Disperindag Usut Kredit Macet Dana Bergulir

659
Pesona Indonesia
Kepala Bidang Koperasi dan UKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Anambas. Sri Dewi. foto:syahid/batampos
Kepala Bidang Koperasi dan UKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Anambas. Sri Dewi. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Kabupaten Anambas terus berupaya untuk mengusut kredit macet dari dana bergulir sebesar Rp 12,5 miliar.

Karena usaha keras Disperindagkop UKM, saat ini sudah menemui titik terang. Dari hasil penelusuran terakhir, Disperindagkop dan UKM berhasil menemukan 536 agunan dari para nasabah dengan besaran kredit macet Rp15 juta hingga Rp20 juta.

Rata-rata agunan yang diserahkan pada saat meminjam uang adalah surat tanah yang masih berupa alashak, Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) Lahan dan sebagainya. “Agunan kita sudah pegang, bagi nasabah yang ingin membayar bisa langsung datang ke kantor,” ungkap Kepala Bidang Koperasi dan UKM Sri Dewi, yang didampingi stafnya Juni.

Diakuinya belum banyak nasabah yang membayar kredit macet itu, jika ditotal baru sekitar ratusan juta saja uang yang sudah dicicil ke Disperindag. Jadi totalnya masih diatas Rp12 miliar. “Kita tidak bisa patok, berapa bayarnya, tapi seberapa mampu orang itu bayar,” ungkapnya lagi.

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Kabupaten Anambas mengusut kredit macet dari dana bergulir sebesar Rp12,5 M, sejak beberapa waktu lalu. Saat itu Disperindagkop dan UKM berhasil menemukan 574 orang nasabah ditambah dengan satu kelompok usaha dan 6 koperasi yang menikmati dana bergulir tersebut. Besaran kredit macet itu pun bervariasi, mulai dari perorangan atau dari UMKM antara Rp 10 hingga Rp 50 juta, sedangkan untuk koperasi berkisar dari Rp 75 hingga Rp 150 juta.

“Semua sudah kita temukan dan jumlah orang serta dananya sesuai dengan yang tertera dalam data yang diberikan Pemkab Natuna kepada kita ketika serah terima aset tersebut. Kita juga tidak menemukan kesulitan dalam penelusuran, karena masyarakat kita memiliki kesadaran yang tinggi,” ungkap Kepala Disperindagkop dan UKM Anambas, Linda Maryati, beberapa waktu lalu.

Linda Maryati, mengatakan, bahwasanya dari data yang ada kemudian dilakukan verifikasi, data terebut sudah akurat karena antara jumlah nasabah dan jumlah kredit macetnya sudah singkron. Namun demikian, Disperindagkop UKM, belum memungut pengembalian dana bergulir dari nasabah tersebut karena sebelum memungut dana bergulir terebut pihaknya berencana akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu supaya mereka tidak kaget.

Menurutnya masyarakat yang meminjam dana bergulir tersebut telah lama bertanya-tanya mengenai kapan mereka harus membayarkan dana bergulir yang mereka pinjam. Pasalnya, pasca pemekaran Kabupaten Kepulauan Anambas, mereka masih bingung kemana mereka harus mengembalikan pinjaman mereka.

“Jadi mereka bukan tak mau bayar uang pinjaman mereka. Tapi mereka bingung, bayar ke Natuna atau Anambas. Kebanyakan menyetor ke pendamping, tapi pendamping juga tidak mengerti. Disatu sisi mereka sudah tidak digaji lagi oleh Natuna, jadi takut salah,” bebernya.(sya/bpos)

Respon Anda?

komentar