Bintan Gelar Festival Lampu Cangkok 27-28 Juli

777
Pesona Indonesia
ilustrasi lampu colok
ilustrasi lampu colok

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten Bintan sadar bahwasanya kekayaan potensi adat setempat tidak bisa begitu saja ditanggalkan atas nama pembangunan pariwisata. Malah, kalau perlu diberdayakan untuk memperkaya varian-varian hiburan berlandaskan adat maupun tradisi lokal. Kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bintan, Luki Zaiman Prawira adalah sebua strategi pariwisata terbaru.

“Iya benar kalau turis itu suka nginap di hotel berbintang. Tapi tidak sedikit juga dari mereka yang suka pertunjukan-pertunjukan tradisional. Adat tradisi sudah semestinya tidak dilihat lagi sebagai sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman,” kata Luki, Senin (20/6).

Setelah melalui riset, akhirnya jajaran Pemerintah Kabupaten Bintan bakal menggelar Festival Lampu Cangkok, 27-28 Juli mendatang. Seperti yang ditegaskan Luki tadi, bahwasanya landasan pergelaran festival yang sarat muatan nilai-nilai islami ini merupakat adat yang sudah lama hidup di tengah-tengah masyarakat setempat. Apalagi pada bulan Ramadan.

“Adat yang ada bila dikemas secara baik, dipromosikan lebih luas, bisa menghasilkan dua kerja sekaligus. Pertama, pelestarian. Kedua, pembangunan kepariwisataan,” beber Luki.

Tradisi menyalakan lampu cangkok pada bulan Ramadan memang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu. Umumnya dimulai ketika memasuki malam likur di tanggal 21, 23, 25, dan 27 Ramadan. Hanya saja, karena Pemkan Bintan mengemasnya dalam bentuk festival berbasis kepariwisataan, baru digelar akhir Juli mendatang atau setelah hari raya Idul Fitri.

“Ini memang kali pertama di Bintan yang dikemas jadi festival. Harapannya bisa berkelanjutan,” ungkap Luki.

Sebelumnya, Wakil Bupati Bintan Dalmasri Syam, sudah memimpin kesiapan panitia penyelenggara Festival Lampu Cangkok 2016 ini. Pada rapat tersebut, Dalmasri menjelaskan, festival ini bakal diikuti oleh masing-masing kecamatan yang ada di Bintan. Pegawai serta pemuda kecamatan diminta membuat satu karya seni dari tatanan lampu cangkok yang berbahan minyak tanah serta di tempatkan di lokasi-lokasi strategis.

“Jangan sampai adat yang sedemikian bagusnya ini hilang,” kata Dalmasri. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar