Cina Klaim Nelayannya Tertembak, Jokowi: Pertahankan Kedaulatan RI di Natuna

1571
Pesona Indonesia
Kapal Destroyer Cina saat berlatih di Laut Cina Selatan. Foto: istimewa
Kapal Destroyer Cina saat berlatih di Laut Cina Selatan. Foto: istimewa

batampos.co.id – Pemerintah Cina melayangkan protes resmi kepada Indonesia atas penangkapan nelayan mereka oleh kapal TNI Angkatan Laut di perairan Natuna, Jumat (17/6/2016) lalu. Cina mengklaim, dalam peristiwa itu salah satu nelayan mereka tertembak.

Baca Juga: Cina Ingin Caplok Natuna

Reuters melaporkan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying, mengatakan seorang nelayan Cina mengalami luka tembak. Ini setelah TNI AL melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal nelayan Cina yang sedang menangkap ikan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) perairan Natuna, Jumat (17/6/2016) lalu.

Beruntung, kata Chunying, nelayan yang terluka tersebut berhasil diselamatkan oleh kapal penjaga pantai Cina. Saat ini, nelayan tersebut tengah dirawat di sebuah rumah sakit di Provinsi Hainan, Cina.

Baca Juga:
> China Terus Menggoda, 11 Kapal Curi Ikan di Wilayah Natuna, 1 Tertangkap
> Hamid Rizal : China Sudah Lama Menyusup ke Natuna
> TNI AL Kerahkan Armada Tempur ke Laut Natuna

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Edi Sucipto, membenaran pihaknya melepaskan tembakan peringatan saat menyergap 12 kapal nelayan Cina di wilayah ZEE laut Natuna. Namun dia memastikan, tembakan peringatan tersebut tidak melukai satupun nelayan Cina.

“Angkatan Laut (Indonesia) tidak brutal,” kata Edi Sucipto, Senin (20/6/2016).

Dia menjelaskan, penangkapan nelayan Cina tersebut berawal dari laporan ada 12 kapal ikan asing yang diduga kapal nelayan Cina yang melakukan pencurian ikan di wilayah perairan Natuna.

Ketika dikejar dan didekati oleh KRI Imam Bonjol, lanjutnya, kapal-kapal tersebut melarikan diri. Sesuai prosedur, pihaknya mengeluarkan peringatan berupa imbauan sebelum akhirnya mengeluarkan tembakan peringatan.

“Ketika dilakukan penembakan peringatan ke udara, mereka malah tetap lari, kita berikan tembakan peringatan juga di depannya. Tapi tidak berhenti juga, malah dia mau memutar haluannya, mengancam mau menabrak,” ungkap Sucipto.

Baca Juga: Waspada! Cina Tahu Cadangan Migas Natuna Terbesar di Dunia

Namun setelah melakukan pengejaran, hanya satu kapal nelayan Cina yang berhasil ditangkap. Yakni kapal dengan nomor lambung 19038. TNI AL juga mengamankan tujuh anak buah kapal tersebut.

“Dan tidak ada yang tertembak, dan sekarang semuanya sudah diamankan di Lanal Ranai, Natuna,” katanya.

Dalam kesempatan itu Sucipto kembali menegaskan, pihaknya tak melakukan tembakan ke arah kapal nelayan Cina. Sehingga dipastikan tidak ada nelayan Cina yang berhasil kabur itu yang terluka akibat tembakan TNI AL.

“Kalau ingat senjata yang digunakan cuma sekedar senjata 7,62 atau 12 mm, mana mungkin sampai ke sana. Mereka kan sudah lari semua, kecuali satu (kapal) yang tidak bisa lari,” kata Sucipto.

Aksi protes Cina ini bukan yang pertama kalinya. Mei lalu Cina juga protes atas penangkapan delapan nelayan mereka yang sedang menangkap ikan di Laut Cina Selatan. Namun TNI AL bersikeras bahwa mereka menangkap ikan secara ilegal di wilayah kedaulatan RI.

Baca Juga: Intervensi Militer Cina di Natuna Berlanjut di Mahkamah Internasional

Sementara Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Pribowo mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan untuk menomorsatukan kedaulatan negara dalam menyelesaikan kasus tersebut.

“Pada intinya Presiden memerintahkan untuk mempertahankan kedaulatan wilayah RI,” ujarnya pada wartawan di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (20/6).

Namun begitu, sambung Johan, Presiden juga berpesan agar pemerintah tetap menjaga hubungan baik dengan Cina. Sebab, kedua negara telah memiliki hubungan diplomatik yang erat sejak lama.

Johan menyebut, pemerintah menganggap insiden penembakan nelayan baru klaim sepihak dari Cina. Sebab, Indonesia belum mengetahui secara persis seperti apa kejadian yang sebenarnya.  “Kejadiannya seperti apa, ya kita perlu dengar juga dari versi kita kan,” ucap Johan. (bbc/reuters/antara/jpgrup)

Respon Anda?

komentar