahun 1824 juga sangat menentukan semuanya.

Selain surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall, sambung Aswandi, paling tidak ada dua sumber lain tentang Haji Abdulwahab Siantan. Sumber pertama adalah sebuah manuskrip Belanda berujdul Korte genealogy der vorstelijke Familie van het Rijk van Djohoor (Silsilah Singkat Keluarga Diraja Kerajaan Johor) koleksi KITLV Leiden yang ditulis oleh Resident Riouw, L.C. von Ranzow 1827. Sumber kedua, sebuah buku berjudul The Malayan Peninsula karya Peter James Begbie untuk pertama kalinya di Madras tahun 1834.

Menurut von Ranzow, Haji Abdulwahab Siantan lahir di Pulau Siantan dari orang tua asal Minangkabau, maar was uit het geslacht van Manangkabo atau Minangkabow parentage menurut Begbie. Ia lahir pada tahun 1708 menurut catatan Begbie, yang pernah mengunjungi Engku Puteri Raja Hamidah di Pulau Penyengat pada awal tahun 1830-an. “Haji Abdulwahab wafat di Pulau Penyengat dalam usia 116 tahun. Begitu menurut surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall,” terang Aswandi.

Sultan Johor, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah di Lingga mengangkat Haji Abdulwahab Siantan sebagai pembesar kerajaan Johor dengan jabatan sebagai mufti dan sekaligus ulama besar (Hooge Priester) di Daik-Lingga. Menurut Begbie, ‘institusi’ dan jabatan yang diamanahkan oleh Sultan Mahmud Riayatsyah kepada Haji Abdulwahab Siantan ini sangat berpengaruh dalam Istana Johor pada zamannya.

Setelah Sultan Mahmud Ri’ayatsyah Mangkat di Daik-Lingga, Haji Abdulwahab pindah ke Pulau Penyengat di bawah perlindungan Engku Putri Raja Hamidah. Atas persetujuan janda Sultan Mahmud Ri’ayatsyah yang sangat berpengaruh itu, Haji Abdulwahab diangkat sebagai gurunya dan ulama besar bagi seluruh keluarga istana Riau-Lingga serta seluruh pembesar kerajaan.

“Beliau tinggal di lingkungan istana Engku Puteri Raja Hamidah yang disebut Dalam Besar, di Pulau Penyengat; sebuah kawasan diraja yang juga menjadi tempat tinggal Raja Ali Haji dan ayahnya, Engku Haji Tua,” terang Aswandi.

Keberadaan sosok Haji Abdulwahab Siantan hanya segelintir dari sekian banyak ulama yang pernah hidup dan meraikan kehidupan beragama di lingkungan Kesultanan Riau-Lingga. Sebuah upaya kolektif yang disambut baik oleh masyarakatnya dan jadi warisan agung hari ini.

Islam lalu menjadi sumur tak berpangkal bagi nilai-nilai budaya Melayu. Tata laku hidup orang Melayu bersandar pada keagungan tuntunan Islam.

Sebuah mata-rantai kerja panjang yang tak pernah putus. Dan sudah semestinya pola-pola indah semacam ini dapat terulang melalui kebijakan pemerintah daerah dalam melestari dan merawat kehidupan beragama Islam yang pernah jaya di era Kesultanan Riau Lingga.***

Respon Anda?

komentar