Samudra Ensemble Berbuat Baik Lewat Alunan Musik

531
Pesona Indonesia
Aksi panggung Samudra Ensemble yang mengedepankan musik etnik Melayu pengujung tahun lalu. foto:dok
Aksi panggung Samudra Ensemble yang mengedepankan musik etnik Melayu pengujung tahun lalu. foto:dok

Bila senyum saja dihitung sedekah, inikan lagi memperdengarkan musik yang menghibur, bikin senang, sekaligus urun daya buat panti asuhan.

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang.

Ada sejuta cara menanti waktu berbuka puasa. Tidur adalah hal paling sederhana. Waktu terlipat, tapi tidak memberi banyak manfaat. Karena itu, anak-anak muda Tanjungpinang yang kreatif dan berkelebihan tenaga melakukan hal yang lain.

Tiga belas anak muda jumlahnya. Berbagi kerja. Ada yang memetik gitar dan gambus. Menggesek cello dan biola. Menabuh bebano dan tambur. Mereka menamakan dirinya Samudra Ensemble. Minggu (19/6) petang kemarin, mereka mendirikan panggung di Taman Tepi Laut Tanjungpinang.

Lagu-lagu kreasi mereka sudah barang tentu jadi tembang utama yang dinanti. Tak kurang dari 200 orang yang kebetulan melintas memarkirkan kendaraannya. Menyimak aransemen musik melayu yang dikreasikan dalam sajian akustik. Samudra Ensemble tidak sendiri. Mereka ditemani kelompok musik akustik lain. Seperti Laksamana dan Internal. Ada pula penghibur atraksi sulap dan baca puisi. Dipadu trio pewara yang menyajikan acara sambil berpantun, panggung musik urun daya untuk panti asuhan Al-Ghazi Tanjungpinang berlangsung semarak dan riang.

Sementara penggawa Samudra Ensemble menunjukkan kebolehan bermain musik-musik Melayu akustik, anggota LSM Sahabat Sehati beredar di sekitaran panggung. Barang seribu-dua ribu duit terkumpul. Ada pula penonton yang sedari rumah sudah membawa sembako. Bahkan sandang layak pakai pun juga diterima.

“Saya terima infonya di Facebook, jadi ke sini sudah bawa baju-baju milik ayah saya yang masih bagus dan tidak muat lagi,” kata Rudy, salah satu penonton yang datang bersama istrinya.

Bagi Rudy, acara yang digagas Samudra Ensemble ini patut diapresiasi. Mengingat mereka berbagi dengan segala apa yang mereka bisa. Sekali pun hanya menunjukkan kebolehan mereka bermain musik. “Mereka berhasil menghibur dan mengumpulkan banyak orang,” ucapnya.

Adie Lingkepin, pemain biola Samudra Ensemble, menyatakan, sudah lama ia dan rekan-rekannya merencanakan panggung urun daya ini. “Kami berpikir, apa yang bisa kami bagikan di bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini,” ujarnya.

Dari diskusi ke diskusi, akhirnya panggung urun daya bertajukan Mudakan Budaya, Berbagi Sesama ini disepakati. Alasannya sederhana. Kata Adie, rekan-rekan Samudra Ensemble ingin berbagi bahagia dengan memperdengarkan tembang-tembang Melayu gubahan mereka. Karena biasanya, Samudra Ensemble baru dapat mempertontonkan kebolehannya di setiap gawai saja.

“Makanya, sekarang kami yang bikin panggung. Siapapun boleh datang. Kami gandeng juga rekan-rekan yang lain. Konsepnya ngamen. Hasilnya diberikan ke adik-adik panti asuhan yang membutuhkan,” kata musisi muda kelahiran Dabo Singkep ini.

Matahari mulai merendah di balik ujung barat Pulau Penyengat. Bukannya semakin sepi, malah semakin ramai. Di sajian pungkasan, Samudra Ensemble membawakan lagu Progressive Makyong. Lagu andalan yang mendekatkan nama Samudra Ensemble ke hati masyarakat Tanjungpinang. Iramanya rancak. Liriknya mudah dihapal. Beberapa penonton yang semula hanya menyaksikan dengan diam, kini ikut bernyanyi.

“Kala waktu baik….” pekik Rio, sang vokalis.

Inilah Ramadan. Waktu yang paling baik buat berbagi dengan sama. Berbagi lewat apa yang dipunya. Bila belum belum bisa berbagi harta, sepaling tidaknya bisa berbagi bahagia. Dan untuk itu ada banyak cara.***

Respon Anda?

komentar