Lusia Efriani Kiroyan, Batik Girl, dan Ikhtiar Memberdayakan Narapidana Perempuan

1668
Pesona Indonesia

batik-girlbatampos.co.id – Di ruang pelatihan yang terdapat di lantai 2 Rumah Tahanan (Rutan) Batam itu, belasan narapidana dan tahanan perempuan berkutat dengan kain perca dan boneka. Ada yang memotong kain, membuat pola, dan menjahit. Mereka membuat pakaian untuk boneka berukuran sekitar 20 cm yang diberi nama Batik Girl.

Lusia Efriani Kiroyan mendampingi mereka dengan tekun dan sabar. Sesekali memberikan petunjuk. Di lain kesempatan memberikan semangat.

”Dengan Batik Girl ini, selain memberikan keterampilan dan gaji, saya juga ingin memotivasi para napi dan tahanan bahwa mereka juga bisa berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain,” jelas arek Surabaya kelahiran 1 Agustus 1980 itu.

Batik Girl merupakan salah satu sociopreneur yang ditekuni Lusia sejak 2013. Hingga saat ini, lebih dari seratus napi dan tahanan dilatih untuk membuat pakaian boneka. Mereka berasal dari Rutan Batam; Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Barelang; dan Rutan Pondok Bambu, Jakarta.

Para napi dan tahanan itu diorder membuat pakaian untuk boneka yang mirip Barbie. Berupa perempuan cantik berambut panjang dengan lengan dan tangan yang bisa digerakkan. Baju boneka itu dibuat layaknya busana muslim. Dibuat beraneka rupa lengkap dengan kreasi hijabnya.

Dibuat dari balik kerangkeng, tapi boneka-boneka tersebut telah jauh melangkah. Merambah sejumlah negara. Di antaranya, Amerika Serikat, Australia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Para napi dan tahanan itu selama ini diberi upah Rp 10 ribu–Rp 12 ribu per boneka oleh Lusia. Sedangkan boneka karya mereka di pasaran internasional dijual dengan harga USD 10 hingga USD 15. Sementara untuk dalam negeri, Lusia hanya membanderol Rp 100 ribu.

”Keuntungan penjualan Batik Girl ini saya gunakan kembali untuk mendanai kegiatan sosial lainnya,” ujar alumnus Sastra Inggris Universitas Airlangga (Unair) itu.

Selama ini, melalui yayasannya yang bernama Cinderella from Indonesia Center (CFIC), Lusia memang menjalankan banyak kegiatan sosial. Antara lain, pendampingan kewirausahaan untuk perempuan single parent dan kurang mampu, anak-anak jalanan, pekerja seks komersial (PSK), serta penderita HIV/AIDS.

Batik Girl sebenarnya hanya satu di antara sekian banyak kegiatan sosial yang selama ini dilakukan Lusia. Ibu dua anak itu punya ketertarikan khusus untuk memberdayakan perempuan, khususnya single parent, karena latar belakang yang sama dengan dirinya. Ya, Lusia memang single parent. Rumah tangganya dengan pria mapan yang juga teman kuliahnya dulu telah berakhir.

Peristiwa itu menjadi mimpi buruk bagi kehidupan Lusia. ”Wis, saat itu aku melarat, Mas. Tidak punya apa-apa,” ujar mualaf tersebut.

Bahkan, hak asuh atas kedua anaknya pun jatuh kepada mantan suaminya. Roda kehidupan perempuan yang pernah menekuni bisnis arang kelapa itu mulai merangkak naik ketika dirinya terpilih untuk mengikuti experience learning International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat pada 2011. Program yang pernah diikuti sejumlah tokoh dunia itu menyuntikkan semangat hidup baru bagi Lusia.

Program tersebut mengajarkan banyak pengalaman. Tentang kemandirian, kewirausahaan, dan kebanggaan sebagai anak Indonesia. ”Sejak mengikuti program itu, saya selalu merasa bersyukur. Saya berpikir harus mengganti apa yang telah Allah berikan kepada saya,” ungkapnya.

Pada 2012, Lusia juga terpilih sebagai salah satu murid di Muslim Exchange Program di Australia. Pengalaman-pengalaman dari luar negeri itulah yang membuat Lusia membulatkan tekad untuk mengisi hari-hari dengan kegiatan sosial. Sasarannya perempuan dan anak-anak yang kurang beruntung.

”Tapi, saya mikir kalau memberikan bantuan uang saja tak menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Dari situ, dia putuskan untuk memberikan pelatihan kewirausahaan. Untuk merealisasikannya, Lusia nekat mengajukan pinjaman kredit pemilikan rumah (KPR). Dibelilah ruko tiga lantai di kompleks Duta Mas Trafalgar, Batam.

Tiap hari lantai 1 dan 2 di ruko itu dimanfaatkan oleh Lusia untuk membekali perempuan single parent dan anak kurang mampu di sekitar Batam dengan keterampilan. Lantai 1 untuk mengajari ibu-ibunya, lantai 2 untuk anak-anak. Lantai 3 digunakan sebagai tempat tinggal. Tinggal seorang diri tanpa suami dan anak.

Bertahun-tahun dengan gigih menjalankan semua kegiatan sosial itu akhirnya mendatangkan beragam apresiasi bagi Lusia. Tahun ini, misalnya, dia mendapatkan pendanaan dari Australia sebesar AUD 20 ribu. Dana itu dia gunakan untuk program 1,000 Batik Girl for Indonesia. Jadi, boneka yang dihasilkan dari tangan-tangan terampil napi dan tahanan perempuan tak hanya dijual. Tapi juga dibagikan untuk anak-anak tak mampu dan mereka yang menderita HIV/AIDS, kanker, talasemia, serta penyakit genetis turunan.

Yang menjadi sasaran kegiatan sosial Lusia pun dengan girang membuka tangan. ”Tidak gampang loh bikinnya, rumit banget karena ukuran bajunya kecil. Saya tertarik karena ini juga untuk anak-anak yang membutuhkan,” ujar Mirna (bukan nama sebenarnya).

Kepala Rutan Batam S. David H. Gultom juga menyebut kegiatan yang digagas Lusia itu turut membantu pembinaan para narapidana dan tahanan. Karena itu, meskipun beberapa kali berganti pimpinan rutan, kerja sama dengan Lusia tetap terjalin.

”Kalau seperti ini, mereka kan jadi punya kesibukan dan keterampilan khusus,” kata David, yang ikut mendampingi Lusia memberikan pengarahan kepada napi dan tahanan. Bagi rutan maupun lapas, kesibukan perlu diberikan agar napi dan tahanan tidak gampang tersulut emosi di dalam sel.

Senada dengan David, Kepala Lapas Barelang Marlik Subiyanto menyatakan sangat terbantu dengan kegiatan Lusia. ”Kami kan tidak mungkin melakukan yang seperti ini sendirian. Kegiatan yang digagas Bu Lusia ini sejalan dengan program lapas industri yang digagas pemerintah,” ungkap pria yang pernah bertugas di Rutan Medaeng, Surabaya, itu.

Kini roda kehidupan memang membawa Lusia kembali ke atas. Berbagai penghargaan dan undangan untuk berbicara serta pameran di luar negeri terus mengalir. Bulan lalu, misalnya, dia mengikuti pameran di Parliament House of Australia.

”Saya tak pernah menyangka bisa seperti sekarang. Apa yang saya lakukan sebenarnya biasa saja, kan? Saya jadi merasa kehidupan ini seperti di negeri dongeng,” kata Lusia.

(GUNAWAN SUTANTO, Batam)

Respon Anda?

komentar