Bahas Muatan Lokal, DPRD Lingga Kunjungi BPNB Kepri

788
Pesona Indonesia
Kunjungan Komisi III DPRD Lingga ke kantor BPNB Kepri di Tanjungpinang. foto:hasbi/batampos
Kunjungan Komisi III DPRD Lingga ke kantor BPNB Kepri di Tanjungpinang. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Komisi III DPRD Lingga mengunjungi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri di Tanjungpinang. Tujuannnya berkonsultasi tentang rencana membuat muatan lokal untuk bahan pelajaran di bangku-bangku sekolah yang ada di Lingga, Kamis (16/6) kemarin.

Tim yang berkunjung dipimpin Wakil Ketua Komisi III Sui Hiok didampingi Said Agus Marli, Pokyong Kadir, Zakaria, dan Ahmad Nashiruddin, anggota Komisi II. Tamu dari Lingga ini langsung disambut Kepala BPNB Kepri, Suarman. Dalam kesempatan ini, Suarman mengaku bangga dan senang, Komisi III DPRD Lingga mau berkunjung untuk membahas soal kebudayaan, khususnya muatan lokal.

“Kami siap memberikan dukungan agar muata lokal diajarkan dalam pendidikan di Lingga. Sebelum diterapkan tentu butuh kajian yang mendalam tentang materi muatan lokal. Perlu seminar, lokakarya dan pembentukan tim yang menggodok muatan lokal ini,” kata Suarman di Tanjungpinang.

Dijelaskannya, kebudayaan itu bukan hanya kesenian yang ada dalam gambaran orang awam. Kebudayaan itu bermakna luas dengan mencakup berbagai aspek baik itu sistem kepercayaan, kebahasaan, mata pencaharian, sistem pengetahuan, teknologi dan peralatan, sistem kekerabatan dan organisasi kekerabatan dan kesenian. Dalam muatan lokal hal yang tak boleh dilupakan adalah kearifan lokal.

“Setiap daerah memiliki kearifan lokal yang unik. Ini nantinya diserap dalam muatan lokal. Jadi setiap daerah tak sama. Hal yang terpenting selain bahan ajar muatan lokal, tenaga gurunya juga menjadi perhatian. Guru-guru yang latar belakang pendidikannya sejarah, antropologi, sosiologi, geografi dan ilmu budaya lainnya menjadi ujung tombak di lapangan,”sebutnya.

Ditempat yang sama, Pokyong Kadir mengawali sambutan dari Komisi III menyampaikan maksud kedatangan DPRD ke BPNB Tanjungpinang. DPRD Lingga katanya ada rencana untuk membuat kebijakan muatan lokal sebagai mata pelajaran di sekolah yang ada di Lingga. Adanya muatan lokal diharapkan dapat membentuk jati diri generasi muda yang tak lupa akar budaya yang dimiliki Lingga. Dalam muatan lokal itu materinya fokus pada aset budaya yang dimiliki Kabupaten Lingga.

“Kita punya tudung manto. Warisan nenek moyang ini harus diwariskan ke generasi penerus. Banyak nilai-nilai budaya yang ada dalam tudung manto itu. Termasuk juga bagaimana proses pembuatannya, tak semua masyarakat Lingga tahu,”kata Pokyong.

Sedangkan Said Agus Marli, politikus partai Golkar mengatakan, dalam tahap awal pihaknya akan menampung berbagai masukan terkait muatan lokal ini. Nantinya akan digodok lagi dengan dinas terkait. Komisi III, katanya memiliki kekhawatiran kalau tak ada upaya untuk pelestarian nilai budaya melalui muatan lokal, suatu saat aset budaya Lingga akan punah.

“Anak-anak muda Lingga tak tahu lagi apa itu tudung manto, bangsawan, gurindam dan aset budaya khas Lingga lainnya,” tutur Agus Marli yang khawatir keberadaan kebudayaan tersebut tergerus zaman jika tidak dilakukan upaya edukasi lewat bangku pendidikan terhadap generasi baru. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar