‘Wardiaman Dari Kecil, Tipe Anak Penurut’ Ungkap Tiberius

833
Pesona Indonesia
Sidang Wardiaman
Sidang Wardiaman

batampos.co.id – Tiberius Zebua, yang tidak lain adalah abang kandung terdakwa Wardiaman Zebua, dihadirkan Penasehat Hukum (PH) terdakwa sebagai saksi meringankan, Selasa (14/6) di Pengadilan Negeri Batam.

Kehadiran saksi ini, sempat menimbulkan keberatan dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bani I Ginting dan Rumondang, karena saksi memiliki hubungan sedarah dengan terdakwa. Hingga, Hakim Ketua Zulkifli, didampingi Hakim Anggota Hera Polosia dan Iman Budi Putra Noor, memutuskan sesuai kesepakatan bersama agar saksi hanya sebatas memberikan keterangan tanpa diambil sumpah.

Dalam keterangannya, Tiberius menjadi orang yang sangat tahu dengan kondisi Wardiaman sejak penangkapan pertama hingga penangkapan kedua, sampai disidangkan. “Wardiaman langsung menghubungi saya, mengadu tentang apa yang dialaminya saat ditangkap,” ujar Tiberius.

Tepat (21/10) tahun lalu, lanjutnya, Wardiaman menghubungi saya melalui hp istrinya. “Bang, tolong saya bang, saya dijemput paksa di tempat kerja. Dibawa kesana-kemari yang kata mereka TKP dan mereka memukul saya. Saya diancam ditembak mati dan mau dibuang di jembatan 6 bang,” kata saksi mempraktekkan ucapan Wardiaman kala itu.

Mendengar suara adiknya yang terengah-engah itu, saksi langsung menemui istri Wardiaman untuk mendapat informasi pasti. “Kami bertemu di Polresta Barelang, dan adik saya juga ada disana,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, melalui informasi dari Wardiaman, Tiberius langsung menemui orang yang melakukan penangkapan. Ia meminta penjelasan kenapa adiknya diperlakukan sedemikian buruk, padahal belum dipastikan siapa pelaku pembunuhan alm.Nia saat itu.

“Saya kesal. Saya tanya ke mereka (polisi penangkap), itu hal biasa. Wardiaman lalu dimasukkan ke ruangan dan saya tidak boleh ikut, kata penyidik untuk pemeriksaan khusus. Saya tunggu sampai adik saya keluar di periksa,” terang Tiberius.

Hingga tengah malam (21/10) 2015, barulah Wardiaman selesai diperiksa dan sempat berbicara dengan saksi. “Adik saya bersumpah-sumpah tidak tahu menahu dengan pembunuhan itu. Didalam pemeriksaan khusus tersebut, Wardiaman didudukkan di bangku, lalu ada orang berjubah putih menyapu tangannya ke wajah Wardiaman dan seketika itu Wardiaman pingsan. Saat sadar, Wardiaman sudah di lantai,” ungkapnya.

Seusai pembicaraan dengan Wardiaman, Tiberius hanya diperbolehkan pulang sendiri tanpa membawa Wardiaman. Keesokannya (22/10) barulah Wardiaman bisa pulang. Tiberius yang aktif bergabung dalam paguyubannya, langsung meminta adiknya itu bersaksi di Gereja tentang apa yang dialami Wardiaman kemarin (21/10). “Ada 300an orang yang hadir saat itu dari paguyuban kami,” sebutnya lagi.

Menindaklanjuti pengakuan Wardiaman tersebut, Tiberius bersama perwakilan paguyubannya mendatangi Polda untuk meminta perlindungan. “Kami disambut baik, dan permohonan kami diterima. Selesai dari sana, Wardiaman saya bawa tinggal di rumah saya (di Windsor),” kata Tiberius.

Hingga jawaban dari Polda diterima, bahwa Wardiaman bisa beraktivitas seperti biasanya (27/10) 2015, Tiberius mengizinkan adiknya pulang kerumah. Namun (30/10) nya, Tiberius kembali mendapat telpon dengan nada panik dari istri Wardiaman yang mengatakan kalau polisi kembali menangkap adiknya itu.

“Siangnya saya langsung ke Polresta. Saya ketemu Wardiaman sudah memakai pakaian penjara yang berwarna orange itu. Wajahnya pucat, jalannya membungkuk menahan sakit. Setelah saya tanya ke Wardiaman, dia bilang dia kembali disiksa bahkan disetrum perutnya. Saya melihat luka lepuhnya langsung, dan dibagian tubuhnya yang lain ada lebam,” beber Tiberius.

Tidak hanya diam, Tiberius marah sembari menangis ke penyidik dan meminta penjelasan atas perlakukan kepada Wardiaman. “Penyidik bilang itu hal biasa, kami punya bukti,” ucapnya.

Ketika ditanyai bagaimana prilaku Wardiaman dari kecil hingga berkeluarga, Tiberius mengaku adiknya sangatlah penurut dan pendiam. “Dia tidak pelawan, dari kecil dibilang anak rumahan. Dan sampai permasalahan ini ada, adik saya tidak pernah terlibat kriminal dan berurusan hukum sekalipun,” aku Tiberius.

Selesai memberi keterangan atas pertanyaan dari PH terdakwa, Majelis Hakim menunda persidangan hingga Kamis (16/6) dengan agenda mendengarkan pemaparan saksi ahli yang dihadirkan PH terdakwa. (cr15)

Respon Anda?

komentar