Sedih, Dana Yang Terkumpul Untuk Pemisahan Bayi Kembar Baru Sepersepuluh Dari Total Biaya Yang Dibutuhkan

448
Pesona Indonesia
Bayi kembar siam lengket dari pasangan Junaidi (29) dan Warmin Bahrudin (32) saat dirawat di inkubator Rumah Sakit Camatha Sahidya di Jalan Jenderal Ahmad Yani nomor 8, Mukakuning. Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id
Bayi kembar siam lengket dari pasangan Junaidi (29) dan Warmin Bahrudin (32) saat dirawat di inkubator Rumah Sakit Camatha Sahidya di Jalan Jenderal Ahmad Yani nomor 8, Mukakuning. Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id

batampos.co.id – Operasi pemisahan bayi kembar siam Rahma Fairuz Maknuniyyah dan Rahmi Fahira Nahlannisa dalam waktu dekat akan dilaksanakan di rumah sakit Awal Bross, Baloi. Namun hingga kini dari dana yang dibutuhkan Rp 1,6 miliar, yang baru terkumpul baru Rp 129 juta.

Kemarin, tim operasi pemisahan bayi kembar siam Kepri menyambangi Kantor Walikota Batam. Disana mereka menjelaskan kondisi Rahma dan Rahmi setelah menjalani perawatan intensive yang mulai membaik.

“Intinya kita minta suport dari Pemko untuk operasi bayi kembar ini. Apalagi ini operasi pemisahan bayi kembar pertama di Kepri,” kata Ketua tim pengalangan dana Usep RS, kemarin.

Tak hanya meminta dukungan dari pemerintah provinsi dan daerah, tim pemisahan bayi kembar juga meminta dukungan dana dari masyarakat umum seperti perorangan, kelompok ataupun organisasi.

“Operasi untuk pemisahan bayi ini masih membutuhkan bantuan, karena itu kita minta dukungan dari semua pihak,” jelas Usep.

Sementara itu, Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad mengapresiasi kerja tim pemisahan bayi kembar siam tersebut. Ia pun mendukung penuh kegiatan sosial tersebut.

Tadi sudah dijelaskan jika untuk biaya menginap di Awal Bros dan biaya tim dokter sudah digratiskan. Namun ada biaya yang tak bisa dibackup seperti obat-batan dan lainnya,” kata Amsakar.

Menurut dia, untuk membantu biaya pemisahan biaya kembar siam ini, ia sudah menyurati internal Pemko Batam. Yang mana, inti dari surat itu meminta bantuan pribadi dari pejabat dan internal Pemko lainnya.

“Kita sudah surati dan rata-rata mensuport. Untuk operasi pemisahan ini Pemko tak punya anggaran, baik dari dana hibah ataupun dana bansos. Bantuan itu harus direncanakan dulu. Karena itu kita hanya bisa bantu secara pribadi,” jelas Amsakar.

Amsakar mengakui, bantuan dari internal Pemko dipastikan tak berpengaruh besar terhadap angka Rp 1,6 miliar tersebut. Karena itu, dalam waktu dekat ia akan mengirim surat kepada perusahaan swasta yang bekerjasama dengan Pemko.

“Kita minta tim membuat surat rekomendasi biaya dan atas surat itu kita akan surati Eksternal yang ada CSRnya. Semoga dengan itu bisa membantu meringankan biaya pemisahan bayi ini,” pungkas Amsakar. (she)

Respon Anda?

komentar