Data Online Eror, PPDB SMPN 6 Gunakan Cara Manual

904
Pesona Indonesia
Ratusan calon siswa baru antri mendaftar di SMK N 1 Batam di Batuaji, Senin (13/6). F. Dalil Harahap/Batam Pos
Ratusan calon siswa baru antri mendaftar di SMK N 1 Batam di Batuaji, Senin (13/6). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPN 6 sepertinya harus bekerja ekstra keras dalam pendaftaran tahun ini. Pasalnya, sistem online mendadak bermasalah dan tidak dapat digunakan sama sekali.

“Instruksi dari Pak Larno (Kepala SMPN 6 Sularno, red), gunakan sistem manual,” tutur Ketua Panitia PPDB SMPN 6, Warniyati.

Permasalahan di sistem online itu, menurut Warniyati, terjadi ketika mereka hendak mengecek nilai calon siswa. Ternyata, ketika dimasukkan nomor ujian, data sebagian besar calon siswa tidak ditemukan. Ada pula yang datanya berbeda dengan salinan rapor.

“Datanya tidak valid,” ujarnya.

Belum lagi dengan konsep nilai rapor yang berbeda-beda untuk setiap SD-nya. Ada yang menggunakan nilai, huruf, atau hanya deskripsi cerita. Sementara, seleksi masuk masih menggunakan nilai. SMPN 6 menghendaki calon pendaftar memiliki nilai rapor rata-rata mata pelajaran IPA, matematika, dan bahasa Indonesia di kelas IV, V, dan VI semester ganjilnya minimal 80,00 .

Warniyati pun menginstruksikan kepada seluruh orang tua siswa untuk meminta konversi nilai rapor ke sekolah masing-masing. Lalu kembali ke SMPN 6 pada keesokan harinya.

“Kami juga harus menghitung nilai rata-rata-nya dulu karena hampir semua sekolah tidak menyertakan nilai rata-rata,” ujarnya.

PPDB SMPN 6 dimulai pukul 09.00 WIB. Namun, antrian sudah mulai muncul sejak pukul 05.00 WIB. Dua jam kemudian, panitia membagikan nomor antrian.

Lima ratus nomor habis hari itu juga. Jumlah tersebut, kata Warniyati, akan cukup dilayani hingga hari terakhir pendaftaran, Rabu (15/6). Target Panitia PPDB SMPN 6, setiap hari mereka dapat melayani hingga 240 nomor antrian. Namun, kemarin, hingga pukul 12.00 WIB, mereka baru melayani 100-an calon pendaftar.

Kuota pendaftaran yang SMPN 6 buka di tahun ini mencapai 256 siswa. Jumlah tersebut sudah termasuk siswa yang mendaftar melalui jalur siswa tidak mampu sebesar 10 persen, jalur bina lingkungan sebesar lima persen, dan jalur prestasi sebesar lima persen.

“Tapi belum ada satupun data anak yang berhasil diinput,” katanya saat itu.

Alur pendaftarannya, setelah para calon siswa mendapat nomor antrian, mereka akan menghampiri loket dan menyerahkan berkas persyaratan. Yakni, salinan rapor semester ganjil kelas IV, V, dan VI, serta salinan Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU). Ditambah, surat pindah rayon bagi calon siswa asal luar Batam.

Di loket itu pula, pendaftar akan diminta mengisi formulir pendaftaran. Di formulir itulah tertera nilai-nilai yang dibutuhkan. Salinan berkas formulir itu kemudian diserahkan ke pendaftar.

“Harusnya setelah itu kami masukkan nomor ujiannya (calon siswa) di sistem dan bisa langsung dicetak bukti pendaftarannya. Tapi kalau begini, kami pakai salinan berkas formulir itu saja sebagai bukti pendaftaran,” katanya lagi.

Kondisi ini sempat membuat bingung para orang tua calon siswa. Mereka bingung apakah harus menunggu bukti cetak pendaftaran atau cukup dengan salinan formulir pendaftaran itu saja.

“Kalau formulir pendaftaran sih saya sudah dapat. Cuma bukti cetaknya itu yang belum,” tutur salah satu orang tua calon siswa, Tuti, sambil menunjukkan lembaran kertas tipis berwarna merah muda.

Tuti memilih menunggu hingga bukti cetak itu keluar. Namun, setelah pengumuman bahwa salinan formulir pendaftaran itu sudah menjadi bukti pendaftaran, ia memilih pulang.

Wanita yang tinggal di wilayah Baloi itu datang ke SMPN 6 sejak pukul 05.00 WIB. Ia datang menggunakan sepeda motor, supaya lebih cepat. Ternyata, antrian sudah mengular.

“Saya dapat nomor 70 tapi alhamdulillah sekarang sudah selesai,” katanya saat ditemui pukul 10.00 WIB.
Sistem Rusak Jadi Celah Menitipkan Siswa

Kerusakan sistem online di hari pertama pendaftaran ini membuat anggota Komisi IV DPRD Batam, Uba Ingan Singalingging, curiga. Ia menduga ada kesengajaan yang berbuntut pada budaya ‘siswa titipan’.

“(Sistem) ini kan sudah lama disiapkan. Kok bisa rusak di hari pertama?” tutur pria yang akrab disapa Uba itu.

Dengan adanya kasus ini, para oknum dapat leluasa bergerak ‘menitipkan’ siswa ke sekolah-sekolah unggulan tersebut. Ia menduga, ada permainan di balik rusaknya sistem online tersebut.

“Yang ditakutkan, masalah ini hanya sebagai modus saja,” ujarnya. (ceu)

Respon Anda?

komentar