Wajib Dibaca Ayah-Bunda: Gaya Pacaran Anak Sekarang Sudah Kelewat Batas

1204
Pesona Indonesia
Ilustrasi pacaran. Foto: JP
Ilustrasi pacaran. Foto: JP

batampos.co.id – Empat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memotret gaya pacaran anak zaman sekarang. Mereka mengambil sampel di Surabaya namun relatif sama dengan daerah lainnya di Indonesia.

Ya, hasilnya gila bener…, sangat mengkhawatirkan. Pacaran sudah dianggap wajar bagi remaja masa kini.

Radar Surabaya (grup batampos.co.id) melaporkan kesimpulan penelitian yang mengambil 300 responden yang tercatat sebagai siswa SMA, SMK, dan MA di Surabaya:

  1. 50 persen responden siswa menyebutkan gaya berpacaran yang disertai dengan berpelukan hingga berciuman dianggap biasa.
  2. Bergandengan sebanyak 20 persen.
  3. Memilih tempat sepi saat kencan 15 persen.
  4. Tidak malu bermesraan di depan umum 10 persen.
  5.  Berhubungan badan menjadi tanda cinta 5 persen.

”Kalau sudah menyatakan lima persen berhubungan badan, berarti hubungan itu sudah biasa,” kata Ketua tim Febrialiani Masitoh yang juga mahasiswa Statistika ITS ketika evaluasi  monitoring oleh Kemenristek Dikti di ITS, Rabu (22/6/2016).

Lalu apa yang menyebabkan mereka seperti itu? Febrialiani mengatakan salah satunya disebabkan tingkat pendidikan orang tua yang mendorong mereka berperilaku yang sudah lewat batas itu.

Sebanyak 49 persen didominasi oleh orang tua yang hanya berpendidikan SD.

“Di sini dapat disimpulkan, remaja dengan orang tua yang berpendidikan SD cenderung memiliki perilaku pacaran dengan tingkat risiko tinggi,” katanya.

Penyebab lainnya, remaja banyak yang terpapar media pornografi sehingga cenderung memiliki perilaku pacaran risiko tinggi, mencapai 35,3 persen (106 responden).

Dikatakan Febriliani, mereka yang terpapar media pornografi, terkait erat dengan tingkat pendidikan orang tua.

Sebanyak 44 persen dari remaja Kota Surabaya yang terpapar media pornografi mempunyai orang tua dengan pendidikan terakhir SD.

Prosentase ini paling tinggi dibandingkan dengan jenjang pendidikan terakhir lainnya.

“Ini artinya, ketidakpahaman orang tua dalam menggunakan media teknologi yang disebabkan pendidikan rendah membuat anak menyalahgunakan fungsinya untuk melihat situs pornografi,” ujar Febriliani.

Selain pornografi, pengaruh teman menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang.

Responden yang memiliki teman dengan pengaruh negatif cenderung beperilaku pacaran risiko tinggi, dan sebaliknya.

Terkait dengan jenis kelamin, sebagian besar responden remaja laki-laki 69,62 persen cenderung memiliki perilaku pacaran dengan risiko tinggi.

Ini sebagai salah satu indikasi bahwa remaja laki-laki cenderung lebih aktif secara seksual dibandingkan dengan remaja perempuan.

Sementara itu, psikolog Unair Bagus Ani Putra mengatakan potensi seksualitas anak meningkat memang seringkali dikarenakan paparan pornografi.

”Sekarang banyak konten konten iklan porno, kalau anak lihat itu maka akan penasaran dan endingnya mencoba. Makanya orang tua harus paham dan memantau perkembangan anak,” pungkas Bagus. (han/no/JPG)

 

 

 

. (han/no)

Respon Anda?

komentar