Batam Hebat, Hujan Sedikit Langsung Banjir

1000
Pesona Indonesia
Kondisi banjir di Tiban Indah, Rabu (22/6/2016). Foto: eggi/batampos.co.id
Kondisi banjir di Tiban Indah, Rabu (22/6/2016). Foto: eggi/batampos.co.id

batampos.co.id -Batam memang hebat. Letaknya yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia menjadikan Batam cepat berkembang.

Hebatnya lagi, saking cepatnya pembangunan di Batam, pengawasan terhadap sistem drainasenya buruk. Akibatnya, saat hujan deras mengguyur, sejumlah wilayah di Batam langsung tergenang.

Bahkan, saat ini, wilayah yang terendam air hujan sebarannya makin luas. Batam memang hebat, Huh…

Baca Juga: Banjir Tiban Indah Setinggi Pinggang Orang Dewasa

Pemko Batam selaku yang mengeluarkan izin mendirikan bangunan (IMB) adalah pihak yang paling bertanggungjawab, selain BP Batam yang mengalokasikan lahan dan mengeluarkan izin pemotongan lahan.

Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad, mengaku hal ini. Dia mengatakan, saat ini Pemko Batam belum bisa berbuat banyak dalam mengatasi banjir saat hujan akibat buruknya sistem drainase.

“Penyelesaian banjir sebenarnya pelaksanaan langsung ke sasaran lokasi. Namun sekarang kami menghadapi sejumlah persoalan setelah meninjau lokasi banjir,” kata Amsakar di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (22/6/2016).

Menurut Amasakar, solusi mendasar yang harus dilakukan saat ini adalah membangun drainase induk. Namun selain minimnya anggaran, solusi tersebut belum bisa diwujudkan karena masih terkendala lahan. Karena harus mendapat izin alokasi lahan dari Badan Pengusahaan (BP) Batam.

“Posting anggaran belum dapat disiapkan, apalagi pembangunan drainase bukan di lahan kita,” terang Amsakar.

Amsakar juga menyoroti izin penggunaan lahan dataran tinggi oleh BP Batam kepada para pengembang properti. Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya kesadaran pengembang dalam membangun drainase induk atau primer.

“Setiap ada pembangunan perumahan, pasti disertai banjir. Itu dikarenakan apa, karena tak diikuti dengan drainase induk yang kemudian menyebabkan banjir di perumahan yang sudah ada,” jelas Amsakar.

Apalagi untuk kawasan perumahan di dataran rendah atau area cekung. Sudah barang pasti potensi banjir akan jauh lebih tinggi karena lagi-lagi pihak pengembang tak membangun drainase yang memadai.

Amsakar menyebut, saat ini setidaknya ada lima titik wilayah di Batam yang memiliki potensi banjir cukup tinggi. Antara lain di kawasan Marina, Tiban, Sekupang, Batuaji, dan Batamcenter.

“Wilayah kuali (cekungan, red) itu pasti kerap kena banjir. Seperti di Perumahan Marina itu berada di bawah bukit yang curam, sehingga air langsung mengalir ke bawah. Saya sudah ke sana dan memang sangat memprihatinkan,” jelas Amsakar.

Menurutnya, persoalan banjir di Kota Batam harus diselesaikan secara permanen dan hingga tuntas. Sebab berapa waktu lalu pihaknya sudah mencari cara mengatasi banjir dengan gotong royong bersama. Namun hal itu hanya bersifat sementara dan banjir kembali datang.

“Karena kalau keseluruhan butuh APBD yang sangat banyak. Karena itu tahun depan kita akan selesaikan daerah yang memang kronis,” sebut Amsakar.

Ia juga mengaku sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Batam untuk membuat DED daerah yang kerap terkena banjir. Sehingga nantinya pembangunan drainase tahap awal bisa dilakukan tahun 2017 nanti.

“Di Marina kita juga sudah undang warga untuk membicarakan pembangunan drainase, yang datang hanya 30 persen. Kita berharap pengembang bisa menghimbahkan lahannya sekitar 15 meter untuk pembangunan drainase hingga laut, dan beberapa diantaranya sudah setuju,” beber Amsakar.

Amsakar melanjutkan, pembangunan lima drainase induk sesuai DED yang akan dibuat konsultan dari Korea tidak bisa dilaksanakan di Batam. Sebab, beberapa daerah Batam sudah padat dengan perumahan. Dan pemerintah sendiri tak punya dana untuk menganti rugi lahan ataupun perumahan yang terkena dari drainase induk tersebut.

“Sangat sulit, sebagian daerah Batam sudah padat. Paling yang bisa dibangun drainase induk itu daerah Galang dan Nongsa. Namun mudah-mudahan ada jalan keluar untuk ini,” kata Amsakar.

Pantauan koran Batam Pos (grup batampos.co.id), hujan deras yang mengguyur Kota Batam kemarin merendam sejumlah kawasan pemukiman padat penduduk. Seperti di Sekupang, Batuaji, Bengkong dan wilayah lainnya.

Seperti yang terlihat di Perumahan Tiban McDermot, Tiban Indah Permai, Tibancentre, Tiban Lama, dan ruas jalan di Tibancentre.

Sumari, warga perumahan Tiban Indah Permai mengatakan hujan yang turun sangat lebat membuat aliran parit meluap hingga ke rumah warga. “Tinggi air mencapai satu meter,” ujarnya.

Hal serupa juga dikatakan, Aini warga perumahan Tiban McDermot. menurutnya selama ini tidak pernah terjadi banjir

“Mungkin karena semakin banyak perumahan yang dibangun, sementara muaranya tetap satu,” jelasnya.

Beberapa warga terlihat menimba air yang masuk ke dalam rumah dan menyelamatkan alat elektronik ke tempat yang lebih tinggi.

“Banjir banjir,” ujar salah seorang warga yang sedang membersihkan rumahnya.

Selain itu hujan juga merendam beberapa ruas jalan, seperti di depan jalan Tiban Centre, Sekupang. Akibatnya terjadi kemacetan lalu lintas hingga ratusan meter.

Genangan air masih dijumpai di sejumlah titik-titik jalan di wilayah Batamkota hingga Bengkong. Meskipun hujan baru turun 30 menit, genangan air sudah mencapai semata kaki.

Ini seperti yang terjadi di Jalan Engku Puteri, tepatnya di depan Restoran Saung Sunda Sawargi. Genangan air bercampur tanah sudah merambah ke jalan. Di wilayah tersebut memang tidak ditemui adanya drainase. Meskipun, pohon-pohon besar berjejer di sana.

Selain itu, genangan air juga terjadi di tiga titik di Jalan Laksamana Bintan. Pertama, di depan Sekolah Harapan Utama. Kedua, di jalan dekat gerbang menuju TPU Seipanas. Dan ketiga, di jalan depan Komplek Ruko Tanah Mas, Seipanas.

Di titik depan Komplek Ruko Tanah Mas, sejumlah kendaraan harus mengantre untuk lewat. Mereka menyusuri genangan sepanjang 500 meter itu dengan perlahan.

Sebab, mereka tidak ingin mendapat guyuran air dari kendaraan lain. Seorang pengendara motor sempat berteriak keras ketika ada pengendara motor lain yang ngebut ketika melewati genangan air itu.

“Woi!” serunya.

Sayang, kendaraan yang diteriaki tidak merespon dan terus melaju meninggalkannya. Sejumlah pengendara motor lainnya, melaju sambil mengangkat kakinya dari atas pedal.

Titik itu memang menjadi langganan genangan air ketika hujan turun. Apalagi, Rabu (22/6) itu, hujan turun dengan lebatnya. Meski hujan mulai reda, genangan air masih tersisa.

Jalan yang menurun bisa jadi menjadi penyebab air menumpuk di sana. Drainase sebenarnya ada. Tetapi jauh dari jalan. Di antara drainase dan jalan itu ada lahan yang ditumbuhi rumput liar. (she/ceu/cr17)

Respon Anda?

komentar