Kran Impor Gula Bersifat Buka Tutup

387
Pesona Indonesia
Karyawan toko Acen di pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji menyusun gula yang akan dijual ditokonya, Selasa (17/5). Harga gula di toko Acen dijual perkilogramnya 14.500 rupiah. Dan di toko lain harganya berfariasi ada yang 16 ribu rupiah perkilogramnya. F Dalil Harahap/Batam Pos
Karyawan toko Acen di pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji menyusun gula yang akan dijual ditokonya, Selasa (17/5). Harga gula di toko Acen dijual perkilogramnya 14.500 rupiah. Dan di toko lain harganya berfariasi ada yang 16 ribu rupiah perkilogramnya. F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Stok gula pasir di Batam saat ini terbatas sehingga harganya menjadi mahal. Namun, pemerintah pusat tak kunjung juga memberikan izin untuk membuka kran impor.

“Kalau untuk gula, izin impornya belum juga diberikan oleh Kementerian Perdagangan ke BP Batam, padahal kami juga bersama dengan Kadin Batam sudah pernah menyurati kesana,” kata Direktur Lalu Lintas Barang Badan Pengusahaan (BP) Batam, Tri Novianto, kemarin (16/6).

Novi, sapaan akrabnya mengatakan gula ini memang untuk impornya bersifat buka tutup. Dengan alasan pemerintah pusat ingin melindungi industri gula dalam negeri, jangan sampai pada saat panen gula raya, pemerintah malah mengimpor gula dari luar.”Dengan kata lain, pemerintah pusat akan membuka impor gula jika dianggap industri gula dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Namun, yang menjadi pertanyaan jika kran impor tak kunjung diberikan berarti pemerintah pusat menganggap Batam mampu memenuhi kebutuhan gula sendiri. Padahal kenyataan berkata sebaliknya, harga gula sangat mahal berkisar hingga Rp 16 ribu perkilogram.

“Itu yang menjadi pertanyaan, mungkin yang perlu dicermati adalah distributor logistiknya,” ujarnya.

Kemungkinan saja ada dugaan permainan penimbunan gula ilegal untuk menaikkan harganya ketika menyambut hari besar seperti lebaran.

Untuk mengatasi hal ini, Novi mengungkapkan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Gusmardi Bustami yang juga pernah bekerja di Kementerian Perdagangan sedang melakukan pendekatan dengan institusi tersebut.”Beliau sudah melakukan pendekatan, agar Kepri bisa diberikan perhatian khusus yang lebih tinggi,” jelasnya.

Di tempat yang berbeda, Kepala Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batam, Jadi Rajagukguk mengatakan Menteri Perdagangan, Thomas Lembong sudah paham mengenai permasalahan gula di Batam.

“Beliau sudah angkat masalah ini di Rapat Koordinasi (Rakor) Menko EKonomi,” katanya.

Namun, dibandingkan dengan usulan, lebih baik harus ada aksi nyata.”Pemerintah harus bertindak, soalnya ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Batam, Lukman Sungkar mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kelangkaan gula di Batam.”Momentum jelang puasa dan lebaran diduga selalu dimanfaatkan oleh para pemain gula untuk melakukan penimbunan untuk menaikkan harga,” jelasnya.

Permasalahan kelangkaan sehingga harga menjadi mahal diduga terjadi di alur distributor logistik.”Terjadi tahan menahan distribusi untuk menaikkan harga,” ungkapnya.

Pihaknya saat ini masih mengumpulkan data untuk bisa menyimpulkan hal ini. “Itu akan kita gabungkan dengan pusat dan baru mengambil kesimpulan,” jelasnya.(leo)

Respon Anda?

komentar