Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat Dibangun Hari Pertama Lebaran, Jadi Tempat Iktikaf pada Akhir Ramadan

578
Pesona Indonesia
Masjid Penyengat dari kejahuan
Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat dari kejahuan.

batampos.co.id – Pagi yang cerah 1 Syawal 1249 Hijriyah. Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahman menyeru kepada warga Penyengat untuk berjihad di jalan Allah. Bukan untuk perang. Melainkan urun daya membangun masjid yang kini menjadi simbol peradaban Islam di alam Melayu Kepulauan Riau.

Begitu kisah yang terbaca banyak referensi. Masjid Sultan Riau sejatinya dibangun pada tahun 1803 Masehi oleh Sultan Mahmud Syah. Jadi bangunan pertama yang dikerjakan ketika menjadikan Pulau Penyengat sebagai ibu kota pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga.

Lalu tepat pada 1 Syawal 1249 Hijriyah atau tahun 1832 Masehi, dilakukan renovasi besar-besaran atas inisiasi Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman.

Bukan demi agar terlihat lebih agung dan gagah sebagai rumah ibadah. Raja Abdul Rahman menginginkan masjid bisa menampung lebih banyak jamaah yang berbondong-bondong menunaikan salat usai azan berkumandang.

Ajakan yang disambut baik. Seluruh warga Pulau Penyengat lantas secara bergotong-royong siang dan malam membangun masjid dan juga dibantu oleh masyarakat sekitar Pulau Penyengat, bahkan rakyat dari seluruh daerah kekuasaan Raja Abdul Rahman.

Kaum perempuan bekerja di malam hari dan laki-laki bekerja pada siang hari. Konon, pondasi masjid berhasil diselesaikan selama tujuh hari tujuh malam. Bantuan makanan, berupa lauk-pauk, sayur-sayuran dari berbagai penjuru, juga datang untuk pekerja yang membangun masjid, termasuk telur ayam kampung yang mencapai beberapa kapal tongkang.

Dari sini kisah digunakannya putih telur sebagai bahan baku masjid ada. Saking banyaknya telur ayam, pekerja hanya mengambil kuningnya untuk dimakan dan membuang putihnya. Seorang arsitek masjid asal India yang didatangkan dari Singapura diceritakan memanfaatkan putih telur sebagai bahan campuran pasir, tanah liat dan kapur.

Bahwasanya ide sang arsitek saat itu ada benarnya, Raja Abdul Rahman pun memerintahkan seluruh rakyat didaerah kekuasaannya untuk mencari telur burung layang-layang di tukong-tukong (goa batu) di Laut Natuna dan Lingga sebagai persiapan jika putih telur ayam kampung tidak mencukupi.

“Tak heran kisah ini membuat Masjid Penyengat jadi lebih terkenal di Indonesia,” kata Dosen Ilmu Budaya Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Rendra Setyadiharja, kemarin.

Secara tak kasat mata, pemilihan tanggal pendirian masjid juga ditandai Rendra bahwasanya semangat guyub dan semarak mesti mengiringi setiap upaya perbuatan baik. Termasuk pula dalam menunaikan ibadah. Semangat yang kemudian, kata Rendra, termanifestasi dalam ujud iklim pariwisata Pulau Penyengat yang semarak.

“Dan kini ada pula semacam hotel yang berada di sebelah masjid dan ditujukan buat wisatawan yang ingin menginap di Penyengat. Konsep wisata religi jadi melekat di sana,” ujarnya.

Berdirinya pondok hunian bernama Sultan ini menawarkan pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana Pulau Penyengat di malam hari. Bukan hanya suasana belaka. Melainkan keinginan menunaikan ibadah salat malam di Masjid Sultan Riau. Ini sangat memungkinkan karena jaraknya tak kurang dari 100 meter.

Adi Pranadipa, warga Tanjungpinang, menuturkan, setiap memasuki kalender ganjil Ramadan, kerap mengajak anggota keluarganya bermalam di Penyengat.

“Biasanya di tanggal 21, 23, 25, 27 Ramadan,” ungkapnya.

Hal ini dilakukannya guna lebih mendekatkan diri dengan Tuhan pada malam-malam pungkasan Ramadan. Ibadah salat malam dan iktikaf (berdiam diri), kata dia, punya sensasi berbeda ketika ditunaikan di Masjid Sultan Riau Penyengat. Tidak ada bising lalu-lalang kendaraan.

“Hening dan Syahdu. Menambah keintiman dalam berdoa,” ungkapnya.

Pengujung Ramadan tahun ini, Adi mengaku bakal melakukan hal yang sama. Berangkat sebelum azan magrib. Berbuka puasa di Penyengat. Kemudian dilanjutkan dengan salat tarawih dan ibadah-ibadah sunah lain di sana.

“Susah mau diceritakan pengalamannya. Cobalah sendiri,” pungkas Adi. (FATIH MUFTIH, Tanjungpinang.)

Respon Anda?

komentar