Akau Potong Lembu Butuh Sentuhan Kekinian

1438
Pesona Indonesia
Pengunjung Akau Potong Lembu Tanjungpinang, ramai jelang sore. foto:yusnadi/batampos
Pengunjung Akau Potong Lembu Tanjungpinang, ramai jelang sore. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera) Akau Potong Lembu Tanjungpinang masih menjadi tujuan kongko-kongko warga lokal maupun banyak wisatawan. Entah itu untuk sekadar bersantai minum kopi atau menyantap makan malam. Setiap malam, pujasera ini tidak pernah sepi pengunjungnya.

Perputaran uang di sini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam semalam bisa menembus angka Rp 20 juta. Tentu saja bakal berlipat ganda bilamana malam minggu tiba. Agak susah mencari meja kosong setelah pukul 20.00 WIB di sana.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang, Pepy Chandra tak menyangkal potensi Akau Potong Lembu sebagai putaran laju roda ekonomi masyarakat Tanjungpinang. “Karena itu, saya selalu berpikir andaikata Akau Potong Lembu ini bisa mendapat sentuhan kekinian,” ungkap Pepy, Senin (20/6).

Apakah sentuhan kekinian itu? Pepy menjelaskan, sebagai tempat favorit kongko-kongko lintas generasi ada banyak hal yang bisa diperbuat. Misalnya dengan membangun gapura selamat datang yang lebih modern dan ditata lebih kasual. “Tidak hanya dengan neon box yang begitu-begitu saja,” ujar politisi perempuan asal Partai Demokrat ini.

Kemudian, lanjut Pepy, adalah penataan lokasi. Semisal turut juga diperhatikan model kursi dan jenis meja yang digunakan. Ditanam pula pohon-pohon rindang. Tentu yang tak dapat dikesampingkan adalah keberadaan toilet yang bersih. Bila benar-benar bisa sedemikian adanya, Pepy meyakini perputaran uang di Akau Potong Lembu bisa melonjak drastis.

“Ini jenis promosi pariwisata yang murah. Kita bangun fasilitas yang bagus, anak-anak muda nanti foto di sana dan meng-upload ke media sosial. Itu kan promosi kekinian juga,” kata Ketua DPC Partai Demokrat Tanjungpinang ini.

Ameng, seorang penjaja kopi di Akau Potong Lembu, sepakat dengan ide Pepy. Kata dia, memang sudah semestinya pemerintah daerah bisa melihat potensi pujasera semacam ini lebih rinci. Alih-alih membikin pujasera baru, memang baiknya mengoptimalisasi yang sudah ada dan menjadi idola masyarakat.

“Patenlah kalau bisa macam itu. Pasti bisa lebih ramai orang ngopi di sini. Orang-orang itu senang, saya pun senang,” katanya lantas teratawa. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar