Dihadang Ribuan Umat Buddha, DSI Gagal Tangkap Kepala Biara

1717
Pesona Indonesia
Umat meditasi di depan Kuil Wat Phra Dhammakaya di Distrik Khlong Luang, Provinsi Pathum Thani. Foto: Nicolas Asfouri/AFP
Umat meditasi di depan Kuil Wat Phra Dhammakaya di Distrik Khlong Luang, Provinsi Pathum Thani. Foto: Nicolas Asfouri/AFP

batampos.co.id – Upaya tim dari Departemen Investigasi Khusus (DSI) Thailand menagkap kepala biara Phra Dhammachayo di Kuil Wat Phra Dhammakaya di Distrik Khlong Luang, Provinsi Pathum Thani, Kamis (16/6/2016) gagal total. Pengamanan sang biara berlapis.

Tim DSI datang sekitar pukul 09.00 waktu setempat untuk menggeledah kuil tersebut dan menangkap kepala biar berusia 72 tahun itu dengan tuduhan terlibat aksi pencucian uang dari penjahat kelas kakap.

Ya, kuil itu memang memiliki aliran dana yang sangat deras dan terkenal kaya raya jika dibandingkan dengan kuil lain.

Namun, para biksu dan umat Buddha yang mendukung Dhammachayo tidak terima dan berusaha menghalangi.

Di bagian depan, ada barikade mobil dan pagar besi. Halangan pertama berhasil disingkirkan setelah petugas menunjukkan surat perintah penahanan dan  pengeledahan dari pengadilan.

Lapis kedua, petugas dihadapkan dengan ribuan umat Buddha yang bermeditasi di pelataran kuil yang terkenal dengan bentuknya yang mirip piring terbang alias UFO itu.

Dengan menggunakan baju putih-putih, ribuan orang tersebut tidak bergerak meski hujan turun.

DSI, yang memiliki tugas setara dengan FBI di Amerika Serikat (AS), sudah beberapa bulan berusaha menanyai Dhammachayo soal tudingan bahwa dirinya telah menerima aliran dana 1,2 miliar baht (Rp 455,2 miliar) dari pemilik koperasi simpan pinjam yang tengah dipenjara.

Perintah penggeledahan dari pengadilan baru turun kemarin. Berdasar surat tersebut, petugas memiliki otoritas untuk menggeledah seluruh gedung serta mencari dan menangkap Phra Dhammachayo.

Sejak pagi, sekitar 600 polisi dari Provinsi Pathum Thani bersiaga untuk mendukung penggeledahan oleh DSI. Disiagakan pula lima truk pemadam kebakaran dan empat ambulans. Juga ada berbagai persiapan lain.

Namun, petugas tak mau menggunakan kekerasan. Sejak datang, mereka mencoba untuk bernegosiasi dengan pihak kuil. Namun, hingga siang, usaha tersebut berakhir sia-sia.

”Ada sekelompok orang yang tidak peduli bagaimana kami bernegosiasi. Mereka tidak mengizinkan kami masuk,” ujar Wakil Ketua DSI Mayor Polisi Suriya Singhakamol.

”Operasi kami belum berakhir. Surat perintah penahanan masih valid. Jadi, kami masih memiliki otoritas untuk melakukan operasi. Berdasar informasi yang kami terima, dia (Phra Dhammachayo, Red) masih berada di dalam,” tambahnya.

Dhammachayo memang dikabarkan berada di dalam kuil dan tidak pergi ke mana-mana selama berbulan-bulan. Pihak DSI menunggu hingga para biksu selesai makan siang. Mereka hanya makan sekali sehari, saat makan siang.

Namun, jika kembali tidak berhasil, DSI butuh perpanjangan waktu surat penahanan. Sebab, surat itu hanya berlaku hingga pukul 18.00 waktu setempat pada hari yang sama.

Pihak kuil menyatakan bahwa Dhammachayo terlalu sakit untuk bertemu dan menghadapi para petugas yang datang buat menangkapnya.

Dhammachayo maupun para pendukungnya menampik tudingan petugas DSI dan beranggapan bahwa kasus itu telah dipolitisasi serta tidak berdasar sama sekali.

Dhammachayo bakal mengikuti semua proses hukum jika Thailand kembali menjadi negara demokrasi. Sejak 2014, Thailand dikuasai junta militer.

”Kurangnya demokrasi di sebuah negara pasti menyebabkan hilangnya kebebasan sipil dalam proses hukum,” ujar salah seorang penganut Buddha yang ikut melakukan aksi.

”Menangkap dia (Dhammachayo, Red) sungguh tidak beralasan. Dia kan tidak membunuh seseorang,” tambahnya.

Di Thailand, kuil dan para biksu sangat dihormati. Karena itulah, hampir tidak pernah ada polisi yang menyerbu ke dalam kuil dengan pasukan penuh.

Para pengamat menilai kegagalan menangkap kepala biara itu sebagai bukti dari budaya kebal hukum terhadap sebagian orang di Thailand. Termasuk di antaranya para biksu kenamaan.

Kuil Wat Phra Dhammakaya memang menuai banyak kontroversi. Berdiri pada 1970-an, kuil itu dikabarkan memiliki kedekatan dengan keluarga mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.

Tidak seperti kuil-kuil tradisional lain dengan umat dari wilayah sekitar, umat di kuil itu berasal dari berbagai penjuru dan sangat loyal. (AFP/Reuters/BBC/The Bagnkok Post/sha/c11/any)

Respon Anda?

komentar