Praktik Curang Penerimaan Polisi Terbongkar, Enam Polisi Jual Soal Ujian Diamankan

1100
Pesona Indonesia
Ilustrasi polisi. Foto: jawapos
Ilustrasi polisi. Foto: jawapos

batampos.co.id – Praktik curang penerimaan anggota rekrutmen Brigadir Polri tahun akademik 2016 Polda Sumatera Utara, terbongkar,  saat ujian berlangsung Jumat (10/6/2016) lalu di Gedung Serba Guna, Jalan Pancing/Jalan Wiliem Iskandar, Medan.

Enam anggota Polisi setempat kedapatan menjual kunci jawaban kepada calon siswa.

”Iya benar, ada panitia penerimaan bintara Polri yang diketahui telah menjual kunci jawaban. Kini mereka diperiksa di Propam Polda Sumut. Hasil pemeriksaan belum bisa kami sampaikan,” kata Kabidhumas Polda Sumut AKBP Rina Sari Ginting, Minggu (12/6/2016).

Mereka yang diamankan adalah Aiptu Wilmar, Bripda Ahli Ridho Mengundang, Bripda Rajendro, Bripda Arif Kurniawan, Bripda Surya Lubis, dan Iptu Doni Simanjuntak.

Selain mengamankan enam anggota Polri tersebut, bidang pengawasan mengamankan lima calon siswa Polri. Yakni, Helgi Formating, Ganang Purwaka, M. Fahreza Kesuma, Abdullah Fitra S., dan Ina.

”Dari awal penerimaan saja sudah curang. Bagaimana jika calon siswa itu menjadi Polri? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh kunci dan jawaban soal?” kata Ketua DPD Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) Sumut M. Sai Rangkuti.

Menurut dia, jika calon siswa tersebut sudah berhasil masuk menjadi Polri, mereka akan berpikir untuk mencari uang pengganti yang sudah disetorkan kepada panitia rekrutmen.

”Calon siswa yang sudah berhasil masuk polisi dengan cara curang tentu akan mencari uang penggantinya. Siapa korbannya? Korbannya adalah masyarakat. Dengan segala cara, uang yang dikeluarkan pada penerimaan itu kembali lagi,” ucap Rangkuti.

Dia mengimbau panitia penerimaan dan calon siswa yang sudah diamankan Polda Sumut agar segera didiskualifikasi serta diproses secara hukum.

Dalam penerimaan bintara Polri, disarankan mengikutkan pengawas independen. Artinya, pengawas independen itu mengawasi panitia pene­rimaan yang terindikasi curang.

”Ya, pastinya panitia dan calon siswa yang ketahuan curang harus didiskualifikasi, lalu diproses secara hukum (pidana, Red). Bila tidak diproses dan didiskualifikasi, tahun depan ketika penerimaan pasti terjadi lagi,” tutur dia. (prn/ris/mam/JPG)

Respon Anda?

komentar